Mengikat Janji

TEMAN DI MASA LALU oleh Putri Zaza

TEMAN DI MASA LALU

Triiing…

Secara sepontan mata ini melirik layar ponsel yang menyala, terlihat notifikasi dari instagram, kuabaikan sejenak untuk menyesaikan urusan membersihkan sisa-sisa make up dan debu yang melekat di kulit wajah. Lelahnya bekerja membuat tubuh ini ingin segera bertemu kasur yang dirindukan. Tapi, tak bisa kuabaikan tubuh yang kotor penuh debu dan polusi ini mengotori singgasana ternyaman. Kusambar handuk tergantung tepat di belakang pintu kamar dan masuk ke kamar mandi.

Tiba-tiba terlintas sekilas tentang mimpi tadi malam, ‘Rizal’ batinku mengucap nama yang masuk ke dalam mimpiku. Tak biasanya aku memimpikan teman lama, mungkin, aku hanya rindu masa sekolah.

“Lan, mandi udah mau Magrib, jangan main hp terus!” teriak ibu dari kamarnya.

“Udah, ini baru selesai, Bu,” jawabku yang baru keluar dari kamar mandi.

Akhirnya bisa menikmati kasur yang empuk nan nyaman ini, setelah kutunaikan kewajiban sebagai hamba-Nya. Segera kucek ponsel ternyata notifikasi dari ‘Rizal’, ia sudah seminggu memberikan emoji in love di setiap IGS (instagram story) yang kuunggah. Kali ini ingin kubalas dengan emoji sweating with laughter.

[Apa kabar, Lan?] tak lama ia membalas menanyakan kabar.

[Baik, Zal, Lu, gimana kabarnya?] balasku singkat. Percakapan basa-basi antara teman lama yang tak kunjung berjumpa, delapan tahun lalu Kami adalah teman satu kelas yang tak saling sapa hanya sekedar kenal. Entah, ada angin apa hingga si cowo popular waktu zaman sekolah ini menyapaku di instagram.

Obrolan kami beralih ke whatsapp masih seputar pekerjaan, saking lelahnya aku terlalap dan meninggalkan Rizal di sebrang sana menunggu balasan.

***

Pada minggu kedua kami saling tukar informasi melalui whatsapp, Rizal mengajak untuk bertemu. Setelah beberapa kali gagal bertemu karena wabah pandemi covid-19 ini, akhirnya kami bertemu di restoran cepat saji. Nampak sepi, hanya ada satu, dua orang yang mengisi kursi.

Padahal biasanya tempat ini paling rame pada akhir pekan. Tempat adalah pilihan ternyaman untuk bertemu dan berbincang dengan teman berjam-jam bahkan, ada yang mengerjakan tugas kuliah karena akses internet yang lumayan cepat.

“Lan, gua tuh udah suka sama lu dari zaman sekolah. Dulu, gua punya prinsip enggak mau pacaran sama teman sekelas, nah, karena sekarang ada kesempatan gua mau utarain perasaan terpendam gua. Mau jadi ya jadi perempuan yang berarti setelah ibu di hidup gua?” tanya Rizal serius. Matanya menatap penuh harapan.

Aku jadi salah tingkah, kurasa perlu menimbang sebelum menjawabnya. Akhirnya kuminta waktu sebelum memutuskan.

***

“Perkenalkan, saya Rizal teman sekolah Wulan, Bu, Pak,” ucap Rizal memperkenalkan diri. Di hadapan kedua orang tuaku, Rizal berusaha sangat sopan. Beruntung kedua orang tuaku menerima dengan baik.

“Ada keperluan apa ya, Nak?” tanya sang ibu.

“Cuma, mau silaturahmi, Bu.”

Nampaknya, ibu menyukai Rizal dan sepertinya, ibu setuju. Jika kudekat dengannya. Akhirnya aku mulai luluh dengan melihat keseriusan dalam diri Rizal dan kuingin mencoba membukakan hati untuk lelaki kurus ini. Teman satu kelas yang bahkan tak pernah saling tukar obrolan sebelumnya.

Cibitung, 19 Juli 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

Tinggalkan Balasan