Tentang Kalian oleh Nopiranti

Tentang Kalian

(Nopiranti)

Walau berasal dari rahim yang sama, tak menjamin kakak beradik akan memiliki kepribadian dan kegemaran yang sama. Seperti anak saya, tiga kepala, tiga kegemaran.

Yang sulung, 14 tahun, suka menyendiri. Asyik dengan gawai atau notebooknya. Mencipta dunia cerianya sendiri dengan membaca aneka kisah komik Jepang. Kadang sampai lupa waktu. Jika tidak diingatkan untuk salat, baca Al quran, mandi, atau makan, sering dia terlambat mengerjakan hal-hal tersebut.

Saya coba mengarahkan hobi bacanya untuk lanjut pada kebiasaan menulis. Saya minta dia untuk mereka ulang cerita-cerita yang sudah dibacanya. Saya katakan bahwa pengetahuan yang sudah dia dapat dari membaca, bagusnya dituliskan lagi. Selain sebaik pengingat untuk dirinya senidri, juga supaya orang lain bisa ikut mendapatkan pengetahuan juga sama seperti dia.

Namun sepertinya si sulung belum begitu minat untuk menulis. Sampai saya bujuk untuk ikut pelatihan menulis daring khusus anak, dia tetap belum mau. Padahal saya berharap besar dia bisa ikut jejak saya menyukai dunia menulis. Saya yakin dia punya bekal menulis karena dia sudah suka membaca. Membaca itu kan kuncinya menulis. Semakin banyak yang kita baca, akan semakin baik dan berkualitas tulisan kita.

Meskipun si sulung masih belum tumbuh minat menulisnya sekarang, saya tidak akan bosan untuk terus membujuknya mencoba. Siapa tahu besok lusa dia berubah pikiran.

Anak kedua, 11 tahun, lain lagi hobinya. Setelah sempat keranjingan mancing ikan, sekarang kesukaannya beralih pada berburu belut. Hampir tiap hari dia pergi ke sawah dengan teman-temannya mencari belut. Setelah banyak belut yang didapat, dia jual pada tetangga yang membutuhkan. Lumayan ternyata harganya. Lelahnya sedikit terobati saat rupiah dia dapatkan di tangan.

Sambil bergurau saya berseloroh padanya,

“Hebat anak Umi, sudah bisa belajar mencari uang sendiri. Meskipun itu uang kotor ya,” canda saya.

“Kenapa uang kotor, Umi?” tanya si ganteng yang kulitnya semakin berwarna coklat terkena sengatan matahari itu.

“Iya, kan dapatnya dari kotor-kotoran di sawah nyari belut,” jawab saya sambil tersenyum geli. Anak saya pun ikut tertawa.

“Enggak kok, A, Umi becanda. Itu uang bersih. Uang yang Aa dapat dengan bersusah payah. Umi doakan semoga Aa tumbuh menjadi seorang pekerja keras, kreatif, dan pantang menyerah untuk mendapatkan apa yang Aa cita-citakan ya, Sayang,” tutur saya mencoba meluruskan pemahaman, memberinya penghargaaan, dan menguatkan semangatnya.

Anak ketiga, 7 tahun, lain lagi hobinya. Dia senang bermain dengan teman-temannya. Menurunkan banyak barang untuk bermain peran. Kadang main masak-masakan dengan daun, air, dan tanah sebagai bahannya. Rumah kotor dan berantakan itu sudah pasti. Kadang dia dan teman-temannya bersegera membereskan lagi setelah selesai main. Kadang juga lupa, meninggalkan begitu saja bekas mainnya berantakan.

Sesekali dia seru-seruan bermain ala petugas salon yang mendandani pelanggan. Kadang menjadi guru dan murid yang asyik saling memberi tugas ala-ala guru di sekolah. kadang hanya duduk-duduk saja bercerita aneka kisah seru dunia anak yang unik dan menyenangkan.

Bebas aja ya Sayang. Bermainlah dengan baik. Saling menghargai sesama teman. Saling belajar dan memberi semangat. Sebab masa kecil yang indah akan menjadi bekalmu menapaki dunia remaja dan dewasa yang menyenangkan dan bahagia.

Untaian doa kebaikan tak pernah henti terurai sepanjang jalan untukmu, anak-anakku. Semoga kalian menjadi anak yang salih salihah. Yang mengenal Allah dengan baik. Yang mencintai Allah dan Allah pun mencintai kalian. Yang takut hanya pada Allah. Yang bersama-sama dengan Umi dan Abi mengumpulkan limpahan bekal kebaikan untuk pulang ke kampung akhirat kelak. Bersama lagi dalam abadi yang indah di bawah naungan kasih sayang Allah. Aamiin ya mujibassaailiin.

Jumat, 11 Desember 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan