Pemadam Kebakaran Cilik

Surat untuk Putraku (Part 28): Berani Seperti Arti Namamu

Sebelumnya di Surat Untuk Putraku (Part 27): Lailatul Qadar Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

“Farris memang anak yang pintar, Bu. Berani. Mudah diajari.”

Senyumku mengembang setelah mendengar penuturan dari wali kelasnya Farris di sekolahnya. Apa yang dikatakan guru tersebut memang sangat beralasan. Bagaimana tidak, Farris memang anak yang berani. Tidak segan menyapa anak sebayanya yang baru dikenal. Berani maju lebih dulu untuk mencium tangan, tidak perlu disuruh terlebih dahulu. Yang terbaru, saat ada acara perpisahan di sekolahnya, anakku bersama beberapa teman playgrupnya berani tampil di atas panggung.

Berbeda sekali dengan Sophia yang dulu termasuk anak pemalu. Waktu ada acara graduation saja, dia seorang yang tidak mau tampil di atas panggung. Padahal Umminya sudah siap-siap ingin merekam acara. Huhu. Namun, semakin besar Sophia semakin punya keberanian dan kepercayaan diri. Terutama ketika dia menjadi salah satu pemain inti di grup drumband sekolahnya. Wah. Tidak hanya tampil di sekolah, tapi juga berlomba bertanding melawan sekolah lainnya. Tidak hanya sekolah seprovinsi Lampung, Sophia juga turut membawa nama harum sekolah sampai perlombaan di Jakarta.

Nah, kenangan ini salah satu yang sangat berkesan, tak hanya untuk sang kakak, tapi juga adiknya, Farris. Iya, berkat kepiawaian sang kakak main belira, lalu ikut bersama teman-teman mengikuti perlombaan di Jakarta, adiknya Farris, jadi ikut punya kesempatan jalan-jalan di Jakarta, deh. Ummi pun begitu. Makasih banyak untuk Kakak Sophia.

Usai perlombaan, Sophia dan teman-temannya berkunjung ke Kidzania. Tentu saja, adik Farris ikut serta ke sana. Baru kali itu juga Ummi akhirnya mengetahui wahana yang sangat bermanfaat mendidik anak-anak. Bisa belajar ilmu tentang uang, bahwa kita harus bekerja dulu baru bisa memperoleh uang. Bisa belajar macam-macam profesi di sana. Di Kidzania, anak-anak diajak menukarkan mata uang Kidzania, sebagai alat tukar di sana. Setelah itu, kami bebas memilih mau masuk wahana yang mana. Ada wahana yang harus membayar dulu sebelum memasukinya, tapi ada juga wahana untuk mencari uang, dengan kata lain, mendapatkan penghasilan.

Contohnya begini, ada wahana semacam taksi. Untuk mendapatkan penghasilan, harus berlatih menjadi supir taksi. Tentu saja supir taksi di sini tidak lepas dari pengawasan orang dewasa. Nah, sementara jika menaiki taksi sebagai penumpang, harus membayar. Alat tukarnya dengan mata uang Kidzania yang tadi ditukarkan. Menjadi supir taksi pun tidak bisa sembarangan, harus melalui proses untuk mendapatkan SIM terlebih dahulu. Wah, jadinya seperti sungguhan, dong.

 Yang pertama kali dipilih Sophia waktu berada di Kidzania adalah menjadi dancer. Bukan apa-apa, soalnya mau memilih yang lain masih perlu mengantri lama. Setiap wahana ada ketentuan batas maksimal jumlah anak yang memasukinya. Baru kemudia Sophia memilih yang lain, seperti membuat roti (baker), melukis, menjadi petugas laboratorium, menjadi dokter, dan lainnya. Seru waktu menjadi petugas laboratorium, ada tes membaca yang harus dilakukan dan setelah selesai semua anak mendapatkan semacam sertifikat atas namanya. Seru juga ketika bertugas menjadi dokter, anak-anak dipersilakan menaiki mobil ambulans.

Nah, bagaimana dengan pengalaman Farris, adiknya? Awalnya aku sempat bingung karena beberapa wahana mempunyai ketentuan usia. Saat itu Farris baru berusia tiga tahun dengan kondisi belum bisa bicara. Nyatanya tak menghalangi Farris menjadi pemadam kebakaran. Wah, betapa bangganya Ummi. Farris begitu menikmati memegang selang dan menyemprot air seolah-olah memadamkan api. Farris dengan berani ikut serta bersama kakak-kakak temannya Sophia, padahal ia satu-satunya yang belum bisa bicara.   

Ah, kamu memang anak yang berani, Nak. Seperti apapun kondisi dirimu tidak menghalangi untuk ikut tampil, untuk ikut serta seperti layaknya anak lainnya. Farris memang anak yang pemberani. Seperti arti nama yang diberikan papa untukmu. Arti nama Farris, kurang lebih sama seperti ksatria, yaitu seorang yang pemberani, melindungi, kuat, gagah.

Ummi masih ingat, saat papa sedang mencari nama untukmu, ternyata bukan hal yang mudah, Tak seperti kakakmu Sophia, yang namanya sudah ditentukan bahkan sejak kami, orang tuamu, sama-sama duduk di bangku perguruan tinggi, dan belum menikah. Papamu memang begitu ingin memiliki anak perempuan dari dulu. Ketika akhirnya Ummi mengandungmu dan dinyatakan oleh dokter bahwa kamu adalah anak laki-laki, papamu jadi antusias mencari nama untuk anak lelaki.

Alhamdulillah, ditemukan nama yang tak kalah indah dari nama kakakmu. Sama seperti kakakmu, namamu juga memiliki unsur bahasa Arab dan bahasa Jepang. Ah, Ummi begitu bangga memiliki kalian berdua, Nak. Terimakasih telah menjadi anak Ummi yang berani, seperti arti namamu, Sayang. Terimakasih telah menjadi pelengkap hidup Ummi dan papamu.

Bandar Lampung, 21 Mei 2020 (28 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan