Farris, Putra Emmy

Surat untuk Putraku (Part 20): Nyaman dan Damai

Surat untuk Putraku (Part 20): Kehamilan dan Persalinan yang Nyaman dan Damai

Part sebelumnya di https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-19-dari-sakit-gigi-hingga-bronkhitis/

“Selamat ya, Emmy.”

“Bayinya lucu banget, My, gemuk, pipinya tembem.”

Aku tersenyum mendengar seruan dari ayah mertua dan ibuku. Dinginnya ruangan operasi tak terasa lagi olehku. Kugenggam erat tangan suamiku yang juga sedang tersenyum. Masih teringat jelas, bagaimana kudengar kencangnya suara tangisan begitu bayi itu diangkat dari tubuhku.

“Laki-laki, Bu,” seru sang dokter.

Aku memang menolak saat ditawari bius umum. Aku memilih untuk tetap tersadar meski tubuhku sangat tak bisa menahan suhu dingin ruang OK.

Syukurlah, banyak yang menemaniku di sini. Dari mulai dokter anastesi, penata, serta bidan yang menjadi asisten dan melakukan heacting pada lukaku, semuanya adalah teman.

“Kakak, suaminya sudah acc kan, dipasang spiral?” tanya bidan yang merupakan temanku juga di sana.

“Iya, Dek, tolong ya, Dek. Aku tadi lupa ngomong sama Dokter.”

“Iya, Kak. Sudah dipasang ya, Kak, spiralnya.”

Bahkan pemasarangan IUD (Intra Uterine Device) sebagai alat kontrasepsi pun berjalan lancar. Padahal aku baru teringat hal itu ketika menjelang masuk ke ruangan operasi, setelah infus dan kateter dipasangkan ke tubuhku. Sebab kehamilan kedua ini diawali dengan tak terduga, rasanya aku belum siap bila ada kejutan selanjutnya, setelah dua kali perut dibedah. Aku menurut saat dokter memutuskan dilakukan operasi SC sekali lagi, dikarenakan jarak kehamilan yang cukup dekat. Setahuku, jika ingin melahirkan normal, setidaknya harus minimal berjarak 3 tahun, itupun saja, harus dilakukan di rumah sakit, karena biasanya bidan praktik tak mau menempuh resiko itu. Belum termasuk persyaratan lainnya, antara lain proses persalinan tidak boleh berlangsung lama, dan sebagainya.

Salah satu ibu hebat yang berhasil melahirkan normal setelah operasi sesar adalah ayuk kandungku yang sulung. Tentu saja, di mataku itu sangat hebat dan luar biasa.

Anyway, aku sangat bangga dengan kelahiran kali ini. Bangga karena akhirnya benar-benar anak lelaki yang berhasil kulahirkan. Aku merahasiakan hal ini, meski aku sudah tahu bahwa janin di dalam tubuhku adalah lelaki sejak usia kehamilan 6 bulan. Dokter sudah memastikannya berkali-kali, bahkan pernah aku mencoba USG di dokter lain, hasilnya tetap sama.

Tapi tidak ada seorang pun yang tahu, tentu selain suamiku sendiri. Kalau ada temanku yang bertanya, biasanya aku hanya menjawab, “doain aja sehat, ya. Ya, syukur kalau laki-laki, kalau perempuan lagi juga, enggak apa-apa.”

Suamiku mempersiapkan namanya, walau sempat kebingungan mencari nama untuk anak lelaki. Well, tak seperti kakak, yang memang ditunggu-tunggu dan sudah dipersiapkan nama sejak kami masih pacaran di bangku kuliah, suamiku belum siap sebuah nama untuk anak lelaki. Akhirnya didapatkanlah nama “Farris”, menjelang kelahiran.

Aku meminta gawaiku yang sebelumnya dipegang oleh suami selama aku menjalani operasi. Aku ingin lekas mengabari teman-teman kerjaku. Jadwal cuti sebenarnya baru mulai dari hari Senin, namun Sabtunya ternyata aku sudah direncanakan operasi. Bahkan jadwal ini sudah mundur dari yang direncanakan dokter sebelumnya, tanggal 15 Mei. Namun aku tidak ingin terburu-buru dan ingin menggenapkan 38 minggu kehamilan. Selain karena alasan belum ada kamar juga.

Tak lama setelah aku mengetikkan pesan sekaligus izin tidak bekerja, ponselku berbunyi. Aku yang masih berada di ruang recovery segera mengangkat telepon itu, mumpung perawat sedang tidak di ruangan.

“Em, selamat, ya, Em. Semoga anaknya jadi anak yang salih, duh, dapet anak cowok,” seru temanku di seberang sana.

Aku berterimakasih dan tersenyum bangga. Aku benar-benar merasa bahagia. Hal yang membuatku bahagia karena kehadiranmu begitu menghiburku, Nak. Segala pengalaman dan kisah sedih yang kualami selama kehamilan dan persalinan kakakmu, kali ini tidak perlu kurasakan.

Ketika menjalani operasi lahiran kakakmu, Ummi sudah merasa kelelahan. Sebab dari semalam sudah merasakan induksi persalinan, kontraksi yang menyakitkan namun tidak mendapatkan hasil. Kali ini, tidak ada kontraksi sebelumnya.

Setelah kakakmu lahir, tidak ada suara tangisan yang keluar dari mulutnya. Kondisinya ternyata sempat gawat ketika itu. Berbeda sekali karena Ummi bisa dengan jelas mendengar tangisamu yang begitu kencang, khas suara bayi lelaki.

Tidak pula ada drama fototerapi yang dulu terjadi pada kakakmu. Ummi bisa dengan tenang menyusuimu di rumah, tidak pula mengalami kesakitan karena pembengkakan payudara. Belakangan Ummi tersadar, terjadi hal ini dipengaruhi juga karena golongan darahmu sama dengan Ummi. Kamu tahu, Nak, seorang ibu yang bergolongan darah O, saat hamil anak yang memiliki golongan darah selain O, maka kemungkinan besar akan terjadi kuning (ikterik) pada anaknya. Hal ini hanya berlaku bagi ibu dengan golongan darah O.

Hal membahagiakan berikutnya, Ummi merasa sangat bangga, bisa menyusuimu secara eksklusif. Hal yang juga tidak terjadi pada kakakmu, Sophia. Ummi dulu merasa sangat kesulitan, hidup masih menumpang sampai pindah rumah empat kali. Sedangkan sebelum melahirkanmu Ummi sudah menempati rumah sendiri. Ummi bebas mengatur isi kulkas di rumah Ummi, dan mengisinya dengan banyak stok ASI, sehingga cukup untuk persediaan selama bekerja, setelah selesai masa cuti.

Selain itu, Ummi juga merasa lega berhasil untuk tetap menyusui kakakmu selama kehamilan ini. Kau anak yang sangat kuat, Nak. Berhasil untuk bertahan di dalam rahim ini, meski perjuangan Ummi menyusui kakakmu belum usai. Barulah menjelang operasi SC, Ummi akhirnya menghentikan pemberian ASI pada kakakmu, sementara usia kakakmu saat itu sudah lebih dari 2 tahun.

Farris, kehadiranmu banyak memberikan kebahagiaan bagi Ummi, Nak. Akikah yang dijalankan sekitar 2 minggu setelah kelahiranmu berjalan lancar, walau hanya dibagikan ke panti asuhan dan tetangga sekitar rumah. Tidak ada acara syukuran seperti yang diadakan untuk kakakmu, (meski saat itu juga acara syukurannya berbarengan dengan sepupu kalian, Bariq) Ummi mohon maaf, Nak.

Dengan berbagai pertimbangan acara syukuran untuk tidak diselenggarakan besar-besaran. Yang terpenting adalah menjalankan kewajiban memotong dua ekor kambing untuk mengakikahkanmu.

Yang terpenting adalah kau tahu, Nak, betapa kedua orang tuamu sangat menyayangimu. Betapa kehadiranmu menceriakan duniaku. Betapa kamu adalah penyelamat hidup Ummi, pengobat luka yang dulu sempat hadir di hati Ummi karena merasa gagal sebagai orang tua.

Farris, Ummi begitu menyayangimu.

Bandar Lampung, 13 Mei 2020 (20 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan