Terima Kasih, Abi oleh Nopiranti

Terima Kasih, Abi

(Nopiranti)

Kemarin, Umi harus pergi dari pagi sampai sore menghadiri suatu acara. Sebelum berangkat, tiga bocah sudah ramai minta dibelikan sesuatu saat Umi pulang nanti. Si sulung Yusuf minta dibelikan headset. Anak yang ke dua, Thoriq, minta dibawakan mie ayam. Sementara si bungsu, Bilqis, ingin dibelikan ikat rambut dan bando.

Selesai acara sekitar jam 2 siang, Umi bergegas pulang. Tidak lupa sebelumnya mampir dulu ke kios mie ayam lalu ke toko headset. Merasa sudah tak ada lagi barang yang harus dibeli, Umi pun cepat-cepat naik angkot.

Sesampainya di rumah hanya ada Yusuf dan Thoriq. Sementara Bilqis belum pulang sekolah diniyah.

Ketika Umi sedang salat Asar di kamar, terdengar suara riang putri kecilnya mengucap salam. Begitu tahu Umi sudah pulang, si bungsu berteriak.

“Yeay, asyik, Umi pulang! Beli tidak ya ikat rambut dan bandonya?”

Mendengar ucapan si bungsu, Umi yang baru saja selesai salat, merasa sangat kaget. Umi lupa membeli ikat rambut dan bando!

Belum hilang kaget Umi, si bungsu sudah datang mendekat ke posisi Umi yang masih duduk di atas sajadah. Senyum mengembang di wajah cantik putri satu-satunya itu.

Namun sejurus kemudian mimik mukanya langsung berubah cemberut saat Umi berterus terang lupa membeli pesanannya.

Kebiasaan Bilqis kalau marah, dia akan memalingkan wajah, menghindar, menggerutu sendirian, atau memukul-mukul barang yang ada di dekatnya. Berulangkali terlihat tatapan kesalnya pada Umi.

“Sini Umi peluk, Sayang,” ucap Umi bermaksud meredakan amarah Bilqis.

Bilqis malah semakin menjauh. Dia duduk sendiri di kursi depan. Kakinya dihentak-hentakkan ke lantai. Tanda marahnya belum hilang.

Umi tak banyak berkomentar. Umi biarkan saja Bilqis meredakkan kekesalannya. Namun semakin lama suara hentakan kaki Bilqis semakin keras. Oh, bukan berkurang rupanya. Tapi rasa kesal Bilqis semakin bertambah.

Tiba-tiba Abi keluar dari kamar. Lalu bergegas menghampiri Bilqis.

Kebiasaan Abi kalau ada anak yang merajuk, Abi akan mengeluarkan jurus andalan. Menggoda dengan kata-kata lucu dan menggelitik badan anak.

Biasanya anak akan berontak, tak suka digodain Abi. Tapi Abi tak hilang akal. Lanjut jurus berikutnya. Abi gendong anak. Lalu menjatuhkannya perlahan di atas karpet. Menggelitiknya lagi dengan rambut atau jenggot lebatnya.

Pecahlah tawa anak. Hilanglah cemberut dan meluruhlah rasa kesal. Ramai akhirnya ayah dan anak itu bergelut mesra saling serang dengan jurus masing-masing.

Setelah suasana mencair dan perasaan anak kembali normal, baru Abi dan Umi memasukkan sugesti positif.

Umi terlebih dahulu meminta maaf atas kekhilafannya memenuhi janji. Lalu Abi menguatkan bahwa tak baik marah-marah pada orang tua. Kalau hari ini mereka lupa, Abi meminta supaya anak banyak mendoakan semoga esok hari atau lusa janji mereka bisa dipenuhi.

Bilqis pun tersenyum ceria setelah mendapat kepastian kalau besok pagi sebelum berangkat ke sekolah, Umi dan Bilqis akan mampir ke warung tetangga yang biasa menjual aneka ikat rambut dan bando.

“Terima kasih, Umi, Abi. Alavsyu.” Bilqis memeluk Umi lalu mencium dengan lembut pipi Umi.

“Abi ga dicium juga?” Tanya Abi penuh harap.

Bilqis berbalik ke arah Abi. Secepat kilat sebuah kecupan mendarat di pipi Abi. Secepat kilat pula Abi menangkap badan Bilqis. Memeluknya erat. Menggelitiknya lagi dengan jenggot Abi yang khas.

Pecah lagi tawa bahagia sore itu. Menghangatkan rumahku surgaku. Terima kasih Abi, untuk perjuangan kerennya menaklukan hati Bilqis. Alhamdulillah.

Jumat, 23 Oktober 2020
NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan