Tentang Aku dan Kamu oleh Nopiranti

Tentang Aku dan Kamu

(Nopiranti)

Melihat gambar sandal jepit ini, kok aku tetiba ingat kita ya? Kita? Maksudnya? Iya, kita, aku sama kamu. Eit, jangan marah dulu dong Beib kalau aku samakan kamu dengan sandal jepit ini. Kan aku juga sama berarti nampak seperti itu. Kita kan sudah satu paket. Aku itu bagian dari kamu. Kamu juga separuh diriku. Acie, so sweet banget sih. Ya iyalah. Soalnya kan ada aku, si hitam manis alami. Tanpa bahan pengawet tanpa pemanis buatan. Uhuk. Jadi terbatuk syantik begini.

Jadi, sungguh deh Beib aku enggak ada maksud menyindir atau merendahkan salah satu di antara kita. Justru dari penampakan gambar inilah aku menyadari banyak keindahan tentang kamu, tentang aku, tentang kita, yang sering tidak aku sadari.

Aku dan kamu itu ya kurang lebih seperti penampakan sandal jepit itu. Jangan dulu cemberut dong Beib. Nih, aku jelaskan ya samanya kita dengan sandal itu.

Aku dan kamu itu sederhana. Seperti sandal itu. Apa adanya. Namun tetap menyimpan sesuatu yang menyiratkan ada apanya, keistimewaan.

Kamu sih sebetulnya yang kadar sederhananya ajib banget. Buat kamu yang penting itu fungsinya. Soal harga, merek, desain, atau warna, itu mah nomor kesekian. Yang penting pas dipakai, kamu cocok, dan nyaman, sudahlah kelar urusan.

Aku jadinya harus bisa mengimbangi kamu. Walaupun naluri kadang meronta-ronta ingin tampil kekinian dan selalu up to date, tapi rasa malu mengekangku. Sederhanamu mengajariku untuk selalu belajar mencipta cantik tidak melulu mengandalkan polesan atau tempelan lahiriah.

Sederhana itu tidak selalu jelek. Mewah pun bukan jaminan jadi menarik. Semuanya berawal dari hati yang bersih, pikiran yang jernih, tingkah laku yang memesona, dan lisan yang selalu terjaga.

Aku dan kamu itu unik. Seunik penampakan sandal jepit di gambar itu kan? Kamu dengan sikap santai dan lebih banyak menderaikan tawa renyah sekalipun dalam situasi gawat dan genting. Beda dengan aku yang lebih gampang panik, mudah galau, dan lebih sering cemberut dan merenggut kusut jika ada halang dan rintang yang menjegal perjalanan biduk kita.

Beda inilah justru yang menyatukan kita. Yang menjadikan kita akur dan damai. Sebab saat aku panas, kamu mendinginkanku. Enggak kebayang deh kalau kita sama-sama mudah tersulut. Mungkin biduk kita sudah lama berasap dan terbakar.

Aku dan kamu itu saling melengkapi, tak terganti, selalu saling mencari dan saling membutuhkan. Persis sandal jepit itu. Yang kanan pasti butuh yang kiri. Yang kiripun pasti selalu ingin bersama yang kanan. Karena kita kan sepasang. Harus ada dua. Ada aku dan ada kamu. Kalau kamu tak ada, hampa terasa melanda. Kalau aku tak ada, kamu pun kelimpungan rasa gundah gulana. Ahay, segitunya kita.

Aku dan kamu itu kadang bersih dan menyenangkan untuk dilihat. Kadang kotor dan berantakan membuat keki dan kesal. Persis sandal jepit itu. Kadang bersih, nyaman sekali dilihat dan digunakan. Kadang terciprat air, terkena lumpur, atau lengket oleh tanah. Namun tetap saja kita pergunakan. Apapun keadaannya, kita tetap setia bersama beriringan.

Aku dan kamu itu kadang sesekali hilang dan lepas dari pengawasan, atau sesekali terbawa pengaruh tapak lain. Kadang aku sendiri yang egois atau kamu seorang yang keras kepala lebih mendengarkan pendapat lingkungan dan mengikuti apa kata mereka. Pergi sejenak meninggalkan satu sama lain. Kadang kita berdua yang sama-sama terpengaruh keadaan dan terbujuk rayu mengikuti kata orang.

Aku itu ibarat sandal sebelah kiri dan kamu itu sandal sebelah kanan. Saat diam kita memang bisa berdampingan, rapi, dekat dan merapat. Indah dilihat. Namun kadang jika tak pandai menempatkan diri, dalam diampun kita bisa saling berjauhan. Aku di sana, kamu di sini. Tak rapi. Tak dekat. Tak mau merapat. Berantakan. Sungguh tak sedap dipandang.

Saat bergerak melangkah kita membutuhkan keseimbangan dan keharmonisan. Tidak bisa kita memaksakan diri bergerak bersama. Berat dan ribet. Jatuhnya bukan melangkah. Tapi melompat. Satu dua lompatan mungkin masih bisa kita lakukan.

Namun petualangan kita itu menyusuri jalanan panjang, berkelok, berbatu, turunan, tanjakan, dan becek berlumpur. Kalau harus dilalui dengan melompat terus, duh enggak terbayang deh lelahnya kita. Lama pula pastinya kita sampai di tujuan.

Yang terbaik kita lakukan adalah melangkah bergantian terayun dalam rentang irama yang sama. Kadang kamu sebelah kanan yang mulai melangkah terlebih dahulu, memimpin petualangan kita. Sesekali akulah yang sebelah kiri memulai langkah menyongsong cita kita. Jangan saling serobot ingin melangkah lebih dulu. Bisa saja kaki kita tersandung, pijak kita oleng, dan kita terjatuh.

Berkomunikasilah. Sampaikan aba-aba yang jelas siapa yang akan melangkah lebih dulu, seberapa cepat ingin melangkah, ke mana arah langkahnya, dan kapan akan berhenti. Tujuanpun tercapai. Kaki dan sandalpun selamat.

Jelas kan sekarang Beib kenapa aku menyamakan kita dengan sandal jepit itu. Indah, kan?

Sabtu, 5 Desember 2020.

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan