Anak autis

Surat untuk Putraku (Part 23): Belajar Bicara Bagian 2

Sebelumnya di https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-22-episode-belajar-bicara-bagian-1/

Speech delay atau anak telat bicara merupakan salah satu gangguan tumbuh kembang yang sering terjadi. Menurut University of Michigan Health System, 5 hingga 10 persen anak usia prasekolah mengalaminya. Akibatnya, anak akan mengalami kesulitan untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dan memahami orang lain.

Setidaknya terdapat tiga jenis speech delay, yaitu reseptif, ekspresif, dan kombinasi keduanya. Reseptif terjadi ketika anak mengalami kesulitan untuk memahami bahasa. Sementara ekspresif terjadi ketika anak mengalami kesulitan untuk melakukan komunikasi verbal. (Sumber: Asianparents)

“Pa … Pa …,” panggil Farris ketika papanya baru pulang bekerja.

“Duh, Nak, panggil Ummi juga, sih. Mi aja, gitu.”

Farris malah memperlihatkan wajah bingung karena kusampaikan demikian. Hiks, sedih, deh, anakku belum bisa memanggil ibunya.

“Kalau enggak, Mama aja, enggak apa-apa, deh,” tawarku. Namun Farris masih saja diam.

Huhu. Sejak Farris mendapatkan diagnosa Speech delay dari dokter anak langgananku, akhirnya aku mencari terapi yang tepat untuknya. Kubelikan buku-buku bacaan dan kubacakan cerita. Namun sungguh, perhatian anak lelaki tak seperti anak perempuan yang lebih bisa duduk diam memperhatikan saat kubacakan cerita.

Tak cukup sampai di sana, kubelikan juga peluit untuk anakku, seperti yang disarankan seorang teman. Untuk melatih lidahnya, bisa dilatih meniup peluit. Namun belum juga berhasil. Malah peluit sering direbut kakaknya.

Aku tak jadi menerapinya di klinik spesial yang kudatangi tempo hari. Dikarenakan ternyata biayanya cukup tinggi. Rasanya gaji kami berdua tak sanggup untuk membiayai bulanannya. Belum termasuk urusan antar jemput yang belum jua mendapat jawaban.

Akhirnya aku mengambil jalan tengah. Aku akan menerapinya di tempat kerjaku sendiri. Yup, menggunakan administrasi BPJS, supaya tidak terkendala biaya. Lagipula karena di tempat kerja sendiri, tentu lebih mudah meluangkan waktu.

“Tunggu dokter anaknya dulu, ya. Kira-kira jam sembilan nanti ke sini lagi.”

“Kalau begitu, saya boleh tunggu di ruangan saya?”

Perawat yang bertugas di poliklinik anak mengangguk.

“Yuk, Dek.” Aku mengambil tangan mungil anakku dan menuntunnya ke ruangan tempatku bekerja. Beruntung ya, kalau berobat di tempat kerja sendiri, bisa mendapatkan beberapa kemudahan. Beruntung juga, tempatku bekerja masih berada tak jauh dari poliklinik anak ini. Sama-sama berada di lantai dua. Tinggal menyeberang karena gedung kami bersebelahan.

Tapi kalau saat ini, ruangan Unit Transfusi Darah, sudah terkunci dan hanya bisa dilewati satu akses saja. Untung ketika aku masih memerlukan mengantar anak bolak-balik, akses ke arah poliklinik masih terbuka, jadi sangat memudahkanku.

Hari itu sebenarnya bukan jadwalku bekerja. Jadi aku mampir ke ruangan, hanya untuk bersantai sejenak daripada aku menunggu di ruang tunggu poliklinik bersama dengan pasien lainnya. Rasanya lebih aman di ruangan sendiri yang tidak ada pasien sakit.

“Wah, kenapa, Em? Bawa anakmu?” tanya temanku setibaku di ruangan UTD.

“Iya, mau kuantar ke poliklinik anak, berkasnya udah di sana. Tinggal tunggu dokternya.”

Aku mengambil tempat di ruang jaga, supaya anakku bisa duduk bersantai sambil menikmati makanan ringan yang kubawa.

“Anakmu sakit?” tanya temanku lagi.

“Bukan, mau terapi. Belum bisa ngomong,” jawabku.

Sesuai prosedur BPJS, anakku harus menemui dokter spesialis anak untuk sekali pertemuan sebelum mendapatkan jadwal fisioterapi. Jika datang hanya untuk memenuhi jadwal fisioterapi selanjutnya, boleh langsung ke ruangan rehabilitasi medis tersebut.

Tepat jam sembilan lewat lima belas menit, aku memutuskan kembali ke poliklinik anak. Benar saja, dokter anaknya sudah datang. Aku memberi isyarat kepada perawat tadi yang lalu tersenyum ke arahku.

“Nanti saya selipkan ya, satu pasien lagi,” ujarnya.

Alhamdulillah, tidak perlu mengantri lama. Setelah anakku dipanggil, aku menjelaskan semuanya kepada dokter, Bahwa anakku sudah menemui psikolog anak dan disarankan mendapatkan terapi wicara. Dokter memberikan beberapa tes kepada anakku sebelum menuliskan lembar resume medisnya.

“Kalau di sini, hanya bisa terapi dua kali seminggu saja, Bu. Kalau mau lebih dari dua kali, Ibu bisa atur janji pada petugas fisioterapi di sana, ya.”

“Baik, Dok. Terima kasih.”

Tak perlu waktu lama akhirnya aku bisa membawa anakku ke gedung rehabilitasi medis untuk mendapatkan penanganan selanjutnya. Gedungnya berada terpisah dari gedung poliklinik. Kali itu berada di lantai tiga, penempatan sementara sebelum gedung aslinya selesai dibangun. Sudah biasa rehabilitasi dilakukan di tempat kerjaku.

Pada pertemuan pertama, aku sebagai ibu masih boleh mendampingi. Anakku diberikan pertanyaan dan macam-macam tes. Tidak seperti waktu kubawa ke tempat kemarin, kali ini mengapa dia tampak sedikit tertekan seperti tidak mau jauh dariku?

“Farris, Farris tadi makan apa?”

Anakku yang diajak komunikasi hanya diam sambil berkali-kali memainkan bibirnya.

“Apa anaknya memang biasa seperti itu, ya, Bu?” Petugas terapi wicara ganti bertanya kepadaku. Aku bahkan baru ini memperhatikan kalau anakku bolak-balik membasahi bibirnya.

“Ya, kadang-kadang, dia seperti itu,” jawabku akhirnya. Padahal aku tak yakin dengan jawabanku.

Untungnya pada jadwal selanjutnya, anakku bisa lebih menikmati. Apalagi orang tua kali ini tak boleh menemani. Entah anakku diberikan terapi apa di dalam, kupercayakan saja pada petugas fisioterapi. Yang kusenangi, ketika keluar, Farris akan langsung berlari ke pelukanku. Seolah kangen sudah lama tak bertemu denganku. Masya Allah, Nak. Ummi jadi terenyuh.

“Tadi anaknya senang, Mbak. Main bola di dalam,” kata petugas fisioterapi padaku.

Tak lupa aku berterimakasih padanya sebelum membawa anakku pergi.

Tak hanya petugas di sana yang menyukai anakku, embah pedagang soto di depan rumah sakit pun menyukai Farris. Sebab aku sempat beristirahat sejenak sambil mengajak anakku makan di sana setelah menjalani terapi suatu hari.

“Kenapa anaknya?”

“Terapi ngomong, Mbah. Belum bisa ngomong dia.”

“Wah, Mbah dulu juga belum bisa ngomong, sampai SD. Mbah dikasih suntikan gede disuntikkan tiap bulan.”

Aku hanya mengangguk-angguk mendengar cerita si Mbah dengan semangatnya. Anakku Farris, tidak pilih-pilih makanan. Kalau boleh jujur, aku lebih suka menyuapinya dibandingkan kakaknya. Mungkin pengaruh karena beberapa bulan pertamanya, aku sangat pilih-pilih terhadap makanan kakaknya. Benar-benar mematuhi standar, mulai dari sterilisasi alat makan yang kadang berlebihan, bener-bener no gula garam di bawah setahun, dan tanpa makanan instan.

Berbeda dengan Farris, aku bisa lebih santai memberikan makanan. Sterilisasi tetap dilakukan, hanya tidak berlebihan. Kalau waktu penanganan kakaknya, bisa kulakukan berulang kali, merebus alat-alat makannya. Untuk makanan instan, yang tidak sama sekali kuberikan ke Sophia, malah kucoba berikan kepada Farris, walaupun dia tetap menolaknya.

Waktu itu, kebetulan kami sekeluarga diberi kesempatan pergi ke Bali, dalam rangka acara kantor papanya. Jadi, sekalian aja, sekeluarga pergi semua. Tapi sayangnya, Farris menolak makanan instan, dan hanya mau makan buah-buahan selama di sana. Wah, pokoknya pengalaman waktu itu, tak semuanya indah. Walaupun aku bersyukur bisa menghibur anak-anakku, mengajak mereka jalan-jalan, karena tak tahu kapan lagi kesempatan seperti itu datang kembali.

Intinya Farris tidak menolak makanan jenis apapun yang kuberikan. Bahkan makan di warung soto sederhana seperti ini pun dia tak menolak.

“Waduh, kerupuknya habis, Dek,” ujarku terkejut melihat piring berisi kerupuk jatahnya sudah habis.

“Walah, kerupuknya habis, tho. Ini Mbah tambah lagi.”

“Waduh, Mbah, makasih banyak, ya.”

Hihi, anakku lahap sekali makannya. Untung Mbak penjual soto baik hati mau menambahkan satu porsi kerupuk lagi yang dengan lahap dimakan Farris bersama nasi soto yang kusuapi.

Jatah fisioterapi menggunakan administrasi BPJS hanya berlaku selama sebulan. Setelahnya rujukan bisa diperpanjang dengan mengurus lagi dari awal. Aku harus kembali mengikuti alur, dari fasilitas kesehatan tingkat 1 yaitu Balai Pengobatan sesuai data kami yang terdaftar di BPJS pusat. Kemudian dari faskes tingkat 1 bisa langsung menuju RS tempatku bekerja, tanpa harus mampir ke RS tipe C dulu, karena memang tempat rehabilitasi medis ya adanya di rumah sakit ini.

RS tempatku bekerja merupakan rumah sakit pusat rujukan seprovinsi, yang waktu itu sudah terakreditasi B, dan kini sudah diresmikan menjadi akreditasi A.

Hmm, tidak banyak perubahan yang kutemui pada Farris. Maksudku, dia sebenarnya bisa bicara sepatah dua patah kata, kadang terbata-bata. Namun belum bisa untuk membentuk satu kalimat. Lagi-lagi aku mengikuti feeling seorang ibu. Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan terapinya.

“Pa, kita sekolahkan saja, yuk,” ajakku meminta persetujuan papanya anak-anak.

Bukan tanpa alasan aku mengajukan ide tersebut. Sebab setiap kali adik diajak menjemput kakaknya, dia seperti tidak mau cepat pulang. Karena senang berada di TK itu lama, banyak sekali permainan yang tersedia.

“Tapi, kan, ajaran baru sudah separuh jalan,” kata suamiku.

Saat itu sudah memasuki pertengahan bulan September. Ajaran baru kan diadakan tiap Juli setiap bulannya. Akhirnya kuputuskan untuk menanyakan hal itu terlebih dulu pada kepala sekolah anakku. Jika diperbolehkan, maka lanjut di sana. Jika tidak, berarti harus cari jalan lainnya. Malah suamiku memintaku kembali ke pusat rehabilitasi anak yang kemarin. Padahal sudah tahu biayanya sangat mahal.

Alhamdulillah, setelah menghadap ke kepala sekolah, akhirnya anakku resmi terdaftar di playgrup/kelompok bermain di sana.

“Yang dibutuhkannya adalah sering-sering bermain dengan teman sebaya. Sebab kalau dari fisik si anak tidak ada gangguan apa-apa.”

Terngiang kembali ucapan psikolog anak yang memeriksa anakku tempo hari. Alhamdulillah, akhirnya kutemukan jalan keluar untuk anakku. Yang penting anakku bisa belajar berinteraksi dengan kawan-kawan sebayanya. Kulihat juga dia tampak jauh lebih menikmati dibandingkan saat kubawa terapi. Mungkin karena terapi di tempatku bekerja, masih dengan suasana rumah sakit, ya. Jadinya untuk anak-anak masih terasa kurang nyaman.  Apalagi memang gedung rehabilitasi masih menumpang sementara gedungnya masih direnovasi.

Ya sudah, yang terpenting anakku bisa mendapatkan apa yang menjadi haknya.

Bandar Lampung, 16 Mei 2020 (23 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan