Tiktok

Tiktok? Apaan Tuh? (Athena Hulya)

Tiktok? Apaan Tuh?

            Memasuki era digital banyak sekali aplikasi-aplikasi media sosial bermunculan. Mulai dari aplikasi berkirim pesan, aplikasi berbagi foto dan video bahkan adapula aplikasi lipsinc pembuat musik atau video pendek yang belakangan ini banyak digandrungi sebagian besar kawula muda, Tiktok. Aplikasi yang awal mulanya bernama Musical.ly ini berbasis di Tiongkok yang dikembangkan oleh Bytedance September 2016 silam.

            Pada kuadran pertama tahun 2020 Tiktok dinobatkan sebagai aplikasi yang banyak diunduh secara global dan penggunanya yang memiliki banyak pengikut di aplikasi tersebut disebut dengan Artis Tiktok. Artis Tiktok yang tekenal di dunia ialah Charli D’Amailo, sedangkan di Indonesia orang yang terkenal karena Tiktok ada Bowo Alpenliebe dan Nuranni yang kini kehadirannya sudah merambah ke dunia pertelevisian dan youtube.

            Tiktok menjadi aplikasi yang dipermasalahkan oleh berbagai negara, seperti India, Hongkong, dan USA. Di Indonesia aplikasi ini pernah di blokir oleh Kemenkominfo (Kementerian Komunikasi dan Informasi) pada Juli 2018. Menurut menteri Rudiantara, banyak konten negatif yang berbahaya untuk anak-anak. Namun setelah dilakukan negosisasi dan terblokir selama seminggu, Tiktok dilepas kembali dengan berbagai perubahan.

            Perubahan-perubahan itu meliputi penghapusan konten negatif, membuka kantor penghubung pemerintah serta diterapkannya batasan usia, anak dibawah 13 tahun dilarang menggunakan aplikasi atau platform tersebut. Seberapa bahayakah Tiktok sampai anak-anak di bawah umur tidak diperkenankan mengaksesnya? Apakah memang benar di Aplikasi Tiktok banyak sekali konten negatif yang dapat merusak? Yuk, kita simak dari sudut pandang penulis.

            Menurut penulis sebenarnya aplikasi Tiktok tidaklah membahayakan, yang salah adalah sebagian pembuat kontennya (content creator) yang membuat konten-konten negatif itu. Mereka menyalurkan “keliaran” otak mereka dengan cara yang salah hanya karena ingin dilihat banyak orang, terkenal dan menjadi viral. Banyak pula para creator Tiktok yang mengedukasi seperti mencontohkan berbagi pada sesama, membagi tips and trick memasak/makeup atau edukasi lain yang bernilai positif.

            Sebenarnya bukan hanya tiktok yang seharusnya dipermasalahkan, tapi semua aplikasi dunia maya berpotensi besar menjadi sumber permasalahan individu atau kelompok. Seperti whatsapp, facebook atau twitter yang sangat sering terjadi penyebaran berita-berita hoax yang menggiring opini dan berakhir perang maya antar kubu, instagram yang karenanya sebagian kecil orang memposting foto atau video yang seharusnya tidak terpublikasi dan dilihat khalayak ramai sehingga menjadi perdebatan.

            Ya, semua aplikasi berpotensi menjadi ladang kesalahan atau permasalahan. Sebagai orang yang hidup di era digital seharusnya menimbang, memfilter dalam menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut sehingga meminimalisir terjadinya kesalahan yang berimbas negatif untuk diri sendiri maupun orang lain, dan juga mengedukasi serta mendampingi anak-anak jikalau mereka melihat media sosial agar tidak melihat apa yang seharusnya tidak dilihat oleh anak seumurannya.

            Sekali lagi, yang salah bukanlah aplikasinya tetapi cara penggunaan dari orang-orang yang menyalahgunakannya, bukan hanya Tiktok melainkan semua aplikasi. Gunakanlah platform media sosial dengan benar dan sewajarnya agar tidak ada yang dirugikan. Jika bermain Tiktok adalah hobi maka lakukakan hobi tersebut dengan sebaik-baiknya tanpa mengurangi norma-norma yang berlaku, khususnya norm-norma yang ada di Indonesia.

15 Agustus 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan