Tentang Surat Cinta dan Kebenaran Cinta (Emmy Herlina)

“Suratku itu lukisan luka di hati
Jangan kau hempas, meski tak ingin kau sentuuuh
Kutahu pasti hatimu tahu, walau tak baca suratku.”
(Suratku oleh Hedi Yunus)

***

Sayang, kau tahu apa makna surat cinta bagiku? Lagi-lagi kumenghela napas mendengar kata “surat cinta”. Kau tahu kan, aku sama sekali tak suka dengan pria romantis. Pria yang pandai merangkai kata apalagi melalui lisan. Bagiku lelaki semacam itu tak lebih dari pembual. Dia terbiasa melontarkan keromantisan yang tak tulus dari lubuk hati.

Apa itu surat cinta? Ingatanku melayang pada pernyataan pertama yang pernah kuterima ketika duduk di bangku SMU.

“Emmy, aku suka kamu.”

Pertama kalinya kuterima melalui telepon rumah. Tak puas dia tuliskan sepucuk surat untukku. Centil, karena kertasnya berbau harum. Disertai banyak simbol hati.

“Aku tahu di antara kita berdua terdapat jurang perbedaan yang begitu besar, namun aku tetap ingin melaluinya!”

Kalimat itu tertulis di sana. Hatiku tersentuh, namun untuk sesaat. Kau tahu kan saat itu aku belum bisa mencintai diri. Bagaimana mungkin aku bisa percaya, seseorang akan menyukai diri yang tidak kusuka? Bagaimana kubisa percaya pada Atta?

***

Surat cinta kedua kuterima dari seorang sahabat. Lelaki berwajah murung, pendiam, dan ternyata mempunyai masalah keluarga. Ha-ha-ha. Tidak perlu dahimu berkerut seperti itu! Dari dulu aku memang mempunyai ketertarikan terhadap orang-orang yang bermasalah. Entah dari mana bermula, yang pasti aku yang mulai lebih dulu menyapanya. Lantas kami saling bertukar cerita, termasuk tentang sang cinta pertama.

Lama-lama, dia ungkapkan rasa dalam suatu goresan tinta.

“Aku tidak ingin kehilanganmu. Perasaanku lebih dari sekadar sahabat.”

Tersentuh sekali lagi. Sulit untuk percaya, sekali lagi. Bukankah ia telah mengungkap sebuah nama yang menjadi cinta pertamanya? Seseorang yang digilainya sejak awal berada di SMU? Lantas, aku siapa? Posisiku berada di mana? Ini semua terjadi karena aku menyapanya lebih dulu, kan? Karena aku yang menemaninya hingga sejauh ini. Jika tidak, jika aku tidak melakukan semua itu, apakah Aman, lelaki itu, akan tetap menganggapku ada?  

Sayang, trauma pengabaian yang terjadi sejakku masih di dalam kandungan, telah menjadikan kita berdua terluka!

***

Tapi ceritaku tentang sepucuk surat cinta masih berlanjut. Adalah seorang yang kuanggap sebagai kakak sendiri. Impian memiliki seorang kakak lelaki baik hati terpenuhi olehnya. Kupanggil Aa’, karena dia berdarah Sunda.

“Aa’ tak ingin kehilangan Adik Aa’ yang berhijab!”

Goresan tinta yang membuatku terharu. Sekali lagi. Apalagi yang satu ini berbeda. Kami bisa bersama dalam 24 jam keseharian. Dia bisa kuanggap bagian dari keluarga.

Terlebih Aa’ adalah lelaki pertama yang menghadiahiku sebuah jilbab, di saat aku belum menyadari pentingnya menutup aurat. Aa’ yang kusayangi. Aa’ yang tidak ingin kehilanganku dan akupun tak ingin kehilangan dirinya. Tapi sebagai kakak, tapi sebagai adik. Bukan dia sang ksatria yang kuharap akan memboyongku keluar dari penjara berkedok istana.

Baik Aa’, Aman, bahkan juga Atta, menyadari hal itu. Mereka mengetahui satu rahasia yang kumiliki. Kau tahu kan, apa yang kumaksudkan, Sayang?

***

“What’s in a name? that which we call a rose. By any other name would smell as sweet?” (William Shakespeare)

“Apalah arti dari sebuah nama. Sebuah bunga dinamakan mawar, jikalau kita menyebutnya selain “mawar” bukankah wanginya tetap sama?”

Kalimat itu tertorehkan dalam surat cinta berikutnya yang kuperoleh, Sayang. Di saat diri sudah terlalu muak akan kemunafikan. Terkungkung dalam sebuah kubangan ketidakpercayaan pada diri.

Surat cinta berupa ketikan, bukan tulisan tangan. Berbeda dengan surat sebelumnya yang pernah kuterima. Surat yang selalu kunanti tanpa lelah. Berbeda dengan surat sebelumnya yang pernah kuterima. Surat itu ditujukan untukku dari seorang ksatria. Berbeda dengan surat sebelumnya.

Sayang, aku bertemu dengannya kembali setelah hampir satu dasawarsa menahan rasa. Setelah kupikir perasaan ini tak akan terbalas olehnya, karena kehadiranmu. Aku yang tertatih memakai topeng kedewasaan, berpura menyamakan dengan usia. Padahal selamanya aku tak bisa menyembunyikanmu. Menganggapmu tidak ada di dalam diri. Aku yang pernah membenci bahkan berniat membunuhmu pelan-pelan. Yang hanya berujung pada kesakitan tak mampu tertahankan. Bila kau mati, sesungguhnya aku juga mati. Tak ada pilihan selain belajar menerima dan mencintai dirimu.

Sayang, apa kau juga sudah muak dengan kata-kata “sayang”? Aku hanya ingin memastikan bahwa aku yang sekarang sudah benar-benar menyayangimu, sosok inner child yang bersemayam dalam diri. Sosok yang dulu kukhawatirkan tidak akan bisa diterima oleh dia yang mengaku cinta. Sosok yang seringkali menghambatku dalam hubungan.  

Ketahuilah, Sayang. Cinta yang sebenarnya seharusnya ikut menerimamu sebagai bagian dariku. Cinta yang sebenarnya tak cukup tertulis dalam sepucuk surat, namun memerlukan keberanian menjadikanku secara utuh sebagai bagian dari hidupnya. Cinta yang ternyata telah kudapatkan dari dia sejak pertama mengenal cinta, hingga genap 11 tahun kebersamaan dalam mahligai rumah tangga. Dia yang hanya bisa mengutip bukannya merangkai kegombalan karena tak pintar berkata manis. Dia lelaki yang jauh dari keromantisan. Dia, sang cinta pertama yang juga menjadikanku sebagai cinta pertamanya. Begitulah ….

***

P.S: Cintailah diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Aku sayang kamu, diriku.

Suratku oleh Hedi Yunus
0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan