Emmy dan Anak-anaknya

Surat untuk Putraku (Part 6) oleh Emmy Herlina

Surat untuk Putraku (Part 6); Episode Nursing While Pregnancy

Part sebelumnya: https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-5-oleh-emmy-herlina/

Tapi cerita ini adalah lanjutan dari https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-4-oleh-emmy-herlina/

“Assalamualaikum,” ujarku sambil membuka pintu sepulang bekerja.

Seperti biasa, aku pulang disambut oleh Sophia, putri sulungku yang belum genap berusia dua tahun ketika itu. Biasanya aku yang semakin hari semakin mudah merasa lelah seiring dengan perutku yang semakin membesar, ingin sekali segera beristirahat di kamar. Namun, pastinya tidak bisa kulakukan sendirian saja.

“Ummi … Ummi …,” panggil Sophia.

Kutahu ke mana arah pandangan kedua matanya. Dia akan mengikutiku sampai di kamar dan menungguku berganti pakaian dengan raut wajah sudah tak sabar.

Iya, pasti dia menunggu saat-saat kelekatan denganku. Kelekatan secara lahir dan batin, yaitu momen menyusui.

Biasanya aku akan tertawa geli melihat tingkahnya. Tentu saja, anakku harus bersabar menunggu umminya membersihkan diri dulu. (Ya, walaupun saat kehamilan kedua ini aku dilanda malas mandi, minimal harus membersihkan diri sebelum menyusui, kan? Nanti kuceritakan kenapa aku bisa sampai malas mandi, hihi).

Tapi, tunggu! Bukannya kalau ibu hamil itu tidak boleh menyusui, ya? Apalagi larangan itu juga datang dari dokter kandungan yang memeriksa kehamilanku. Pada kehamilan dua bulan, aku datang lagi ke dokter kandungan, kali ini bersama suami. Suami ingin menyaksikan langsung, benar-benar ada jabang bayinya di dalam rahimku.

Di sana, aku sempat menanyakan apakah aku boleh lanjut menyusui. Dokter menganjurkanku untuk menghentikan pemberian ASI, karena akan mengganggu kehamilanku.

Aku sempat merasa galau saat itu. Di sisi lain, tentu saja aku tidak ingin buah hatiku di dalam kandungan ini kenapa-kenapa. Namun, aku tak ingin menzalimi hak Kakak.

Tak ingin menyerah sampai situ, aku searching di internet, grup parenting online, dan menemukan istilah NWP, Nursing While Pregnancy.

Yang kuketahui beberapa manfaat NWP, antara lain:

  1. Menjamin kebutuhan ASI bagi si kakak.
  2. Mengajarkan makna berbagi yang seringkali efektif untuk mengatasi kecemburuan si kakak yang mau punya adik lagi.
  3. Membuat proses transisi lahirnya si adik jadi lebih lancar karena si kakak bisa merasa yakin kasih sayang ibunya tidak berubah.

Ada beberapa kondisi bagi ibu yang tidak boleh melakukan NWP, yaitu, jika ada riwayat keguguran, perdarahan selama kehamilan dan lahir prematur. Selain kondisi janin di dalam kandungan harus benar-benar dipastikan sehat. (Sumber: solusilaktasi).

Kalaupun selama momen menyusui kakak sambil mengandung adiknya, terjadi salah satu dari dua hal ini; kontraksi atau flek (perdarahan), berarti proses ini harus benar-benar dihentikan. Jadi, memang melakukannya tidak boleh secara sembarangan, ya. Harus menelaah dulu karena kondisi setiap ibu tidak sama.

Bismillah, aku menguatkan tekad untuk mencobanya. Setiap kali kuberikan ASI pada kakak Sophia, kuucapkan doa dan mengamati reaksi dari tubuhku. Apakah aku mengalami kontraksi, atau sekadar mulas di perut? Apakah ada flek atau perdarahan? Hal itu terus kuamati sepanjang menyusui si kakak. Sampai tanpa terasa, hingga kehamilan keduaku memasuki 9 bulan, aku masih lanjut menyusui Sophia.

Selama itu pula, tidak ada keluhan dan kondisi Farris di dalam perut Ummi baik-baik saja. Alhamdulillah. Ummi sudah menyaksikan sendiri, Nak. Sejak janin, anak Ummi adalah anak yang kuat. Sang pemberani seperti arti namamu; Farris.

Bandar Lampung, 29 April 2020 (6 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan