Tato Gambar Matahari oleh Ade Tauhid

Tato Gambar Matahari
By Ade Tauhid

Masih masa Pandemi, Maktri sedang tercenung menatap hujan dari jendela ruang tamu.
Sepi banget.

Paksu masih ngantor, jam empat nanti baru pulang. Sedang kak Ais dan dek Radit, kedua anak Maktri yang manis manis itu sedang kuliah di luar kota. Sebulan sekali kadang lebih mereka baru pulang.

Maktri jadi kangen sama anak anak. Kangen canda dan tawa mereka, kangen kejahilan mereka. Ih, Maktri jadi melow.

Maktri teringat beberapa tahun silam, waktu itu anak-anak masih belia, kak Ais usianya baru delapan tahun dan dek Radit berusia lima tahun.

“Mami tato itu apa, sih?” tanya dek Radit kala itu.

“Gambar-gambar yang ada di badan orang lo, Dek, itu namanya tato,” jawab kak Ais sebelum Maktri sempat menjawab.

“Gambarnya juga ada di tangan itu khan, Kak? Kayak penjahat gitu ya Kak?” tanya dek Radit polos.

Mami tersenyum.
“Kata Bu guru kita nggak boleh bikin tato ya, Mi?” tanya Radit lagi.

“Iya, enggak boleh. Dosa,” sahut kak Ais.
“Dosa. Seperti penjahat.”

“Hus, bukan. Tidak semua orang yang punya tato itu penjahat. Ada orang baik, cantik tapi punya tato kok,” terang Maktri.

“Berarti boleh dong bikin tato, kok kata bu guru agama nggak boleh Mi?” tanya dek Radit.

“Iya, memang enggak boleh. Karena proses pembuatan tato itu menyakitkan. Sedang agama kita melarang untuk menyakiti diri kita sendiri,” jelas maktri.

“Bener dosa dong Mi.”
“Ho-oh.”

Tapi gara gara pertanyaan tato ini Maktri jadi kumat iseng sama anak anaknya. Pingin ngerjain anak-anak. Nge-prank gitu hihi.

“Sebentar yaa, Mami mau ke kamar mandi dulu,” kata maktri sambil berjalan ke kamar mandi.

Anak anak menunggu. Tak lama kemudian Maktri keluar lagi dari kamar mandi.

“Anak anak sini deh. Mami punya rahasia,” kata maktri sambil mengajak anak anaknya duduk di sisi tempat tidur, kedua tangan Maktri merangkul bahu kesayangannya itu.
.
“Rahasia?” tanya kak Ais dan dek Radit barengan.

“Rahasia apa Mi?” tanya dek Radit. Dia turun dari tempat tidur dan berdiri dekat Maktri. Radit mirip sekali dengan Maktri. Tukang kepo. Ha ha ha.

“Tapi jangan bilang bilang ya. Karena ini rahasia. Janji?” kata maktri sambil senyum senyum.
Maktri tau kak Ais juga mulai kepo.

Anak anak semua begitu, kalau dengar kata rahasia langsung pingin tau.

“Iya mi janji.”
“Janji mi, rahasianya apa?”
“Ok.”
Lalu Maktri mendekatkan mulutnya di kedua telinga anak anaknya.

“Mami punya tato,” kata maktri.

“Apa?” Kedua anak itu saling berpandangan.

“Iihh Mami dosa!” teriak dek Radit.
“Iya dosa itu Mi,” sahut kak Ais.

“Psssttt!” Maktri meletakkan telunjuk ke bibirnya. “Iya tau ini dosa, tapi Ini rahasia.”

Kedua bocah itu langsung menutup mulutnya masing masing dengan tangannya.

“Di mana tatonya mi?” tanya kak Ais. “Lihat dong mi.”
“Iya lihat,” timpal dek Radit.

Bocah bocah manis ini kompak menarik narik baju Maktri.

“Hus! Gak boleh!”
“Aah mami pelit!”
“Iya mi, orang pelit kuburannya sempit!” kata dek Radit. Idih kecil kecil ngomongnya horor.

“Makanya lihaaat,” teriak kak Ais penasaran.
“Sabar sabar,” kata maktri.

“Karena rahasia, tempatnya juga rahasia,” kata maktri geli.

Biar deh, sekali sekali ngerjain anak anak, seru juga.

“Mami mah bikin penasaran,” kata kak Ais cemberut.
“Di mana tatonya, tunjukin!” kata dek Radit.

“Oke, mami tunjukin. Di. sini nih, di udel mami,” kata maktri sambil menunjuk perutnya.

Anak anak langsung berebut mau buka kaus maktri.

“Eit, sabar dulu,” kata maktri “Tapi janji ini jadi rahasia kita bertiga, oke?”
Kak Ais dan dek Radit kompak mengangguk.

“Jangan pernah bilang siapa siapa,” kata maktri mengulur ulur waktu.

Maktri ingin terbahak melihat ekspresi anak anaknya yang serius, dan mulai kepo.

“Iya,” jawab mereka berbarengan.
“Jangan bilang sama papi juga ya.”
“Iya!”
Ok ini!” Maktri membuka sedikit baju kausnya.
Tapi buru buru ditutup lagi.

Eit, jangan parno dulu pemirsah! Maktri ini pake baju dua piece, kaus dan celana panjang. Jadi kalok anak anak mau lihat udel Maktri, aman kok ha ha ha.

“Lihaaat!” Adek Radit penasaran
“Buka Mami!” kak Ais melotot, udah mulai mau marah sama mami. Sabar, Esmeralda, sabar! Ha ha ha.

“Tapi janji lo ya!”
“Iya!”
“Iya!”

Bocah bocah sudah mulai enggak sabar dan mau ngeroyok mami.

Maktri jadi mau ketawa.
“Oke. Ini.” kata Maktri sambil berlahan membuka sedikit bagian perutnya.
Maka terlihatlah tato gambar matahari di udel Maktri dengan spidol kuning.

“Mana?”
“Ini.”

“Ini bukan tato mamiiiiii!!!!” teriak Radit sambil mukul maktri dengan tangan kecilnya.

“Ini spidol. Ini udel mami digambar matahari pakek spidol!” kata kak Ais marah tau kalau dikerjain Maktri.

“Mami nakal”
Maktri terbahak.
Ha ha ha

“Mami bo’ooong!! Jahaat!” teriak mereka berbarengan.

“Hahaha.”
“Kirain tato beneran.”
“Hahaha.”

Maktri menjatuhkan badannya di tempat tidur.

“Dek, berarti mami sudah nipu kita! Yuk kita hajar mami, kita kitikin mami!” kata kak Ais memberi komando pada Radit.

Lalu kedua anak itu langsung melompat ke tempat tidur, mengeroyok maktri. Mereka enggak terima dikibulin!

“Hajar dek, hajaaarrr ..!” Tangan mungil kak Ais langsung kitik kitik Maktri, Maktri kegelian.

Dek Radit juga nggak mau kalah , langsung lompat dan duduk di perut Maktri yang telentang ditempat tidur.

“Ampuuun! Aampuun! Ha ha ha ..” Abis dah Maktri dikeroyok bocah. Ha ha ha
Mami sih ngibul!
Ha ha ha.

Bandar Lampung, Jumat, 23 Oktober 2020

Nulisbareng/AdeTauhid

0Shares

Tinggalkan Balasan