Al Quran

Surat Untuk Putraku (Part 27): Lailatul Qadar Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Surat Kedua Puluh Tujuh: Lailatul Qadar, Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Surat sebelumnya Surat untuk Putraku (Part 26): Analisis Sidik Jari dan 8 Tipe Kecerdasan Manusia oleh Emmy Herlina

Masih ingat surat Ummi sebelumnya, tentang anjuran beriktikaf bagi umat muslim, terutama laki-laki? Masih ingat tujuan kita beriktikaf?

Kini saatnya Ummi menceritakan tentang malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Wah, bagaimana bisa dalam satu malam bisa lebih baik dari 1000 bulan? Apakah berarti dalam satu malam, bulan yang muncul ada lebih dari 1000?

Waduh, bukan itu maksudnya, ya, Sayang. Tidak mungkin bulan yang muncul di langit bisa lebih dari 1000. Karena memang benda langit yang disebut bulan hanya ada satu.

Yang dimaksudkan malam lebih baik dari 1000 bulan, yaitu bulan dalam hitungan 30 hari. Tahukah kamu, Nak, akan adanya firman Allah berikut ini:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam qadar.” (QS. Al-Qadar: 1).

“Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar: 3-5).

Pada HR. Bukhari, Rasulullah saw bersabda, “carilah malam Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadan.”

 “Barangsiapa melaksanakan salat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari No. 1991).

Keutamaan Lailatul Qadar adalah karena merupakan waktu turunnya Alquran melalui Nabi Muhammad saw. Biasanya untuk mencari malam Lailatul Qadar, umat Islam di seluruh dunia biasanya pergi ke masjid dan melaksanakan salat dan ibadah lainnya. Hanya saja ada yang berbeda pada Ramadan tahun ini. Biasanya kita bisa leluasa ke masjid, namun dengan adanya pandemi Covid-19, semua tempat ibadah ditutup, untuk menghindari kerumunan orang. Tidak ada iktikaf, namun bukan berarti kita tak bisa mencari malam Lailatul Qadar.

Cara mendapatkan Lailatul Qadar sendiri yaitu dengan menjalankan ibadah puasa pada siang harinya dan beribadah atau mendirikan salat malam. Salat malam yang dimaksudkan bukan hanya salat tarawih yang biasa kita lakukan di malam Ramadan, namun berlanjut salah tahajud dan salat lailatul qadar. Lakukan salat ini pada sepertiga malam terakhir. Sedikitnya lakukan dalam dua rakaat dengan satu kali salam dan terbanyak maksimal hanya sampai 12 rakaat.

Ada juga hadis yang mengatakan bahwa, “Lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh.” HR. Muawiyah. Malam ke-27 adalah malam yang paling diharapkan jatuhnya Lailatul Qadar dan bisa jadi mayoritasnya ada pada malam ke-27. Itulah mengapa Ummi tuliskan surat ini pada hari kedua puluh tujuh di bulan Ramadan.

Meski begitu tetap kita berpatokan bahwa Lailatul Qadar ada di antara 10 malam terakhir, pada malam-malam ganjil. Karena tidak setiap Ramadan, malam Lailatul Qadar akan jatuh pada malam ke-27. Tetaplah senantiasa menjalankan ibadah dengan mengharap keridaan-Nya, pada malam kapanpun serta dalam kondisi apapun. Di masjid maupun di rumah, Allah Maha Melihat segala amal perbuatan kita, hamba-hamba-Nya.

Bandar Lampung, 20 Mei 2020 (27 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan