Anak autis

Surat untuk Putraku (Part 22): Episode Belajar Bicara Bagian 1

Episode: Belajar bicara part 1

Part sebelumnya di Surat untuk Putraku (Part 21): Anjuran Iktikaf untuk Laki-Laki

“Adek ini cerewet, ya.”

Aku tersenyum geli mendengar komentar dari papanya karena si Farris terus menerus mengoceh. “Haha, iya, Pa. Begitulah. Dulu telat ngomong, giliran udah ngomong, enggak mau berhenti, kan?”

Bertolakbelakang dengan kakaknya, Sophia, yang didiagnosis telat berjalan sampai pernah mendapatkan surat rujukan untuk fisioterapi namun tidak kuindahkan (dan akhirnya Sophia berhasil berjalan pada usia 19 bulan, seperti yang kuceritakan pada “Teruntuk Putriku Sophia”). Nah, giliran adiknya, pada usia lebih dari dua tahun, namun belum juga bisa bicara. Kembali aku harus menerima surat rujukan dari dokter spesialis anak untuk membawa anakku ke fisioterapi. Kali ini akhirnya kupenuhi permintaan dokter tersebut.

“Ibu, anaknya harus menemui psikolog anak dulu, ya. Ditentukan dulu terapi apa yang diperlukan dan frekuensinya per minggu. Jadi untuk tahapan pertama kita jadwalkan untuk bertemu psikolognya dulu, ya.”

Aku sudah tiba bersama anakku, Farris, di sebuah tempat khusus rehabilitasi untuk anak. Tempat ini indah sekali, bernuansa ungu, dari ruang tunggunya saja sudah bikin betah. Ada pilihan snack yang bisa dibeli di meja. Hihi, taktik promo yang bagus.

Aku terkejut saat melihat pintu kaca sudah ada seorang anak di baliknya. Anak perempuan, kira-kira berusia enam tahunan.

“Wawawawawa ….” Anak itu menempelkan wajahnya di pintu kaca sambil terus membunyikan mulutnya.

“Andien, ayo masuk, ya.” Kulihat seorang berpakaian ala nanny menggandeng tangannya untuk mengajak masuk ke ruangan. “Yuk, salim tangan sama miss.”

Anak yang dipanggil Andien itu menurut waktu diajak mencium tangan mbak-mbak yang tadi mengajakku bertemu psikolog anak. Namun kulihat matanya memutar seperti tidak fokus.

Setelah itu, sang nanny mengajaknya masuk ke ruangan sebelah dalam. Dari balik pintu menuju ruangan dalam, sudah ada seorang mbak lagi yang menyambut kedatangan anak. Yang mengantar tidak dipersilakan masuk, jadi harus menunggu di ruang tunggu.

Dalam hati aku sudah mengetahui, bahwa si anak tampak seperti autis. Bermacam anak yang mengikuti terapi di sini. Kesemuanya membawa tas dan peralatan makan, seperti berangkat sekolah biasa. Bisa dibilang pusat rehabilitasi ini juga merangkap sebagai sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, hanya lebih canggih. Yang kulihat di brosur, bahkan ada fasilitas kolam renangnya. Luar biasa.

“Bu, nanti kami hubungi ya, untuk menyesuaikan waktu dengan psikolognya.”

“Baik, Mbak,” jawabku.

Beberapa hari kemudian, aku kembali ke tempat ini, setelah mencocokkan dengan jadwal kerjaku yang shift-shiftan, akhirnya ditemui kesepakatan untukku kembali bertemu dengan psikolog anak.

“Mari, Bu. Anaknya bisa masuk, Ibunya menunggu di sini dulu, ya. Yuk, Dek.”

Aku menurut saat gandengan tanganku dilepas Farris dan berpindah ke tangan Mbak itu. Ah, anakku memang orangnya mudah dekat dengan orang ini, berbeda dengan kakaknya yang masih malu-malu saat kuajak bertemu orang yang belum dikenalnya.

Sebenarnya aku hanya beberapa menit menanti, tapi bagiku sudah lama. Rasanya udah kangen saja sama Farris, ingin mengetahui apa yang dilakukannya di dalam sana. Padahal biasanya anak-anakku yang sabar menanti kepulanganku dari bekerja. Hiks, maaf, ya, anak-anakku sayang. Giliran aku yang menunggu kalian, sudah tak sabar begini.

“Ibu, mari masuk, ikuti saya.” Tak lama si Mbak tadi sudah membuka pintu dan mengajakku masuk ke ruangan tersebut. Aku terheran, kok, anakku tidak bersamanya. Jawaban baru kutemui setelah berada di ruang psikolog.

Kulihat Farris masih asyik bermain. Kulihat seperti playland yang sering ada di mall. Pantas saja anakku betah di sini. Dia sedang bermain terowongan sampai tak melihat kedatanganku.

Setelah Mbak tadi menunjukkan anakku, baru aku masuk ke ruang psikolog di sebelahnya.

“Ibu, saya sudah periksa anaknya. Sepertinya hanya telat berbicara karena kurang mendapatkan respon saja. Bukan dari fisiknya. Alhamdulillah tidak ada kecacatan fisik yang saya temui.”

Psikolog anak itu menyampaikan setelah wawancara tentang anakku. Semua ditanyakan, mulai dari pengalamanku selama kehamilan Farris, siapa yang menjaganya ketika aku bekerja, dan bagaimana lingkungan sekitar rumah.

 “Intinya, dia butuh lingkungan bermain dengan teman-teman sebayanya. Dari situ si anak akan belajar bagaimana cara berinteraksi. Ibunya juga, jangan diem sama anaknya, harus lebih heboh.”

Duh, merasa tertohok. Selama ini bukannya aku tak pernah mengajaknya bicara. Namun sepertinya aku memang masih kurang heboh. Sama anak sendiri enggak boleh introvert ternyata. Hihi.

“Saya sarankan kita lakukan terapi tiga kali seminggu. Nanti bisa Ibu tentukan jadwalnya mau hari apa.”

Aku menghela napas. Sebenarnya ada hal lain yang kupikirkan. Tempat ini lokasinya lumayan jauh dari rumahku. Jika harus ke sini sekali-sekali saja, rasanya tidak masalah. Namun kalau rutin, siapa yang hendak mengantarkan? Papanya juga bekerja di luar kabupaten. Aku saat itu belum bisa membawa kendaraan.

“Yuk, Nak, toss, yuk.” Sang psikolog anak mengajak anakku ber-high-five. Ternyata dia masih kesulitan menanggapinya. “Ayo, Nak. Yang kencang pukulnya.”

Aku jadi tersadar selama ini tidak pernah mengajaknya tos. Ternyata itu bagian penting untuk menunjang motorik anakku.

Huhu, maafkan Ummi, Nak. Kukira perjalanan ke depan akan jauh lebih lancar, dibandingkan pengalaman sebelumnya saat membesarkan kakakmu yang banyak menguras air mata. Tapi ternyata hidup memang tak pernah lepas dari ujian. Sekali lagi aku harus menemui dan berusaha menyelesaikan.

Itulah hidup, Nak. Adalah sekumpulan ujian yang harus kita lewati dengan baik. Supaya setelah ujian selesai, kita akan naik satu peringkat lebih baik dari kita sebelumnya.

Bandar Lampung, 15 Mei 2020 (22 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan