Trio GEGANA oleh Nopiranti

Trio GeGaNa

(Nopiranti)

Trio GeGaNa (Geri, Galang, dan Narji), tengah dilanda gegana (gelisah, galau, merana). Tiga sahabat pemuda 17 tahunan ini, sedang menghadapi masalah berat yang membuat mereka serasa ingin menghilang saja dari kampung tempat mereka tinggal. Kemanapun mereka pergi, pasti akan mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan. Mulai dari tatapan sinis, ketawa mengejek, umpatan kesal, cubitan gemes, tepukan keras, sampai omelan panjang lebar yang membuat telinga panas dan muka merah padam menahan malu.

Ada satu hal lagi yang membuat mereka lebih merasa malu. Hukuman yang diberikan oleh orang tua mereka. Sejak ketahuan melakukan pelanggaran yang telah mencoreng nama baik keluarga, seperti kompak saja, orang tua mewajibkan mereka memakai helm super aneh yang pernah mereka lihat.

Helm berbahan sreteofoam dengan bentuk yang enggak banget gitu deh. Helm itu harus selalu nangkring di kepala mereka saat mereka tidak sedang ada di atas motor. Karena motor mereka bertiga disita setelah insiden itu. Sekarang, kemana-mana mereka hanya boleh jalan kaki atau naik angkot saja. Dengan helm aneh yang harus selalu melekat di kepala.

Untuk Geri, dia mendapatkan sebuah helm berbentuk tabung gas si melon hijau. Bapak bilang helm itu biar bisa mengingatkan Geri untuk tidak melakukan lagi kesalahan yang sama, menabrak mati hewan yang tidak bersalah.

Geri tuh sebetulnya sudah berusaha menjelaskan sejujur-jujurnya tentang apa yang terjadi. Namun, semua orang tetap tidak percaya. Mereka tahunya Geri sembrono ngebut di jalan kampung hingga menabrak 2 ekor bebek milik Pak Budi yang saat itu sedang melintas.

Padahal saat itu Geri baru pulang dari warnet. Di jalan dia merasa kebelet. Dia ingin cepat-cepat sampai rumah. Saat lewat di depan rumah Pak Budi, Geri tidak menyangka ada bebek yang tiba-tiba lewat. Dia tidak sempat mengurangi kecepatan motornya. Maka terjadilah insiden itu. Dua ekor bebek kesayangan Pak Budi tertabrak dan tewas seketika.

Karena Pak Budi baik, beliau bersedia memaafkan kesalahan Geri dan dengan senang hati menerima uang ganti untung yang diberikan oleh ayahnya Geri.

Namun, hukuman justru datang dari ayahnya. Selain sepeda motornya disita untuk batas waktu yang tidak tentu. Geri juga diharuskan memakai helm hijau itu setiap kali dia keluar rumah.

“Supaya kamu ingat untuk selalu berhati-hati.” Begitu ayah berulang kali menjelaskan pada Geri maksud dari hukuman yang diberikannya.

Lain Geri, lain lagi Galang. Hari itu dia pulang main futsal, Galang mampir ke toko kelontong untuk membeli sabun mandi dan sampo. Berulang kali Galang mengucap salam dan permisi, tapi yang punya warung tidak kunjung keluar.

Saat Galang melongok-longok ke dalam warung, tidak sengaja matanya melihat laci meja tempat menyimpan uang terbuka. Posisi laci itu sudah sangat miring, hampir terjatuh.
Secara spontan tangan Galang bergerak bermaksud akan membetulkan laci itu. Saat tangan memegang laci, tiba-tiba pemilik watung datang.

Posisi Galang saat itu sudah seperti pelaku kejahatan yang tertangkap tangan. Namun, karena Galang merasa tidak bersalah, dia tidak merasa takut. Dia jawab saja apa adanya persis yang dia alami tadi. Beruntungnya pemilik warung percaya setelah beliau mendapati uang yang ada di laci tidak ada yang berkurang. Persis seperti sebelum dia tinggalkan laci itu dalam posisi terbuka hampir terjatuh. Karena dia terburu-buru pergi ke dapur setelah mencium bau gosong nasi yang sedang dia masak.

Masalah datang saat putra pemilik warung menceritakan kejadian itu pada ayahnya Galang. Meski ayah tidak marah, namun Galang tetap mendapat hukuman. Galang diharuskan memakai helm berbentuk ceret air. Ayah bilang itu sebagai pengingat agar Galang selalu berhati-hati dengan isi hati dan kepalanya.

Anggaplah ceret itu otak. Air yang keluar dari ceret itu adalah ucapan dan tindakan kita. Bisa jadi isi ceret kita bersih. Namun saat dituangkan di tempat yang salah, justru akan membuat orang terganggu dan salah faham dengan tindakan kita. Seperti yang Galang lakukan di warung. Meski niatnya baik, tapi caranya kurang tepat. Jadinya kan bisa menimbulkan salah paham.

Nasib Narji tidak jauh beda dengan Galang. Dia juga diharuskan memakai helm berbentuk ceret seperti yang dipakai Galang. Hukuman itu dia dapat setelah sore itu dia didatangi bapaknya Laras. Laras itu tetangga juga teman sekelas Narji. Plus gadis yang sudah lama Narji taksir. Dia sedang gencar melakukan pendekatan pada Laras.

Salah satu maneuver Narji untuk menaklukan hati Laras yaitu mengajak Laras jalan-jalan ke pusat kota hari itu. Menjelang Asar mereka baru pulang. Setelah salat, Narji santai memainkan gawainya. Dia mengirim pesan pada Laras. “ Aku lupa bilang, kalau tadi malam aku memimpikanmu .” Ternyata pesan itu dibaca oleh bapaknya Laras yang langsung datang melakukan introgasi pada Narji di depan kedua orang tua Narji.

Beliau merasa pesan itu sangat tidak sopan disampaikan seorang pemuda pada seorang gadis. Karena hal itu bisa menimbulkan prasangka tidak baik. Bapaknya Laras tidak suka jika anak gadisnya dipikirkan macam-macam dalam khayalan Narji. Beliau juga sangat tidak ingin Narji menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya ada di pikiran anak seusia Narji.

Meski introgasi itu berakhir damai dengan ditandai jabat tangan dan peluk erat antara ayahnya Laras dengan Narji dan kedua orang tuanya, tapi Narji tetap harus menjalani hukuman. Dengan mengenakan helm berbentuk ceret air, ayah dan ibu Narji berharap putra mereka akan lebih berhati-hati terhadap pikiran kotor yang hadir menyapa benak.

Sama seperti perbandingan yang disampaikan ayahnya Galang bahwa ceret itu ibarat pikiran, begitu pula yang ayahnya Narji sampaikan. Beliau mengingatkan Narji untuk selalu mengisi ceret dengan air bersih agar yang keluar juga air yang bersih, segar, dan menyehatkan. Jikapun ceret itu terlanjur terisi oleh air kotor, jangan ragu untuk menumpahkan dan cepat-cepat membersihkannya. Lalu secepatnya diisi lagi dengan air bersih.

Meski awalnya trio GeGaNa merasa malu dan tersiksa dengan hukuman aneh yang diberikan orang tua mereka, namun lama-lama mereka menjadi terbiasa. Selain makna dari hukuman yang akhirnya dapat mereka pahami dengan baik, sekarang mereka justru merasa nyaman dengan helm-helm yang nangkrik di kepala mereka itu. Mereka jadi terlihat unik di tengah keramaian dan jadi viral tentunya dong.

Buktinya sekarang mereka jadi trending topik karena foto mereka bertiga dengan helm-helm bersejarah itu dijadikan tema menulis tantangan RNB Level 3 Batch 3 edisi Sabtu Seru mendeskripsikan gambar. Gambar super unik yang sungguh-sungguh membuat para peserta tantangan memeras otak mencari ide yang pas dan sesuai dengan ketentuan dewan juri. Trio GeGaNa, kalian memang keren!

Sabtu, 19 Desember 2020

Nulisbareng/Nopiranti

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan