Teror Gadis Berwajah Sadis oleh Nopiranti

Teror Gadis Berwajah Sadis

(Nopiranti)

Ada yang aneh dari gerak-gerak Gadis di sore menjelang Magrib itu. Dia nampak murung. Duduk diam membisu di depan jendela kamarnya. Menatap nanar ke arah halaman rumah di seberang jalan, rumah Lisna. Rumah besar dengan kebun bunga indah di depannya itu nampak ramai oleh senda gurau anggota keluarga yang sedang bersantai.

Tak berkedip Gadis terus mengamati objek di depannya. Dahinya nampak berkerut. Terdengar gemeretak gigi atas dan bawah yang saling bergesekan. Seperti ada kesal yang tertahan. Kedua tangan Gadis terkepal dengan erat. Dadanya turun naik dengan cepat menandakan napas yang dihela dengan tergesa.

Gadis lalu bangkit. Kepal tangan kirinya meninju tembok samping jendela dengan kuat. Lalu terdengar pekik geram keluar dari bibir tipisnya. Sesaat tatap tajam dari bola mata bulat Gadis yang terbelalak lebar itu memperhatikan sekali lagi orang-orang yang ada di rumah seberang. Kali ini sesungging senyum sinis terukir di pipi tirus Gadis yang berambut lurus hitam panjang itu. Aroma kebencian nampak pekat tersirat.

Bergegas Gadis menuju lemari pakaian yang ada di samping tempat tidur. Dari tumpukan paling bawah Gadis mengambil sehelai baju. Cepat-cepat baju itu dimasukkan ke dalam tas ransel yang sudah dia siapkan. Setelah itu langkahnya tertuju ke meja rias. Setelah berpikir sejanak, Gadis lalu mengambil beberapa benda-benda yang juga langsung dimasukkan ke dalam tas. Gadis kemudian keluar kamar setelah menutup pintu perlahan.

Langkah kaki yang terbalut sepatu kulit hitam mengantarkan Gadis ke pintu belakang. Saat tangan kanannya akan membuka pintu, gerak Gadis terhenti. Ujung matanya menangkap benda berkilau yang hadirkan kilatan aneh di bola mata Gadis. Selengkung bulan sabit sempurna terlukis di bibir Gadis. Cepat-cepat diraihnya salah satu benda indah yang tergantung di samping tempat cuci piring. Diusapnya perlahan benda tipis, panjang, dingin, berkilau yang terbuat dari bahan besi yang kokoh itu. Sebuah kecupan lembut dari bibir Gadis, mendarat di atas pisau terpanjang di antara deretan pisau lain yang ada di dapur yang sunyi senyap itu.

Tanpa ragu Gadis kemudian meneruskan niatnya, keluar lewat pintu dapur. Kegelapan malam mulai menyapa. Hanya cahaya remang-remang saja menyinari halaman rumah Gadis yang lampu penerangnya mati sejak kemarin.

Samar-samar terdengar lantunan puji-pujian dari mesjid kompleks, pengantar menuju azan Isya. Langkah Gadis tak terhenti. Meski dengan mengendap-endap, Gadis terus berjalan menuju samping rumah yang ada di seberang jalan.

Satu jam berlalu. Tak nampak sedikitpun bayangan Gadis. Entah kemana perginya dia. Sementara di rumah seberang jalan yang tadi dituju Gadis tak nampak aktifitas yang mencurigakan. Pintu depan tertutup rapat. Ruang tamu sepi. Hanya di ruang tengah ada ramai orang berlalu lalang.

Ada Ibu, Lisna, dan kakak perempuan Lisna yang asyik menonton TV. Ayah Lisna dan kakak laki-laki Lisna sedang menikmati obrolan penuh kelakar yang mengocok perut. Namun sekejap suasana berubah. Lampu teras, ruang tamu, dan ruang tengah tiba-tiba mati. Cahaya remang hanya nampak dari dapur dan lantai atas.

Semua orang ribut. Saling memberi perintah untuk memeriksa aliran listrik. Saat suasana di bawah belum terkendali, semua kembali dikejutkan dengan suara teriakan dari lantai atas. Entah siapa yang mengomando, semua serentak bergerak ke arah tangga menuju lantai 2.

Sekali lagi teriakan terdengar. Berasal dari kamar ujung, kamar si bungsu Sheila. Ayah Lisna sigap langsung bergerak membuka pintu. Namun sayang pintu terkunci dari dalam.

Teriakan terdengar lagi. Semua semakin panik. Ayah dan kakak laki-laki Lisna lalu berinisiatif untuk mendobrak saja pintu itu. Dalam komando Ayah, pintu akhirnya bisa terbuka juga setelah tiga kali dorongan keras dikerahkan oleh mereka.

Saat pintu terbuka, semua mata terbelalak kaget. Terlihat Sheila, adiknya Lisna yang masih duduk di kelas 7, sedang meringkuk di pojok kamar sambil menangis tersedu. Di depannya nampak sesosok gadis berambut hitam panjang terurai dengan poni yang menutupi sebagian wajah tirus berkulit putih pucat.
Ekspresinya datar, cenderung dingin dan sadis. Tatap matanya tajam seperti hendak menguliti orang-orang yang ada di depannya.

Pakaian panjang berwarna putih yang dikenakannya nampak kusut berantakan. Yang paling membuat panik semuanya adalah sebuah benda yang dipegang di tangan kirinya. Sebuah pisau besi yang berkilau tertimpa cahaya lampu. Membuat merinding bulu kuduk.

“Mamah, Sheila takut, Mah. Takut sama kak Gadis,” rintihan Sheila menambah tegang suasana.

“Iya Sheila, Sayang. Sabar ya. Ada Mama di sini. Kamu aman, Nak,” ujar Mamahnya Lisna mencoba memberikan kekuatan pada anak bungsunya yang terlihat sangat mengkhawatirkan itu.

“Gadis, kamu kenapa, Nak? Ada apa ini? Kalau Gadis ada masalah, kita bisa bicara. Mungkin Om dan Tante, juga semua saudara di sini bisa bantu,” Ayahnya Lisna mencoba berkomunikasi dengan sosok menyeramkan yang ternyata adalah Gadis itu.

“Kasih pisaunya sama Om ya, Nak. Pisau itu bisa melukai kamu. Mungkin juga melukai kami semua. Kasih sama Om ya pisaunya, Sayang.” Perlahan Ayah bergerak mendekati Gadis yang masih saja bergeming di tempatnya berdiri tadi.

“Jangan mendekat! Atau pisau ini aku pakai untuk melukai tanganku!” Pekik Gadis yang disusul dengan gerakan tangannya meletakkan pisau di urat nadi pergelangan tangan kanannya, sungguh membuat semuanya terkesiap.

“Jangan nekad, Gadis! Istigfar, Nak!” Ayah berusaha kembali menenangkan Gadis.

Namun semakin Ayah membujuknya, Gadis semakin beringas. Pisau itu dikibas-kibasnya ke arah semua orang. Senyum getir terlukis di wajahnya yang semakin pucat.

“Aku benci kalian semua! Kalian pantas mendapatkan teror ini!” Gadis kembali berteriak histeris.

Ibunya Lisna syok mendengar teriakan Gadis. Beliau lalu terjatuh lemas. Untung ada kakak perempuan Lisna yang sigap menangkap tubuhnya sehingga tidak terjerembab ke lantai.

“Gadis! Kamu sudah keterlaluan ya! Apa salah kami sama kamu sampai kamu tega melakukan ini pada kami?” Lisna yang kaget melihat ibunya hampir pingsan, tersulut emosinya.

Keberaniannya timbul.
Secepat kilat Lisna maju menerjang Gadis. Gadis pun terjatuh ke lantai. Pisau di tangannya terlempar, tepat di depan kaki Ayah Lisna. Beliau langsung sigap mengambil pisau itu.

“Kembalikan pisau itu! Itu pisauku! Aku butuh pisau itu!” Gadis bangkit lalu bergegas hendak merebut pisau dari tangan Ayah Lisna. Namun langkahnya dijegal oleh kaki Lisna.

Kembali Gadis terjatuh.
Saat Gadis lengah itu Ayah memutuskan lari ke luar kamar untuk mengamankan pisau agar tidak lagi diambil Gadis.

Melihat Ayah yang lari membawa pisaunya, Gadis nampak sangat marah. Dia bangkit menyusul ayah dengan menerjang semua orang yang menghalangi jalannya.

“Kembalikan pisau itu!” Teriak Gadis pada Ayah yang sudah sampai di lantai bawah.

“Tidak akan! Om akan membuang benda ini!” jawab Ayahnya Lisna dengan tegas.

“Jangan! Jangan dibuang! Aku butuh pisau itu! Tolong, jangan dibuang,” teriakan Gadis berubah menjadi isak tangis.

Nampak Gadis berlutut seraya menangis tersedu, memohon –mohon pada Ayah Lisna untuk mengembalikan pisaunya.

“Tolong kembalikan pisau itu. Aku butuh untuk memotong benda ini,” ucap Gadis sambil melirik ke arah belakang.

Nampak Lisna berjalan ke arahnya membawa sebuah kue bertuliskan “Selamat Ulang Tahun, Ayah”.

Tepuk tangan diiringi lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan kompak oleh Lisna, Ibunya, kakak dan adiknya, bergema dari lantai atas. Membuat bengong Ayah yang tak menyangka teror menegangkan tadi hanyalah sandiwara belaka.

Mau marah, Ayah tak tega. Mau senyum, Ayah tak bisa. Hanya kedua lengannya di rentangkan lebar menyambut keluarga tercinta yang turun dari lantai atas. Tawa dan tangis pun meledak, mencairkan malam mencekam yang sesaat membuat Ayah jantungan.

Sabtu, 12 Desember 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan