Otak

Surat untuk Putraku (Part 9)-Bulanmu Bulan Pendidikan Oleh Emmy Herlina

Surat untuk Putraku (Part 9)

Episode Bulanmu Bulan Pendidikan

Part sebelumnya: https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-8-episode-perkembangan-janin-oleh-emmy-herlina/

Kalau kakak Sophia lahir di bulan Februari yang identik dengan bulan kasih sayang, maka dirimu terlahir di bulan Mei yang identik dengan bulan pendidikan. Dua anak kesayangan Ummi, dua-duanya kebanggaan Ummi.

Kenapa sih, bulan Mei identik dengan pendidikan?
Tahukah kamu, Nak, bahwa tanggal 2 Mei juga diperingati sebagai hari pendidikan nasional (Hardiknas).

Hal ini dikarenakan tanggal 2 Mei merupakan tanggal lahirnya bapak Ki Hadjar Dewantara. Siapakah itu?

Ki Hadjar Dewantara merupakan pelopor berdirinya Perguruan Taman Siswa yang akhirnya menjadi cikal-bakal berdirinya lembaga pendidikan di Indonesia.

Beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan pada tahun 1945 tersebut. Tahu, kan, tahun lahirnya kemerdekaan negara kita, Indonesia.

Penetapan tanggal 2 Mei sebagai hardiknas ini dituangkan dalam Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. (Sumber: Tribunnews)

Semboyan beliau yang paling terkenal, pantas menjadi pedoman hidup kita.

Yaitu:

Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani

Slogan tersebut memiliki arti sebagai berikut:

“Di depan menjadi contoh atau panutan, di tengah berbuat keseimbangan atau merangkul, dan di belakang memberikan dorongan atau mendorong”.

Begini maksudnya, semua itu adalah kewajiban seorang pemimpin yang baik.
Saat di depan, seorang pemimpin akan menjadi panutan. Dia harus bisa memberikan contoh attitude yang baik yang akan ditiru oleh anak buahnya.

Seorang pemimpin juga harus menjaga keseimbangan. Dia tak melulu tampil di depan, tapi juga membaur bersama-sama untuk menjaga jangan ada kesenjangan di antara sesama. Sikap seorang pemimpin yang hangat dapat merangkul semua kalangan.

Tak hanya itu, seorang pemimpin juga berperan memberi semangat atau dukungan kepada seluruh anggotanya. Berada di bawah, bukan berarti kalah. Namun adalah untuk menjadi pondasi yang kuat sehingga menciptakan suatu keutuhan.

Inilah sosok pemimpin yang baik. Seorang yang bisa berpikir secara komprehensif, tidak hanya memandang sebelah pihak saja.

Guru adalah pemimpin bagi murid-muridnya. Orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Kakak adalah pemimpin bagi adiknya.
Serta laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, ini akan Ummi jelaskan lebih lanjut, Nak.

Intinya setiap manusia adalah pemimpin. Minimal menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Setiap manusia adalah pemenang. Kau akan paham di surat berikutnya.

Bandar Lampung, 2 Mei 2020 (9 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan