Tas Koper

TAMU oleh Ade Tauhid

TAMU
By Ade Tauhid

Sejak covid19, maktri jadi gabut. Enggak bisa ke mana-mana, bete. Mau ke pasar aja, takut. Paksu saja sudah ogah diajak jalan. Alasannya ribet harus pakai masker, belum lagi sesampainya di rumah cerewet nyuruh cuci tangan, cuci muka, ganti baju. Aduuh, ribet, mana puasa lagi. Mending tidur, deh …

“Sini, Mi, tidur aja sama Papi,” kata paksu. Ih, puasa-puasa ….

Alhasil, maktri gabut.
Tiba-tiba ….
TOK TOK TOK, suara pintu diketuk.
Siapa nih, siang-siang, tapi tak ayal maktri buka juga.

“Salamlekum, betul ini rumahnya maktri?” tanya seseorang di balik pagar.

“Iya, betul, Bapak siapa?” tanya maktri sambil bukain pagar biar orang itu bisa masuk.

“Perkenalkan, nama saya Simon, saya suruhan seseorang. Saya hanya mau mengantar tiga buah koper ini, Bu, eh, Mak,” kata pak Simon sambil meletakkan tiga buah koper besar-besar.

“Waaah … ini koper apa, Pak?” tanya maktri senang bukan kepalang. “Buat saya?”

“Iya, Bu, ketiga koper besar ini semua buat maktri. Biar saya jelaskan, ya. Ini koper yang warnanya biru itu isinya baju-baju, ada gamis, jilbab, dan baju-baju yang lain, semuanya branded dari perancang ternama dari Paris.

Nah, koper yang agak besar ini isinya beberapa sepatu dan puluhan tas-tas, semua branded dari perancang ternama juga.

Dan satu koper lagi isinya duit, Bu – duit 5 M,” jelas pak Simon sedetil-detilnya.

Waaah … maktri terkejut , tapi senang.
Banyak amat! Aduuuh kaya dong, gue … milyarder ….

“Iya, Maktri sekarang sudah kaya raya. Sudah jadi milyarder,” kata pak Simon sambil tersenyum seperti tahu aja isi hati maktri.

“Ini, saya serahkan semua ya sama Maktri. Dan itu satu lagi di depan ada mobil sport Lamborghini warna merah. Itu juga buat Maktri, ini kuncinya. Sudah ya, Maktri, saya permisi dulu,” kata orang itu sambil menaruh kunci Lamborghini di telapak tangan maktri dan berlalu.

Maktri bengong, sebengong-bengongnya -sambil mengusap-usap koper-koper itu.
Maktri melongo, semelongo-melongonya, tidak percaya. Maktri memandang satu-satu kopernya, satu-dua-tiga. Ada tiga koper besar.

“Apa tadi isinya? Baju-baju, tas, sepatu-sepatu branded? Uang 5M? Dann ooh, ini … di tangan gue ada kunci. Gue megang kunci lamborghini? Ya Tuhan … mimpi ape gue? Siapa ini yang ngirim koper-koper ini? Aduuuh!”

Maktri jingkrak-jingkrak, diciuminya koper besar itu satu per satu. Maktri seperti tidak percaya di tangannya kini sudah ada kunci Lamborghini.

Maktri enggak percaya. Sungguh! Puasa-puasa begini, ada orang datang bawa begitu banyak hadiah buat maktri.

Eh iya, siapa tadi? Pak Simon tadi ke mana, ya? Maktri kan belum mengucapkan terimakasih. Paling tidak, maktri harus kasih tip.


Setengah berlari maktri ke pintu depan, siapa tahu aja pak Simon masih belum jauh.

“Pak Simooon …, Paaaak!!! Pak Simooooouun!!” Maktri teriak-teriak persis kayak Tarzan.

“Apa sih, Mi, teriak-teriak? Pak Simon siapa, sih?” tanya paksu yang tiba-tiba sudah menghadang maktri.

“Minggir, ih!” Maktri mendorong paksu.

“Mi!”


Maktri melotot, matanya terbuka lebar. Di depan wajahnya ada wajah paksu yang menyeringai.

“Mami mimpi, ya? Jadi milyarder?” tanya paksu sambil menepuk pipi maktri.

Ih! Ternyata maktri cuma mimpi. Tapi kok, paksu tahu sih mimpi maktri?

Bandar Lampung, Minggu 3 Mei 2020

Nulis bareng/Ade Tauhid

0Shares

Tinggalkan Balasan