Kuburan

Tears in Heaven oleh Siti Rachmawati M.

Tears in Heaven (Siti Rachmawati M.)

Would you know my name

If I saw you in heaven?

Would it be the same

If I saw you in heaven?

I must be strong and carry on

Cause I know I don’t belong here in heaven

=====

Sebait tembang lawas, menemani pagiku. Semilir angin yang berembus, mengelus lembut wajahku. Kusibak anak rambut yang menerpa pipi. Kenangan akan masa kecil di kampung halaman terkuak kembali.

Dulu, aku bisa bebas berlarian ke sana ke mari. Aku tidak mau tahu bapak kelelahan sepulang bekerja di sawah. Aku juga tidak pernah membantu ibu memasak di dapur. Kuhabiskan hariku sepulang sekolah hanya bermain, bercanda ria, bersenang-senang bersama teman-teman.

Namun kehidupanku berbalik 180 derajat, ketika suatu malam lumbung padi yang terletak di belakang rumah, mengalami kebakaran. Ibu membangunkan aku yang masih terlelap dalam mimpi. Kemudian menyeretku keluar dari rumah, berusaha menyelamatkan.

“Kamu di sini dulu ya, Ndhuk?” Ibu melihat sekilas ke arah rumah. “Jangan ke mana-mana!” kata Ibu seraya mengusap pipiku lembut. Netranya tajam menatap ke arahku.

“Ibu mau ke mana?” Mataku mulai berkaca-kaca karena takut.

“Ibu mau membantu Bapak, menyelamatkan benda-benda berharga!” Tanpa menunggu jawaban, Ibu berlari menuju rumah. Si jago merah yang sepertinya sedang larut dengan amarahnya, melalap seisi rumah tanpa ampun. Tiba-tiba terdengar, “Krekkk …! Buuumm …!!!”

“Aaa … Bu, to-looong a-kuuu …!” pekik Bapak dengan suara keras.

“Bapak … Bapak … tolong … to-looongg …!” seru Ibu dengan suara lantang. Namun suaranya timbul tenggelam, bersaing dengan kobaran api dan suara benda yang berderak berjatuhan.

Warga berdatangan, namun terlambat. Sebuah kayu penyangga genting roboh, menimpa tubuh Ibu yang sedang berusaha menolong Bapak. Kuatnya embusan angin, membuat api semakin membesar. Warga tak mampu memberikan pertolongan. Aku harus menyaksikan tubuh Bapak dan Ibu terpanggang api hidup-hidup.

“Ba-paakk … I-buuu … !!!” teriakku histeris. Aku berusaha lari, namun kuatnya pegangan beberapa warga di lengan. Membuatku tertahan. Kusaksikan rumah yang penuh kenangan itu, roboh. Rata dengan tanah. Aku juga harus menyaksikan kepergian Bapak dan Ibu di depan mata.

=====

Kini, aku sebatang kara. Tak punya saudara, tak punya rumah, baju yang kupakai pun hanya melekat di tubuh. Di saat aku kebingungan, tak tahu harus ke mana. Datanglah Bik Darti menawarkan bantuan.

“Ndhuk, kamu ikut aku saja ke kota.”

“Ta-tapi … “ Aku bingung juga sedih. Di satu sisi, aku ingin selalu bisa mengunjungi pusara Bapak dan Ibu. Tapi di sisi lain, aku tidak mungkin hidup dari belas kasihan tetangga selamanya.

“Sudahlah, tidak usah pakai tapi-tapian!” cetus Bik Darti.

“Kalau aku ikut Bibik, siapa yang akan mengurus makam Bapak, Ibu?”

“Percayalah, Bapak dan Ibumu pasti lebih senang kalau kamu tidak sedih terus,” kata Bik Darti meyakinkan,“mereka akan bangga, kalau kamu bisa bangkit lagi.”

“Baiklah, Bik.” Kini tekadku bulat, niatku sudah mantap. Akan kuukir masa depanku dengan tanganku sendiri.

Ketika menuju kota, tak lupa Bik Darti mengajakku ke pasar. “Kamu harus punya baju ganti. Mosok bajumu cuma itu, ndak ganti-ganti.”

Aku cuma mengangguk mengiyakan.

“Ini aku belikan baju. Kelak kalau kamu sudah kerja, kamu ganti uang Bibik,” kata Bibik tersenyum.

“Iya, Bik. Terima kasih.” Kucium punggung tangan Bik Darti.

Tiga pasang baju, sepasang sandal, tas, dan seperangkat alat kecantikan sudah berpindah ke tangan. Aku menangis terharu. Karena Bik Darti bukan saudara, namun mau menolongku dengan tulus.

Setibanya di rumah Bibik, “Ndhuk, namamu siapa tadi?”

“Sandiyem, Bik.”

“Mulai sekarang, namamu cukup Sandy gitu aja. Oke?”

Sekali lagi, aku cuma mengangguk mengiyakan.

“Dan satu lagi. Mulai sekarang, panggil Mami! Jangan Bik Darti. Paham?”

“Paham, Bik. Eh, Mami.” Meski dalam hati dipenuhi berjuta pertanyaan, aku tidak berani mengungkapkan.

“Oke, sekarang kamu istirahat.” Kemudian Mami meminta salah seorang gadis yang ada di situ, “Nel, tolong antar Sandy ke kamarmu. Mulai hari ini, kalian sekamar!”

“Ya Mi,” kata gadis yang bernama Nelly itu.

=====

Kini lima belas tahun kemudian, aku sudah menjelma menjadi gadis cantik. Tubuhku semampai, kulitku kuning langsat, hidungku mancung. Aku menjadi primadona di sini. Mami memperlakukanku sangat istimewa. Iya, tentu saja. Karena aku sudah menghasilkan pundi-pundi emas untuknya.

Namun, pernahkah Mami memberiku kesempatan beristirahat sehari saja? Tidak pernah sama sekali! Aku disuruhnya bekerja setiap hari dan setiap malam. Aku ibarat sapi perah baginya. Bahkan saat letih melanda, akupun masih dipaksa bekerja.

“Mi, aku lelah dan letih. Bolehkah aku free sehari ini saja?” pintaku.

“Tiii-dak. Booo-leh!” hardiknya.

“Mi, please ….” pintaku memohon.

“Sekali Mami bilang tidak boleh, ya tidak boleh! Paham!”

“Iya, Mi.” Aku mengangguk lesu.

=====

Would you know my name

If I saw you in heaven?

Would you help me stand

If I saw you in heaven?

I find may way through night and day

Cause I know I just can’t stay here in heaven

=====

Bait berikutnya, melantun lembut. Aku teringat Bapak dan Ibu. Ingin rasanya bertemu mereka berdua. Namun bisakah? Mereka sudah di alam yang berbeda. Diriku pun berlumur dosa. Aku terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur. Sudah beberapa bulan ini, badanku semakin kurus dan kering.Tidak sedikit dokter yang datang untuk mengobati. Namun sakit ini tak kunjung sembuh. Mami seolah tidak peduli dengan keadaanku. Kini Nelly sudah menggantikanku sebagai primadona.

Dengan sisa-sisa tenaga yang masih tersisa. Kuraih mukena yang masih tersimpan rapi di lemari. Kucium dengan penuh rasa kangen. Aku lupa, kapan terakhir kali mengenakannya. Segera kuambil air wudu. Sajadah panjang kubentangkan. Kupanjatkan doa, memohon ampunan atas semua salah dan dosa yang selama ini kuperbuat. Aku yakin, Allah Azza Wa Jalla masih membukakan pintu tobat untukku.

Aku ingat, dulu Pak Ustaz di kampung pernah menyampaikan bahwa Allah SWT berfirman, “Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih.” (QS. Hud:90).

=====

Kini kesehatanku berangsur membaik. Aku putuskan kembali ke kampung halaman. Kutinggalkan ibu kota dan kutanggalkan semua atribut yang melekat.

Kumulai lembaran baru. Mengajar ngaji di surau, menjahit pakaian, menerima pesanan kue-kue. Semua pekerjaan kuterima, asal halal. “Semoga Allah SWT merima taubatan nasuha-ku, menerima ibadahku juga hijrahku. Semoga aku bisa bertemu Bapak dan Ibu di surga. Aamiin.” Doaku dalam hati di penghujung salat malamku.

Selesai

Grobogan, 26 April 2020

Jumlah kata : 973 kata

Nulisbareng/Siti Rachmawati M.

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan