Farris, Putra Emmy

Surat untuk Putraku (Part 2) oleh Emmy Herlina

Surat untuk Putraku (Part 2)

Part sebelumnya: https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-1-oleh-emmy-herlina/

Saat pertama kali Ummi menemukan dua garis merah muda pada hasil test pack (alat periksa untuk kehamilan), jujur saja Ummi merasa was-was. Bukan berarti tak bersyukur. Tapi karena ketika itu Ummi masih menyusui kakakmu, Sophia. Saat itu Sophia belum genap berusia dua tahun.

Bukankah seorang ibu dianjurkan menggenapkan waktu menyusui anaknya, hingga usia dua tahun. Seperti yang dikatakan Allah dalam Al-Quran.

Awalnya Ummi merasa kehadiranmu terlalu cepat. Sampai-sampai Ummi takut untuk memberitahukan hal ini kepada papamu, kepada siapapun. Ummi memeriksakan diri ke dokter kandungan yang jauh dari rumah sakit tempat Ummi bekerja, supaya teman-teman Ummi tidak ada yang melihat Ummi periksa ke dokter kandungan.

Benar saja. Setelah memastikan diri periksa melalui alat USG, kata dokter, Ummi benar-benar sedang hamil. Sampai dikatakan begini oleh dokter, “wah, bakal sesar lagi nih.”

Iya, benar. Ummi melahirkan anak pertama dengan cara operasi sesar. Kalau boleh memilih, tentu saja Ummi ingin melahirkan secara normal. Bahkan Ummi sudah mengusahakan supaya bisa lahiran normal, tapi ternyata gagal. Kegagalan yang membuat Ummi sangat terpuruk dan merasa gagal menjadi seorang ibu, dulu. (Seperti yang kuceritakan dalam “Teruntuk Putriku, Sophia”)

Menurut dokter, karena jarak kelahiran yang terlalu dekat, Ummi pun nantinya harus melahirkanmu secara operasi sesar juga. Apapun itu, Ummi sudah pasrah. Ummi sudah tak ingin suudzan seperti dulu lagi. Apa yang terjadi, terjadilah. Takdir Allah pasti yang terbaik.

Meski dalam hati sempat terbersit ingin VBAC. Yaitu Vaginal Birth After Caesarean; melahirkan per vaginam setelah operasi sesar. Tapi salah satu syarat yang harus dipenuhi, setidaknya harus berjarak tiga tahun dengan kelahiran pertama.

Ya sudahlah. Bukankah kelahiran baik secara operasi maupun per vaginam itu sama saja, tak lantas menjadikan seorang ibu tak pantas jadi ibu, kan.

Setelah meyakinkan kehamilan kedua, Ummi juga tak lantas memberitahukan papamu. Orang yang pertama Ummi beritahukan adalah Ayuk Ana, kakak kandung Ummi yang ketiga. Ummi cuma sekadar ingin berkata jujur. Karena Ummi masih belum berani memberitahukan yang lain.

Tapi Ummi tahu, setidaknya papamu harus tahu, Nak. Meski kami memulai tanpa persiapan, tidak seperti ketika kehamilan pertama yang memang begitu dinanti setelah 2,5 tahun belum dikaruniai buah hati.

Ah, berbeda cara, beda pula pengalamannya. Di saat kehamilanmu, terus terang kondisi Ummi jauh lebih stabil. Bukan saja karena Ummi sudah menjalani jadwal kerja yang sudah teratur (tidak bekerja shift lagi). Juga karena Ummi tak perlu mengurusi jenazah maupun berhadapan dengan pasien yang kadang-kadang meledakkan emosi. Ah, ini juga dikarenakan Ummi belum tahu cara menangani diri sendiri waktu itu. I felt like my life was a mess.

Tiap hari Rabu malam, jadwalnya papamu pulang. Kami yang menjalani Long Distance Marriage sejak sebelum kehadiran kakakmu, sudah biasa dengan jadwal mingguan ini. Papamu yang bekerja di luar kabupaten, akan pulang tiap dua kali seminggu, tiap malam Rabu dan malam Sabtu (libur tiap Sabtu-Minggu).

Kebetulan Ummi memeriksakan ke dokter pada hari Rabu pagi. Berarti mau tak mau, Ummi harus siap memberitahukan hal ini. Bismillah.

Malamnya, menjelang tidur, setelah papamu sudah membersihkan diri dan juga bersiap diri untuk tidur, Ummi berkata, “Pa, ada satu hal yang ingin kusampaikan. Tolong, jangan marah.”

Raut wajah papamu menunjukkan kecurigaan, Nak. Keningnya semakin berkerut setelah Ummi meletakkan tangan papamu di atas perut Ummi, sambil berkata, “aku hamil. Ada calon adiknya Sophia di sini.”

Bandar Lampung, 25 April 2020 (2 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

11 comments

  1. Penasaraaan, apa kata suaminya mbak, marahkah atau justru malah bahagia. Ah, pasti gembira kan kehamilan pertama 2,5 tahun nunggunya.

Tinggalkan Balasan