Terserah Mama Ajah

TERSERAH MAMA AJAH! oleh Putri Zaza

TERSERAH MAMA AJAH!

Sejak kecil aku sudah didogkrin untuk menuruti apa maunya mama. Mama adalah pemegang kendali atas keluarganya. Walau, seperti itu mama tidak pernah memaksakan apa yang ia mau tapi, secara otomatis aku selalu mengiyakan.

“Kamu mau masuk jurusan apa?” tanya mama.

“Sastra bahasa kalau enggak, ya, tata busana, Ma.”

“Loh, kenapa enggak lanjutin ajah di jurusan komputer.”

“Iya, nanti aku cari jurusan yang pas ya, Ma.”

Akhirnya akupun menuruti maunya mama, masuk ke jurusan Sistem Informasi. Jurusan ini masih bisa kujangkau dengan kemampuanku. Ya, aku lulusan SMK Teknik Komputer Jaringan jadi Sistem Informasi masih saling berkesinambungan.

“Kuliah di Bekasi ajah, ya, temenin Mama.”

“Mmm… Iya, Ma.”

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Semua adikku mondok di kota Bogor. Jadi, hanya aku yang menetap di rumah. Padahal saat itu aku sedang melakukan pendaftaran online di salah satu universitas Semarang. ‘Yah, gagal, deh!’ batinku menghela napas panjang.

Enggak jauh berbeda dengan urusan jurusan yang akan kumasuki calon suamipun sama. Mama sangat mendambakan menantu dari suku Jawa. Namun, setiap kali dekat dengan laki-laki tidak pernah yang dari suku Jawa dan sudah dipastikan berakhir kandas karena tidak direstui. ketika mama tahu ada laki-laki keturunan Jawa main ke rumah sudah dapat dipastikan antusiasnya terlalu tinggi padahal kami hanya berteman.

“Nih, nanti kateringnya semua makanan Jogja ajah, ya.” Sambil menyerahkan brosur WO yang diambil sepulang dari undangan.

“Emang nikahnya sama orang Jogja, Ma?”

“Ya, siapa tahu, kan.” Aku hanya bisa menganggukkan kepala mendengar ucapan mama.

Sisi positifnya mama selalu mewanti-wanti aku sebagai anak perempuan untuk menjaga kehormatan karena dengan begitu juga akan menjaga kehormatan keluarga. Mama selalu bilang ‘jangan mau dimanfaati oleh laki-laki, jangan mudah disentuh jangan mudah terbuai mereka hanya manis di mulut’.

Ya, selalu begini. Diatur oleh mama. Tapi, jika memang itu bisa menjadi ladang pahalaku untuk berbakti kepada mama. Aku ikhlas dan rela selalu menuruti keinginan mama.

Sepertinya halnya perkerjaanku yang sejak lulus kuliah lebih tertarik dengan dunia online marketing dua tahun kurintis hingga penghasilannya dapat memenuhi kebutuhanku. Akhirnya kututup usaha ini untuk menuruti keinginan mama yang memintaku untuk melamar di perusahaan yang sedang membutuhkan admin.

Tapi, kembali lagi orang tua ingin melihat anaknya bahagia, mungkin, mama belum puas dengan pencapaianku dengan bisnis online yang kujalani. Walau begitu, mama bisa menjadi sahabat yang siap mendengar keluh kesah anaknya.

Aku hanya berharap kelak aku mendapatkan suami yang dapat mendukung apa yang aku suka dan berharap kami memiliki visi dan misi yang sama. Agar dapat kurealisasikan semua mimpiku yang tertunda.

Cibitung, 6 Juni 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

Tinggalkan Balasan