Surat untuk Putraku (Part 25): Episode Toilet Training

Surat sebelumnya Surat untuk Putraku (Part 24): Memories in Bali

Keterlambatan bicara yang terjadi pada Farris, tak urung membuatku terlambat mengajarkan toilet training pada si Farris. Jadi sampai adiknya Sophia berusia empat tahun, masih juga mengenakan pampers. Pun ketika Farris bersekolah di playgrup. Nah, ketika Farris sudah lulus dari playgrup dan hendak melanjutkan TK 0 kecil, Ummi jadi berpikir, mau bagaimanapun caranya, Farris harus belajar toilet training. Bukankah tanpa terasa Farris akan memasuki usia lima tahun. Apalagi sejak sekolah, Alhamdulillah Farris sudah mulai bisa berkomunikasi. Apa sih, toilet training itu?

Toilet training merupakan proses ketika anak belajar untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) di toilet layanya orang dewasa. Pada tahap ini, anak diajari untuk tidak mengeluarkan urin dan tinja pada popok.

Bagaimana tiga tips efektif agar si kecil lulus toilet training? Bahkan menurut theAsianParents, tips ini bisa dilakukan dalam tiga hari.

  1. Singkirkan sejumlah pengalih perhatian. Sangat dibutuhkan dedikasi tinggi selama tiga hari penuh demi tercapainya misi melatih si kecil ke toilet. Nikmatilah saat-saat bersama si kecil, singkirkan dulu pikiran tentang urusan belanja, masak, dan sebagainya. Untung saja Ummi sudah belajar ilmu “Mindfulness Parenting”. Yaitu bagaimana menerapkan pengasuhan dalam kondisi benar-benar sadar.
  2. Singkirkan semua popoknya. Jika sudah meniatkan anak untuk toilet training, maka sudah saatnya untuk konsisten menghindari penggunaan popok. Jangan takut apabila dalam proses pembelajaran, anak masih mengompol, dan urin tercecer di lantai. Menyingkirkan pampers artinya dalam segala suasana, pagi maupun malam hari. Kalau bagi Ummi, sudah membiasakan untuk penggunaan pampers hanya bila diperlukan saja. Sejak mengasuh kakakmu dulu, Hanya saja, karena kamu sudah mulai disekolahkan saat masih belum bisa bicara, Nak, jadinya Ummi masih memakaikan pampers saat Farris sekolah maupun bepergian. Nah, ketika melatih Farris untuk toilet training, tidak ada lagi pemakaian pampers. Bahkan sisa pampers Farris masih banyak, karena ketika Ummi baru saja membelikan pampers baru, tak perlu waktu lama bagi Farris berlatih ke toilet.
  3. Ingatkan (bukan tanyakan) si kecil jika ia merasa ingin pipis atau pup. Sebagai orang tua juga harus mengingat-ingat, kapan waktu biasanya anak ke toilet. Jika anak terbiasa pipis di malam hari, maka wajib dibangunkan untuk ke toilet bahkan di tengah malam sekalipun. Tapi Farris, dari dulu tidak pernah merepotkan Ummi. Kedua anak Ummi sama-sama mudah diajari toilet training. Di malam hari juga tidak ada kebiasaan minta dibuatkan susu seperti anak seusianya, makanya Ummi juga tidak perlu takut anak mengompol tengah malam. Di malam hari cukup Ummi sediakan segelas air putih di kamar untuk masing-masing anak. Lalu tak lupa setiap sebelum tidur, Ummi akan ingatkan anak-anak untuk terlebih dulu ke toilet. Biasanya setelah Sophia dan Farris akan tidur nyenyak sampai pagi tiba.

Ketiga tips itu sangat efektif untuk dipraktikkan. Namun hal terpenting adalah kepercayaan dalam hati bahwa anak pasti bisa belajar. Ummi bahkan sengaja menyediakan waktu khusus untukmu, Nak. Jadi Ummi dan papa, kompakan mengambil cuti tahunan, ketika kalian berdua libur sekolah. Kakakmu yang hendak persiapan masuk SD, dan Farris sendiri yang akan masuk ke TK 0 kecil. Nah, dalam waktu tersebut Ummi sudah menargetkan, Farris harus sudah bisa ke toilet sebelum masuk TK.

Awal-awalnya Farris sempat kesulitan. Kalau pakai pampers baru mau pipis, tapi kalau dilepas, Farris menolak pipis. Pun ketika Ummi menyingkirkan pampers Farris, beberapa kali Farris sudah telanjur pipis dan membasahi lantai. Ummi sampai ragu, bagaimana kalau Farris mengompol di sekolahnya nanti?

Tapi keraguan itu pun akhirnya tertepis. Ternyata kedua anak Ummi memang sangat berbeda tabiatnya. Farris baru bisa pipis di toilet, ketika tidak ditemani siapapun. Owalah, jadi kamu malu ya, Nak, kalau ditemani Ummi. Makanya pipisnya tidak mau keluar.

Akhirnya tidak sampai seminggu, Farris sudah bisa mengatur jadwal pipisnya ke toilet. Yang penting selama di toilet, dia sendirian. Kalau perlu bantuan baru Farris akan memanggil. Biasanya Farris memanggil jika sudah selesai pup dan minta tolong dibersihkan. Itupun sedang Ummi ajarkan pelan-pelan supaya Farris bisa membersihkannya sendiri.

Begitulah, proses toilet training yang dijalani Farris berbeda dari kakaknya. Satu persamaan, keduanya tidak merepotkan Umminya. Makasih banyak, anak-anakku sayang.

Bandar Lampung, 18 Mei 2020 (25 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan