Emmy dan Putranya

Surat untuk Putraku (Part 5) oleh Emmy Herlina

Surat untuk Putraku (Part 5): Cerita Hari Ini

Cerita ini based on true story hari ini, tak ada hubungan dengan part sebelumnya https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-4-oleh-emmy-herlina/

“Kalau tidak mau, ya sudah. Dari dulu Ummi kan, tidak pernah maksa-maksa anak.”

Aku marah. Pagi-pagi, dirimu sudah membuatku kesal.

Diawali dari selepas sahur, kulihat kedua mata Farris mengerjap. Pikirku, kesempatan anakku terbangun sahur, biasanya tidak. Aku yang memang tidak mau memaksa membangunkan anak, memilih untuk membiarkan saja ketika anakku terlelap. Semua ada masanya, pikirku.

Tapi, bila memang kamu sudah terbangun sendiri, Nak, apa salahnya Ummi mencoba mengajakmu ikut makan di waktu sahur.

“Mau makan sahur, Nak?”

Kamu menggeleng ketika itu.

Ummi menghela napas dan membiarkan.

Kakak Sophia yang baru masuk kembali ke kamar berbaring di samping Ummi.

“Kita istirahat sebentar sambil menunggu waktu untuk salat Subuh, ya?”

Kakak Sophia mengangguk.

Ketika azan Subuh tiba, Ummi baru teringat kalau belum menggosok gigi.

“Eh, Ummi gosok gigi dulu, ya. Sophia sudah gosok gigi?”

Sophia langsung meraih sikat giginya begitu diingatkan. Langkah yang diikuti oleh kamu, adiknya.

“Farris mau ikut salat,” katamu.

Ummi sangat senang kalau kamu mau ikut salat. “Eh, kamu kenapa gosok gigi? Kan, tidak ikut sahur?” tanyaku keheranan saat melihat Farris meraih sikat giginya juga. Sementara saat itu kakak Sophia sudah selesai menggosok gigi dan berwudhu.

Hanya karena satu pertanyaan itu lantas kamu memutuskan untuk tidak ikut salat. Ummi kesal saat itu, Nak.

Selama ini Ummi tidak mau memaksakan anak. Ummi mengajak beribadah, tapi bila anak belum mau, paling hanya Ummi beri pengertian saja. Ummi tidak ingin anak-anak merasa terpaksa dan menganggap hanya kewajiban semata. Ummi juga merasa malu, karena diri pun belum sempurna, kadang masih lalai melaksanakan ibadah.

Tak usahlah berharap anak jadi hafidz, anak bisa lancar membaca Al-Quran saja sudah bersyukur.

Tak usahlah berharap anak rutin Tahajud, anak enggak pernah terlewat lima waktu saja, Ummi sudah bersyukur.

Karena satu dan lain alasan juga, Ummi tidak ingin memaksa kalian, Nak.

Tapi salah satu karaktermu yang kadang buat Ummi gemes, Farris seringkali ngambek hanya karena hal kecil.

Ummi memang tidak mau memaksakan, Ummi meminta tidak mau menyuruh-nyuruh. Tapi apapun keputusanmu, Nak, kau harus belajar mengenal resikonya. Kau harus bertanggungjawab pada pilihanmu.

Lantas Ummi jadi kesal dan berkata, “kalau tidak mau salat, ya sudah. Kan Ummi tidak pernah maksa.”

Hmm, sepertinya karakter ngambekan-mu itu memang dari Ummi ya, Nak. (tepok jidat)

Maafkan Ummi-mu ini ya, Nak. Lantas setelah terbangun Ummi menemui dan memelukmu, putra kesayangannya Ummi.

“Maaf ya, Nak. Karena tadi Ummi sempat kesal sama Farris. Ummi hanya ingin Farris paham ada sebab ada akibat. Ummi sayang sama Farris. Farris jangan sampai melupakan hal itu, ya.”

Putraku sayang, meski dengan marahnya Ummi, kesalnya Ummi, dan berbagai perubahan emosi dalam diri Ummi, satu hal yang tak pernah berubah, kasih sayang seorang ibu adalah sepanjang hayat. Aku menerimamu apa adanya.

Bandar Lampung, 28 April 2020 (5 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

15 comments

  1. Wah, semua dituliskan dng teliti, surat² ke putranya. Bisa jadi kenangan manis ini. Smp sa ngambek²nya pun lengkap…hehe…

  2. Ummi … Farris kayaknya pengen dirayu, hihihi … Anak-anak tuh ya, kadang memang begitu mudah ngambek. Kalau ini terjadi ke anak laki-laki, aku tuh kesalnya minta ampun. Langsung deh marah. Eh, tapi kok jadi samaan kayak anak, ya. Ngambek dibalas ngambek. Haduh, jangan-jangan ngambeknya anakku menurun dari aku nih, hahaha …

Tinggalkan Balasan