Farris, Putra Emmy

Surat untuk Putraku (Part 29): Ketika Farris Opname di Hari Raya

Sebelumnya di Surat untuk Putraku (Part 28): Berani Seperti Arti Namamu

“Dek, kamu kenapa?”

Aku menatap was-was pada anak lelakiku yang tiba-tiba memuntahkan makanannya. “Masuk angin ya, Dek?” tanyaku dijawabnya dengan tangisan.

Kugendong anakku berupaya untuk menenangkannya. Tak lupa kuoleskan minyak kayu putih ke tubuhnya. Mungkin saja Farris kelelahan. Karena seharian ini kami berjalan-jalan. Karena untuk memperingati hari raya Idul Fitri, maka kami luangkan waktu silaturahmi.

Meski traveling dari satu rumah ke rumah lainnya, aku tak lupakan jadwal rutin memberi anakku makan. Makan siang sudah kubekali dari rumah. Saat pulang sebentar sebelum berangkat ke rumah orang tuaku, aku juga membawa bekal untuk makan sore anak-anakku. Semua sudah kupersiapkan dengan baik. Jangan sampai anak-anakku telat makan karena sibuk bersilaturahmi.

Karena jalannya searah, maka setelah menjenguk di rumah sakit, kami menyempatkan mampir di rumah salah satu paman dari suami. Wah, padat juga jadwal jalan-jalan hari ini. Tidak ada hal aneh yang terjadi pada anak-anak hingga kepulangan kami di rumah.

Kurasa aku sudah memberikan makan sesuai jadwal pada kedua anakku, tapi kenapa kini Farris jadi muntah-muntah? Di saat yang sama aku harus merapikan rumahku. Ada tumpukan cucian piring kotor yang belum tersentuh juga lauk pauk yang perlu dihangatkan. Ah, kuingat suamiku juga belum sempat makan malam. Dari tadi kami kenyang makan hidangan dari rumah ke rumah. Apalagi di rumah paman selalu tersedia pempek enak, kesukaan suamiku.

“Papa, bisa minta tolong gendong Farris sebentar, aku mau sempatkan mencuci piring-piring ini.”

“Sebentar ….” Suamiku menjawab singkat dengan raut wajah terlihat pucat.

Aku mengamatinya dengan heran, “kamu kenapa?”

Dia tak menjawab lalu masuk ke toilet.

Tangisan Farris terdengar lagi. Kali ini kurasakan aroma tak sedap. Benar saja, Farris baru saja pup dengan konsistensi tinja yang encer. Anakku diare! Lantas kubantu membersihkan dan mengganti pampersnya.

“Papa … Farris diare!” Kali itu aku bertambah panik. Tak lama suamiku keluar dari toilet sambil memegangi perutnya.

“Saya juga.”

Aku panik. Apa yang harus kulakukan sekarang? Sophia hanya terdiam bergantian memandangi orang tua dan adiknya. Barulah aku memanggil mertuaku melalui ponsel. Tidak ada jalan lain, aku butuh pertolongan mereka.

Bapak mertua datang tak lama kemudian. Kuberitahukan bahwa suami dan anakku diare secara bersamaan. Akhirnya kami membawanya ke dokter.

Mencari dokter yang praktik di hari raya bukanlah hal mudah. Awalnya kami mendatangi rumah sakit terdekat rumah, supaya tak perlu merepotkan mertua jika ingin bolak-balik menjenguk. Namun ….

“Maaf, Bu, dokter spesialis anaknya sedang cuti. Bisa saja jika anaknya mau dirawat di sini, namun dokter jaga yang memeriksanya. Bila Ibu ingin ke rumah sakit lain yang ada dokter spesialis anaknya, kami persilakan.”

Bapak mertua menyarankanku untuk pindah ke rumah sakit lain, supaya anak dan suamiku bisa sama-sama mendapatkan penanganan dari dokter spesialis. Akhirnya kami menuju rumah sakit lain yang lebih jauh.

Di salah satu rumah sakit swasta yang kini sudah terakreditasi B, akhirnya kamu dan papamu dirawat bersama-sama. Karena kalian dirawat bersamaan, Ummi meminta supaya disediakan satu kamar bersama-sama. Jadi, Farris tidak perlu dipisahkan di ruang rawat.

Betapa Ummi mengalirkan air mata ketika melihat tangan mungilmu akhirnya diinfus, Nak. Padahal selama ini Ummi begitu bangga mempunyai anak yang sehat sepertimu. Sudah puas Ummi menangis ketika merawat kakakmu dulu, yang harus bolak-balik opname setelah dilahirkan. Masih tak puas, opname berlanjut ketika kakakmu berusia enam bulan. Sedangkan Farris tak perlu mengalami itu semua. Farris bertubuh sehat dan berhasil mendapatkan ASI eksklusif. Karena hasil pompa ASI pun selalu melimpah. Ummi berhasil memberimu ASI tanpa tambahan susu, bahkan hingga usiamu 10 bulan. Setelah 10 bulan, baru Ummi menambahkan susu formula, tak lupa disertai makanan pendamping ASI.  Tapi selama ini kamu sehat-sehat saja, Nak. Baru di atas usia setahun ini, Farris akhirnya merasakan opname di rumah sakit. Ummi benar-benar sedih.

Saat kamu diambil darah untuk keperluan pemeriksaan laboratorium, lekas Ummi meminta untuk sekalian dicek golongan darahmu. Kebetulan, baru kali ini Farris harus diperiksa darahnya. Ummi bisa lega mengetahui kita berdua mempunyai golongan darah yang sama, Nak.

Mengenai papamu, ini juga pengalaman pertamanya opname di rumah sakit. Seumur hidup dia belum pernah diopname bahkan bisa dibilang papamu jarang jatuh sakit. Tak seperti Ummi yang sudah akrab menjadi pasien, bahkan merasakan menginap di berbagai rumah sakit. Ini memang kesalahan. Setelah berpuasa sebulan lamanya, di hari pertama Syawal, langsung diserang asam cuka yang banyak. Karena sebagai orang Palembang, papamu penggemar pempek. Sakitnya adalah karena makan yang berlebihan. Sedangkan sakitnya Farris karena kelelahan. Suatu pelajaran untuk kita bersama.

Ummi menceritakan hal ini, karena tanpa terasa dua hari lagi Ramadan akan pergi, berganti hari raya Idul Fitri. Selalu kenangan buruk itu teringat, sebagai pelajaran bagi kita semua, khususnya bagi Ummi, untuk lebih memerhatikan dan mengutamakan kesehatan anak-anak. Maafkan Ummi ya, Nak. Ingat selalu, “jangan berlebih-lebihan, termasuk berlebihan makan, sekalipun makanan berlimpah pada hari raya.”

Bandar Lampung, 22 Mei 2020 (29 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan