Senja

Tombo Ati dan Mental Health oleh Denok Muktiari

Ingat banget sama lagunya Opick “Tombo Ati”. Sebuah pesan yang kelihatannya ringan tapi dalam sekali maknanya. Bagaimana menata hati, sebagi pusat pembawa emosi seseorang. Jika hati tenang, raga pasti ikut terbawa tenang, demikian pula sebaliknya.


Berbagai media menyebutkan banyaknya kasus pembunuhan, bunuh diri, kejatan seksual, penggunaan narkoba, serta penyakit sosial yang lainnya bersumber pada keadaan mental yang tidak normal. Bahkan kasus seperti ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, anak-anak usia sekolah dasar dan lanjutan pertama seolah-olah menjadi target pencucian otak. Hingga timbul satu permasalahan yang disebut mental health.


Masih ingat kasus siswi SMP (Sawah Besar, Jakarta) yang membunuh seorang bocah tetangganya sendiri karena terinspirasi film horor? Pembunuhan ini betul-betul telah direncanakan dengan matang. Apa penyebabnya hingga seorang anak tega melakukan pembunuhan? Sungguh di luar akal pikiran.


Ahli psikologi mengatakan banyak penyebab sehingga terjadi peristiwa tersebut. Karena tidak mungkin satu kejadian muncul murni secara tiba-tiba tanpa adanya faktor yang mempengaruhi. Suatu keadaan di mana mental seorang menjadi sakit atau dikatakan mental ill. Baik itu faktor internal maupun eksternal.
faktor internal seperti faktor genetik misalnya orang tuanya punya riwayat gangguan mental, faktor biologis bawaana, fungsi otak, dan sifat bawaan. faktor ekternal seperti lingkungan, pola asuh, dan stimulasi yang diterima di lingkungan.


Data WHO mengatakan bahwa prosentase tingginya gangguan mental di tempati pada anak muda. Hal ini sangat erat hubungannya dengan media sosial. Memang secara fungsinya media sosial sangat banyak manfaatnya, ini jika dapat digunakan dengan bijak. Namun, seiring berjalannya waktu penggunaan media sosial seperti bomerang yang berbalik menyerang diri sendiri.


Gaya hidup ala media sosial. Hidup tak seperti kenyataannya seperti ditunjukkan dalam media sosial menjadi salah satu pemicu gangguan mental di era milenial. Sehingga jika gaya hidup ala media sosial tidak terpenuhi jiwa jadi sakit. Stres, menutup diri, berbohong, dan hal-hal yang lebih parah lainnya.
Anehnya gangguan mental ini jamaah loo.
Tingginya gangguan mental yang kini lebih banyak dirasakan generasi milenial bertambah lagi dengan kondisi sekarang yang belum stabil. Kondisi di tengah pandemi Covid 19 seakan memperparah kejiwaan manusia di seluruh dunia. Kondisi ekonomi, pendidikan, sosial, dan semua bidang sektor anjlok karena pandemi.

Memang mental yang sehat adalah kebutuhan utama dalam melanjutkan aktivitas berikutnya. Demi terpenuhinya kebutuhan mental yang sehat maka menunya juga harus tepat.

Surah Ar Ra’d ayat 28 yang artinya,
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya degan mengingat Allah hati menjadi tentram.”
Bagimana mengingat Allah? Seperti lirik lagunya Opick “Tombo Ati” atau obat hati.

Tombo ati iku lima perkarane
Kaping pisan maca Qur’an lan maknane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang soleh kumpulana
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sapa bisa ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

Malang, 10 Oktober 2020

NulisBareng/DenokMuktiari

0Shares

Tinggalkan Balasan