Emmy dan Putranya

Surat untuk Putraku (Part 26): Analisis Sidik Jari dan 8 Tipe Kecerdasan Manusia oleh Emmy Herlina

Analisis Sidik Jari dan 8 Tipe Kecerdasan Manusia

“Anak laki-laki kok cengeng?”

Aku menyenggol lengan papamu dan memberikan isyarat padanya. Sudahlah cukup penjelasan tentang kesetaraan gender dan pengotak-kotakkan antara laki-laki dan perempuan. Mengapa ada larangan laki-laki untuk menangis? Bukankah keduanya adalah manusia? Bukankah manusia pasti memiliki rasa selain logika?

Laki-laki dan perempuan memang berbeda. Seperti memiliki alat reproduksi yang berbeda sehingga menjadi perbedaan penanda balig, bila perempuan ditandai dengan mendapatkan menstruasi sedangkan laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Laki-laki dan perempuan tak sama. Antara lain sesuai aturan agama, bahwa laki-laki bisa menjadi imam salat bagi laki-laki dan perempuan, sedangkan perempuan hanya dapat menjadi imam salat bagi sesama perempuan saja.

Namun ada hal yang bisa disetarakan. Seperti penyetaraan kesempatan, baik kesempatan meraih pendidikan, jabatan, maupun kebebasan memilih warna berekspresi. Seperti warna yang tak memiliki jenis kelamin. Begitu pula, menangis tak hanya disahkan untuk kaum hawa.

Apalagi bagi seorang yang condong otak kanan dan termasuk tipe perasa sepertimu, Nak.

“Luarnya memang laki-laki, namun hatinya Hello Kitty.” Begitu yang dijelaskan oleh Bapak Eko Chrismianto, seorang pakar analisis sidik jari, ketika Ummi memeriksakan sidik jarimu.

Program analisis sidik jari dari dari deMost merupakan salah satu metode untuk melihat bakat dan potensi manusia yang analisisnya didasarkan pada aspek genetik (alami/bawaan) sejak lahir. Sidik jari adalah bagian tubuh yang bersifat permanen, tidak pernah berubah sepanjang hayat dari kecil hingga dewasa, tidak pernah sama setiap orang.

Manfaat mengikuti tes sidik jari ini antara lain:

  1. Dapat cepat mengetahui bakat alami anak.
  2. Lebih mudah mengarahkan dan memotivasi anak.
  3. Mengetahui bakat lemah dan menonjol
  4. Lebih fokus dan percaya diri pada pilihan hidup (jalur pendidikan dan non profesi)
  5. Mengetahui metode belajar yang tepat dan efektif.
  6. Dapat merancang jalur pendidikan dan pilihan karier yang sesuai bakat dan potensi anak.

Lain kakakmu, Sophia, lain pula dirimu, Nak. Hasil kalian berdua memang sama-sama menunjukkan multitalent, yaitu banyaknya bakat atau kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing. Namun, ada banyak hal yang berbeda. Tak seperti kakakmu yang ternyata lebih condong logika atau dominan otak kiri, seperti kedua orang tuanya. Ternyata Farris memiliki hasil yang berbeda, dominan otak kanan. Artinya, Farris memang lebih perasa dibandingkan anak lelaki lainnya. Orang yang dominan otak kanan juga biasanya kreatif, out of the box dan menyukai seni.

Selain mengetahui karakter, melalui program analisis sidik jari, bisa juga mengetahui tipe kecerdasan mana yang dimiliki oleh anak? Ternyata, memang ada beberapa tipe kecerdasan, maka tiap orang memang tidak sama, tepatnya 8 macam tipe kecerdasan yang sudah berdasarkan teori yang ditemukan pakar psikolog dunia, Howard Gardner. 8 Tipe kecerdasan itu antara lain: kecerdasan intrapersonal, interpersonal, naturalis, musikal, visual, kinestetik, verbal linguistik dan logika matematika.

Dari hasil analisis sidik jari tersebut menunjukkan bahwa kau memiliki kedelapan tipe kecerdasan itu, Nak. Namun yang paling condong adalah kecerdasan intrapersonal, musikal dan kinestetik. Ya, kedua anakku ternyata tipe kinestetik tinggi, alias tipe anak yang tidak bisa diam.

Lembar hasil ini bisa kujadikan pedoman bagaimana mendidik anak-anakku ke depannya. Bahwa perbedaan tipe kecerdasan yang dimiliki anakku berpengaruh pula pada perbedaan cara mempelajari segala sesuatunya. Proses pembelajaran yang akan semakin meningkatkan kemampuan diri secara optimal.

Akhirnya Ummi bisa menyadari dan mensyukuri keunikan kalian berdua melalui program analisis sidik jari ini, dua anak Ummi yang begitu berharga, Sophia dan Farris. Terimakasih Bapak Eko. Alhamdulillah.

Bandar Lampung, 19 Mei 2020 (26 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan