Al Quran

Surat untuk Putraku (Part 21): Anjuran Iktikaf untuk Laki-Laki

Anjuran Iktikaf untuk Laki-Laki

Part sebelumnya di Surat untuk Putraku (Part 20): Nyaman dan Damai

Masya Allah, tanpa terasa 20 hari sudah kita jalani di bulan Ramadan ini. Itu artinya tinggal tersisa 10 hari terakhir. Pada kesepuluh hari terakhir ini kita umat Muslim, dianjurkan untuk semakin memperkencang ibadah. Biasanya yang terjadi malah sebaliknya. Ada istilah, seperti yang sering dikatakan dalam ceramah-ceramah ustaz di bulan Ramadan, yaitu biasanya tarawih mengalami kemajuan seiring dengan hari-hari terakhir Ramadan. Hal itu merupakan sindiran, sebab yang dimaksudkan kemajuan, adalah saf salatnya yang makin maju, alias jamaahnya tinggal sedikit, hanya tersisa beberapa gelintir orang saja yang setia datang ke masjid.

Pada 10 hari terakhir Ramadan, umat Muslim dianjurkan beriktikaf untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar. Iktikaf berasal dari bahasa Arab, akafa, yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Iktikaf itu artinya diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang yang sedang beriktikaf disebut mu’takif.

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 125, Allah SWT berfirman mengenai pelaksanaan iktikaf di masjid, yang berbunyi, “Dan ingatlah, ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah makam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk, dan orang yang sujud.’”.

Syarat untuk melaksanakan iktikaf adalah berniat, bersuci dan sudah akil balig, alias sudah dewasa. Nanti kita bahas juga mengenai ketentuan akil balig ini ya, Nak.

Apa saja yang dilakukan di masjid saat beriktikaf? Antara lain mendirikan salat. Salat yang dilakukan tak hanya salat wajib, tapi juga salat sunah seperti salat tarawih, tahajud, witir, salat hajat, dan lainnya. Selain itu juga dianjurkan untuk memperbanyak membaca Alquran, termasuk terjemahannya. Agar kita paham dan bisa menuruti perintah Allah dalam Alquran.

Pedoman hidup umat Islam adalah kitab suci Alquran, Nak. Sesuai dengan yang diajarkan di pelajaran agama tentang rukun iman dan rukun Islam. Kita harus praktikkan, tak cukup hanya sekadar menghafal. Karena di balik keenam rukum iman dan kelima rukun Islam ini, ada ilmu yang dahsyat dan sangat bermanfaat bagi keseharian kita. Seperti yang pernah Ummi pelajari dalam pelatihan ESQ (Emotional Spiritual Quostient).

Selain itu, zikir juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam beriktikaf. Kau tahu, apa saja zikir itu? Bertasbih, bertahmid, tahlil, istigfar, dan sebagainya. Intinya tujuan kita berdiam diri di masjid adalah melaksanakan semua amalan yang akan mendekatkan diri kita pada Illahi serta memohon ampunan-Nya.

Hukum iktikaf sesungguhnya adalah sunah. Artinya dianjurkan, berpahala bila dikerjakan, namun tidak berdosa bila tidak dikerjakan. Hukum ini berlaku sama bagi laki-laki maupun perempuan. Namun utamanya dilaksanakan laki-laki, karena mulianya bagi seorang laki-laki adalah melaksanakan ibadah di masjid, berkebalikan dengan perempuan, yang justru lebih mulia jika melaksanakan ibadah di rumah.

Tentu hal ini berlaku bila sudah akil balig. Bila perempuan dikatakan sudah akil balig jika sudah mengalami haid/menstruasi, maka bagi laki-laki, tanda akil balig, ditandai dengan mimpi basah. Mimpi basah adalah mimpi bersetubuh hingga keluar sperma. Ya, sperma yang menjadi awal mula benih seorang manusia berasal dari laki-laki. Secara bahasa, akil artinya berakal, memahami dan mengetahui. Sementara, balig berarti seseorang yang sudah mencapai usia tertentu dan dianggap sudah dewasa. Perubahan ini bukan sekadar mimpi, tapi juga dibarengi dengan perubahan biologis pada fisik seorang laki-laki.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi Muhammad SAW, bersabda, “terangkatlah pertanggungjawaban dari tiga golongan, yaitu orang tidur hingga ia bangun, anak-anak hingga ia ihtilam (bermimpi basah dan mengeluarkan mani), dan orang gila hingga ia sembuh (kembali berakal).”

Akil balig adalah suatu tanda bahwa semua amalan yang diwajibkan menjadi tanggungjawabmu secara penuh, Nak. Bukan lagi orang tua. Maka, Ummi sangat menganjurkan kamu membiasakan diri dengan ibadah-ibadah sesuai tuntunan agama kita, Nak. Sebelum mencapai usia akil balig, lebih baik prepare dengan sebaik-baiknya.

Namun di luar semua penjelasan Ummi di atas, ada yang berbeda dengan Ramadan tahun ini. Jangankan beriktikaf, salat tarawih pun dianjurkan dilakukan di rumah. Ini semua karena adanya wabah pandemi Covid-19 yang sedang mendunia, maka suasana Ramadan jauh berbeda dibandingkan biasanya.

Baru saja setahun lalu, Ummi mencoba membiasakan dirimu untuk pergi ke masjid, kali ini tidak bisa. Sekarang yang terpenting menjaga kesehatan masing-masing. Bahkan sekolah pun dilaksanakan secara daring.

Kadang kita jalankan tarawih berjamaah bergabung dengan Yai-mu (kakek). Tak jarang dikarenakan hujan deras, akhirnya kita berjamaah saja di rumah. Ummi memang belum mewajibkannya untukmu, Nak. Namun Ummi akan sangat bahagia bila anak-anak Ummi mau membiasakan diri menjalankan amalan sebelum akil balig.

Bandar Lampung, 14 Mei 2020 (21 Ramadan 1441 H)

nulisbarene/EmmyHerlina

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan