Kenangan di Bali

Surat untuk Putraku (Part 24): Memories in Bali

Surat untuk Putraku (Part 24): Memories in Bali

Part ssebelumnya di Surat untuk Putraku (Part 23): Belajar Bicara Bagian 2

“Sini, Dek. Yuk, sama Ummi,” bujukku.

Lagi kau menolakku. Malah memalingkan muka dan memilih digendong papa. Uh, rasanya sedih sekali. Bingung harus bagaimana menolongmu, Nak.

Ketika itu kita berempat tidak sedang berada di rumah. Ummi, kakak Sophia dan Farris ikut bepergian dengan papa. Bukan ke lain kabupaten, namun jalan-jalan ke Bali. Ini merupakan pengalaman pertama bagi kita semua naik pesawat dan berkunjung ke pulau dewata.

Diawali ada acara kantor yang harus dihadiri papamu di pulau Bali, bersama dengan atasan dan bosnya. Alhamdulillah, papamu membolehkan kita semua ikut bersama. Yeay. Seumur hidup Ummi jarang sekali yang namanya bepergian. Waktu ada acara bersama guru dan teman-teman sekolah dulu pun, pasti tidak diperbolehkan. Jadi, kesempatan kali ini takkan Ummi sia-siakan. Tak hanya memberikan pengalaman pertama bagi kalian, tapi juga Ummi sendiri.

Tapi kenapa malam pertama kita menginap di hotel, Farris malah menangis tanpa henti. Ummi kehabisan akal bagaimana hendak meredakan tangismu, Nak. Sampai akhirnya kau tertidur di pelukan papamu. Sementara Ummi mengalah dan tidur di bawah dengan alas selimut. Karena Farris tidak ingin didekati oleh Ummi.

Saat itu pikiranku menjadi cemas, jangan-jangan kamu melihat “penampakan” di Bali, Nak. Wajar bila yang mengalami ini kakakmu. Waktu kehamilan kakakmu dulu, Ummi kan seringkali mengurus jenazah. Jadi waktu kakakmu masih bayi dulu, seringkali menangis tanpa sebab, yang reda setelah Ummi memanggil ustaz. Yang untungnya hal itu semakin berkurang setelah kakak Sophia berusia di atas dua tahun.

Berbeda denganmu, Nak. Farris tidak pernah mengalami hal itu, karena selama kehamilan Farris, kehidupan Ummi sudah jauh lebih tenang dibandingkan dulu. Sudah tidak mengurus pasien lagi, tidak bekerja shift lagi, bisa diam di rumah saja setelah Magrib.

Tapi kenapa kali ini jadi berbeda? Ummi masih ingat yang dikatakan oleh bapak pemandu traveling yang menemani perjalanan selama di Bali. Tak hanya mengenalkan tempat-tempat wisata yang kami kunjungi, bapak itu juga bercerita tentang banyaknya adat istiadat Bali yang berbeda dengan suku lainnya. Hal itu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Bali.

“Sebenarnya sebagai tempat wisata, masih banyak tempat lain yang lebih indah dari Bali. Namun adat istiadat di Bali inilah yang memicu wisatawan, terutama dari luar negeri. Kalau orang Indonesia umumnya menghindari hotel berhantu. Beda dengan wisatawan asing, justru mereka akan mencari hotel berhantu. Saya juga tahu beberapa tempat menginap yang berhantu di Bali.”

Ehem, saat itu aku hanya menyimak saja sambil menikmati pemandangan di luar jendela bus. Bapak pemandu terus menerus bercerita sepanjang bus berjalan.

“Tahu tidak, apa bedanya wisatawan asing dengan lokal? Mereka bisa positive thinking selama di Bali. Coba kalau orang Indonesia melihat adat istiadat di Bali, kadang-kadang ada yang berpikir meremehkan. Ih, ngapain ngumpul-ngumpulin kembang, ngasih sesajen, dan sebagainya. Berbeda dengan wisatawan asing yang kadang lebih bisa menghargai dan kagum dengan adat istiadat di Bali. Padahal semua hal kan, bisa kita ambil segi positifnya. Seperti tradisi dengan menggunakan banyak kembang itu akan menjadikan orang Bali ikut melestarikan tanaman. Karena orang Bali memerlukan kembang-kembang sebagai sarana sembahyang.”

Tak hanya itu, aku juga terpana akan ceritanya tentang pohon yang disarungin. Jika kita berkunjung ke pulau Bali, akan menemui beberapa pohon diberi kain sarung. Hal itu bukan tanpa alasan. Konon pohon itu harus diberi sarung karena ada penunggunya, jadi supaya tidak ditebang, pohon tersebut akan ditandai, dengan cara diberi sarung tersebut. Yang bisa mengatakan sebuah pohon ada penunggunya atau tidak juga bukan sembarang orang.

Sore itu, kita bepergian ke banyak tempat, termasuk Tanah Lot. Sampai di hotel baru berkisar jam sebelas malam, dalam kondisi sangat melelahkan. Untung saja, kamar hotel menyediakan bathtub dan pemanas air. Ummi bisa hilangkan penat dengan mandi dengan air hangat. Sekaligus karena tubuh sudah begitu lengket dengan keringat. Ummi harus bersihkan diri sebelum menyusui Farris.

Sayangnya, Farris masih menolak untuk Ummi beri ASI. Apa ini ada hubungannya karena melihat banyak pohon yang diberi sarung, sepanjang perjalanan? Apa ini ada hubunganya dengan kunjungan ke Tanah Lot tadi?

Dini hari, setelah semua jatuh tertidur dengan lelap, Ummi mendengar rengekanmu lagi. Kali ini, hanya berupa tangisan kecil, tanda gelisah, dengan kedua matamu masih terpejam. Ummi beranjak pelan mendekatimu dan menawarkan untuk menyusui. Alhamdulillah, Farris akhirnya tidak menolak.

Ummi tahu, kamu pasti sudah haus, Nak. Apalagi setelah rewel semalaman, menangis tanpa henti dan menolak untuk minum. Setelah menyusui, barulah Farris bisa tidur kembali dengan tenang.

Selalu ada pengorbanan, termasuk dalam meraih kebahagiaan. Perjalanan selama ke Bali, meski singkat, hanya berlangsung tiga hari, namun memberi banyak kenangan tak terlupakan. Sedihnya selama di sana, Farris banyak menolak makan. Bisa dibilang Farris hanya makan sehari sekali, ketika sarapan di hotel. Itu juga karena Ummi mintakan untuk dibuatkan bubur ayam untuk Farris.

Selebihnya Farris tidak mau makan apapun. Ummi sudah belikan bubur instan bermacam-macam rasa, tapi kamu tetap menolaknya. Itu memang kamu tidak terbiasa makan bubur MP-ASI instan. Kamu lebih suka dibuatkan bubur nasi atau olahan makanan homemade lainnya. Kedua anak Ummi memang tidak suka makanan instan. Syukurlah.

Ada satu pengalaman lainnya ketika dalam perjalanan pulang. Waktu di bandara, Ummi bertemu dengan seorang perempuan warga negara asing, berambut pirang, dengan dua anak lelaki yang tampan. Dia sedang menyuapi biskuit untuk anaknya.

“Biscuit? For the baby?” Tiba-tiba saja dia menawari Ummi biskuit yang dipegangnya untuk diberikan pada Farris.

Ummi menerimanya dengan senang hati dan mengucapkan, “thank you,” dengan terbata-bata, karena grogi. Ummi tidak terbiasa berbincang dalam bahasa asing, Hihi.

“Warga negara asing memang biasanya lebih berpikiran positif dibandingkan kita, orang Indonesia.” Teringat kembali perkataan yang diucapkan oleh bapak pemandu wisata.

Ah, ini pelajaran besar terutama untuk Ummi. Kenapa tidak manusia lebih menghargai keragaman? Kita semua berbeda, namun sesungguhnya tetap satu jua. Kita berada di bawah langit yang sama, dengan hati yang sama.

Tidak ada salahnya dengan perbedaan. Berbeda suku, agama, keyakinan, prinsip, pemikiran. Hal itu tidak seharusnya memberikan pemikiran negatif, justru semakin membuat kita menghargai keragaman budaya di Indonesia.

Begitulah, Nak. Perjalanan singkat di Bali memberikan kenangan yang sangat berharga.

Bandar Lampung, 17 Mei 2020 (24 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

3 comments

  1. Ah, so sweet kali cerita jalan²nya Ummi dan keluarga. Nggak kebayang lelahnya bepergian bareng anak balita ya.. tapi pasti jadi kenangan manis sepanjang masa.. 😍😍

Tinggalkan Balasan