Temu Kangen Para Kontributor WFH (Serial “Ada Maaf Untukmu”)

Temu Kangen Para Kontributor WFH (Serial “Ada Maaf Untukmu”)

WFH. Bukan singkatan dari Work From Home. Melainkan Writing for Healing. Yup. Ini adalah salah satu event dari Mbak Ribka ImaRi, salah seorang PJ saya yang juga merupakan seorang terapis. Berawal dari mengikuti pelatihan yang sama, Mindfulness Parenting, kami saling mengenal, namun dengan jalan sedikit berbeda. Mbak Ribka melanjutkan menjadi terapis, yang sebenarnya tadinya merupakan impian saya juga. Namun, saya menuruti passion terbesar saya di atas segalanya, yaitu menjadi penulis. Karena saya tahu, Mbak Ribka bisa menulis yang baik, maka, saya ajak beliau ikut serta, yang Alhamdulillah akhirnya beliau menyanggupi menjadi PJ antologi.

WFH begitu istimewa, karena bukan hanya terdiri dari 1 event, bahkan berkembang menjadi 10 event. Bertajuk “Ada Maaf Untukmu”, serial WFH ini memang mengangkat bagaimana peserta antologi melakukan release emosi masing-masing. Memendam kemarahan ternyata tidak baik, termasuk untuk kesehatan fisik kita. Menulis adalah salah satu cara menyalurkan emosi tersebut.

Bukan merupakan hal yang mudah, beberapa kontributor mengakui merasa terpicu saat mencoba menuliskannya. Flashback kembali luka lama kadang menimbulkan penolakan dalam tubuh. Ada yang sampai muntah, jika tidak merasa kuat. Namun, flashback itu adalah awal mula dari pemulihan, yang juga pernah diajarkan oleh terapis.

Pelan-pelan di-release, supaya pada akhirnya kita sanggup untuk menerima. Bukan menerima perlakuan mereka yang telah menyakiti kita di masa lalu, melainkan menerima bahwa ada kejadian menyakitkan yang memang pernah menjadi bagian dari pengalaman hidup. Menerima, sehingga pada saat flashback itu terjadi sekali lagi, tubuh kita tak menunjukkan reaksi penolakan lagi.

Wow. Sulitkah? Tentu saja! Namun mengumpulkan peserta antologi serial WFH, menyadarkan saya, bahwa ternyata saya benar-benar tidak sendiri. Lihatlah, sekian banyak orang memiliki luka batinnya sendiri. Dan di sinilah kami, berkumpul pada suatu malam, melalui “Temu Kangen Para Kontributor WFH”.

Acara diselenggarakan online, tentu saja, mengingat kontributor berasal dari berbagai daerah, bahkan ada juga yang di luar negeri. Kami berjumpa daring melalui Zoom, pada hari Rabu, tanggal 7 April 2021, jam 07.00 WIB, yang lalu. Satu per satu kontributor pun hadir. Ada Mbak Rere yang juga menyediakan zoomnya, ada Dokter Joko, ada The Wawang, Mbak Ria, Mbak Lina, dan banyak peserta lainnya.

Acara dibuka oleh Mbak Ribka selaku PJ antologi. Mbak Ribka menceritakan begitu luar biasa proses hingga terciptanya event ini. Dari 10 event yang pada akhirnya di-press menjadi 4 event. Namun tetap saja luar biasa. Tantangannya adalah tidak semua kuat menceritakan luka batinnya. Ada yang begitu terpicu hingga akhirnya memutuskan untuk mundur. Mbak Ribka mengatakan, beliau sangat memahami jika terjadi seperti itu. Tetapi yang paling menyebalkan adalah saat ada yang bersikap sok sibuk dan belakangan jadi susah dihubungi.

Wah, kalau yang begini sih, saya juga jadi ikut kesal. Seolah tidak menghargai waktu orang lain. PJ maupun saya sendiri selaku Manajer Area pun juga punya kesibukan masing-masing, tapi tidak menjadikan kami lalai akan tanggung jawab. Yah, menjaga komitmen memang sulit bagi sebagian orang.

Lalu, saya sendiri juga ikut sharing cerita. Saya menceritakan pengalaman hidup sebagai seorang yang tidak pandai bicara.

“Saya bisa nulis lancar, karena seperti itulah cara saya berbicara, kalau disuruh ngomong, ya, saya ndak bisa, walau ke sananya pelan-pelan akhirnya bisa, tetap saja, saya tidak lah sama seperti teman-teman yang bisa bersikap ramah sama orang-orang, sapa sana sapa sini, that’s not me!”

Saya menceritakan pengalaman saya menulis, bahwa writing for healing itu berbeda dengan menulis untuk dipublikasikan. Writing for healing kalau mau menulis sampai tuntas, blak-blakan, ya di buku diary. Jangan ada yang baca! Namun, jika tulisan hendak dipublikasikan, kita boleh-boleh saja menyensor beberapa bagian, jangan diceritakan secara gamblang. Bahkan, difiksikan juga tak masalah. Saya sendiri pun kadang memfiksikan dari pengalaman hidup sendiri, menjadi sebuah cerita, dengan tokoh yang namanya berbeda, latar belakangnya berbeda, dan enggak semua pengalaman, saya berikan kepada tokoh tersebut. Ya intinya, persiapkan diri bahwa tulisan akan dibaca oleh orang lain, ya. Jangan sampai terlalu mengumbar aib juga.

Sama halnya saat menulis buku solo saya yang berjudul 12 6 1 (12 Tahun 6 Ruangan 1 Impian), tidak semua pengalaman saat bekerja saya tuangkan di sana. Kalau dipikir-pikir, kejadian sebenarnya lebih pahit. Termasuk dalam hal bahwa saya pernah dikatakan apatis, bahkan autis oleh teman-teman, itu tidak saya ungkap di buku tersebut. Pelecehan seksual juga pernah saya alami di tempat kerja. Tetapi, rasanya tak perlu ditulis secara gamblang. Biarlah beberapa cerita tidak usah diungkapkan.

Lanjut ke cerita dr. Joko. Saya kagum dengan beliau. Di saat saya hanya menulis 5 naskah, beliau menulis 9 naskah! Luar biasa sekali, kan. Ck. Ck. Ck. Dr. Joko bercerita bahwa ketika release dan menuangkan dalam satu cerita, maka yang terjadi kemudian adalah mengalir dengan sendirinya. Akhirnya menyusullah naskah naskah yang lain. Keren sekali. Dengan kesibukan profesi dan lainnya bisa menyempatkan menulis.

Kemudian Mbak Rere juga berbagi pengalamannya. Hal yang juga baru saya ketahui, ternyata seorang Mbak Rere dulunya begitu introvert dan tidak mau menjadi pusat perhatian. Ya, kadang memang kita tidak tahu apa yang sudah dialami seseorang. Apalagi kalau baru kenal setelah dewasa, ketika dia sudah tertatih memperbaiki diri sendiri, dan kita bertemu saat sudah melihat hasil dari usahanya jungkit balik bertahan hidup.

Saya merasa lega sekali. Begitulah. Tidak ada alasan untuk merasa iri pada pencapaian orang lain. Kita tidak pernah tahu apa yang sudah dilaluinya untuk meraih pencapaiannya tersebut.

Akhirnya acara harus diakhiri setelah satu jam bersua melalui daring. Terlebih mengingat Mbak Rere sebagai host berdomisili di Singapura yang waktunya satu jam lebih awal. Anak-anak kami juga sudah ribut, karena emaknya belum juga tidur. Ha-ha-ha. Pada sesi foto-foto di akhir cerita, anak-anak pun ikut serta.

Anyway, saya turut lega karena bisa menyempatkan waktu mengikuti Zoom ini. Jadi kepikiran, gimana nanti kalau bukunya sudah launching, kita buat lagi, yuk, semacam peluncuran buku serial WFH yang dibuka untuk umum, dengan jumlah peserta terbatas. Wah. Pasti seru ya teman-teman!

0Shares

Tinggalkan Balasan