Surat untuk Putraku (Part 19): Dari Sakit Gigi hingga Bronkhitis

Surat untuk Putraku (Part 19): dari Sakit Gigi hingga Bronkhitis

Part sebelumnya https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-18-dia-yang-berulang-tahun-di-bulan-mei-oleh-emmy-herlina/

Kehamilan yang nyaman, jadwal kerja yang teratur serta tidak perlu mengurus perawatan jenazah, itulah beberapa hal yang menjadikan kondisi hati saat menjalani kehamilan kedua jauh menjadi lebih baik dibandingkan saat Ummi menjalankan kehamilan pertama. Tak hanya itu, jika di saat kehamilan pertama aku merasa seolah harus membayar mahal atas kehamilan. Karena aku mendapatkan anugerah kehamilan setelah dua setengah tahun pernikahan, namun sekaligus kehilangan almarhum ayah untuk selama-lamanya berbarengan usia kehamilan empat bulan.

Bisa bayangkan seperti apa perasaanku? Bisa bayangkan bagaimana kuharus mencegah agar hati tak dikuasai kesedihan sehingga dapat mempengaruhi janin yang ada di dalam?

Ummi patut berlega hati, kamu tak perlu merasakan semua itu, Nak. Namun perjuanganmu pun dimulai sejak masih di dalam kandungan, di mana dirimu tetap bertahan tumbuh sehat selama Ummi menyusui kakakmu. Baca di https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-6-oleh-emmy-herlina/

Kamu memang anak yang kuat. Tak hanya itu, Ummi pun harus menahan sakit gigi enggak ketulungan selama kehamilan ini.

Cerita berawal dari keluhan sakit gigi yang timbul di masa-masa menyusui kakakmu. Waktu itu Ummi belum mendapatkan kehamilan kedua. Maka kuperiksakan ke dokter gigi, mengikuti alur sesuai dengan ketentuan BPJS, ujungnya balik di tempat kerja sendiri, rumah sakit pusat rujukan.

Sekali lagi, Ummi harus mengikuti alur. Jadi ditentukanlah jadwal operasi gigi, dan kudapatkan jadwal di akhir tahun, tepatnya bulan Desember. Tanpa diduga sebelumnya, ternyata takdir memberikanku anugerah seorang janin di dalam kandungan, yaitu dirimu, Nak.

Alhamdulillah, bagaimanapun Ummi menerima kehamilan ini dengan senang hati. Ummi akhirnya membatalkan jadwal operasi gigi, karena bagi seorang ibu hamil tidak boleh sampai cabut gigi, akan berbahaya bagi janinnya. Tak hanya itu, ibu hamil pun harus menjaga kesehatan giginya. Banyak dijumpai keluhan yang dialami ibu hamil berupa sakit gigi, atau gusi berdarah.

Hal ini dikarenakan ketika hamil, ibu hamil membutuhkan asupan kalsium dalam rangka pembentukan tulang bagi janin yang dikandungnya. Jika asupan yang dikonsumsi tidak mencukupi, maka kebutuhan kalsium akan diambil dari tulang sang ibu, termasuk kandungan kalsium pada giginya. Nah. Makanya sangat penting mulai dari trimester kedua, seorang ibu hamil haruslah mengkonsumsi asupan kalsium, baik juga disertai vitamin c yang mendukung penyerapan kalsium.

Bagaimana denganku yang memang sudah punya masalah pada gigi, sehingga harus dioperasi gigi, namun batal karena kehamilan. Awalnya aku masih bisa menahan diri. Namun keluhan itu datang saat mendekati trimester akhir.

Lubang pada gigi semakin menjadi dan tidak tertahankan. Padahal aku sudah mengkonsumsi asupan kalsium yang banyak. Karena tak tahan, akhirnya aku pergi ke dokter gigi. Dokter juga tak berani memberikan banyak terapi, karena kehamilan ini. Akhirnya gigiku hanya dilakukan penambalan dan Ummi diberikan obat paracetamol, untuk meredakan sakit. Tentu saja, analgetik terbaik itu asam mefenamat, yang tidak boleh dikonsumsi ibu hamil. Jadilah kutahan saja rasa sakit ini.

Masalah selanjutnya adalah alergiku kambuh. Aku memang mempunyai sakit bronkhitis yang bisa kambuh bila ada pemicu. Sebenarnya sakit ini sudah lama tak kambuh sejak aku menjalani jadwal kerja yang teratur. Tapi mungkin efek dari kelelahan juga, akhirnya bronkhitis timbul kembali di usia kehamilan 8 bulan.

Tak perlu menyampaikan kepada dokter tentang kehamilan, karena memang sudah jelas terlihat. Jadi Ummi percayakan pada dokter hendak memberikan terapi apa yang aman bagi ibu hamil. Ada obat antibiotik yang harus kukonsumsi.

Di saat itu, Ummi tidak langsung meminumnya. Ummi berusaha sembuhkan diri melalui obat pengencer dahak saja, tanpa antibiotik. Lama-lama sakit Ummi bukannya sembuh, malah semakin parah. Dokter menyampaikan, justru kasihan bayinya, kalau ibunya sakit-sakitan. Bagaimanapun menjaga kondisi tubuh adalah kewajiban bagi ibu hamil. Ibu sehat, maka anak di dalamnya pun akan sehat.

Akhirnya Ummi pasrah. Ummi sempat merasa bersalah pada kalian berdua, Nak, baik kamu maupun kakakmu. Karena selama menjalani kehamilan dua kali, selalu saja bronkhitisku sempat-sempatnya kambuh. Andai ibu yang mengandung kalian lebih sehat dari ini.

Tapi, tentu saja, Ummi tak boleh menyalahkan diri sendiri terus menerus. Semua ini sudah ketentuan dari Allah swt. Ummi diberikan ujian ini, berarti Ummi sanggup menjalaninya. Masih banyak ibu lainnya yang mungkin memiliki sakit lebih parah dari Ummi. Ummi sering menyaksikan kehamilan yang beresiko. Ada ibu hamil yang disertai penyakit jantung, sakit TBC, bahkan juga ibu hamil yang menderita HIV juga ada. Yang terbaru yang baru Ummi saksikan di tempat bekerja, seorang ibu hamil yang mempunyai penyakit thalassemia sedang mempersiapkan lahirannya. Tentu saja kehamilan mereka jauh lebih beresiko dari yang Ummi alami. Resiko baik untuk dirinya maupun janin yang dikandungnya.

Apapun ujian itu, harus kita terima dan jalani dengan sebaik-baiknya, Nak. Pelajarilah ilmu acceptance. Dengan begitu kita akan bisa menerima kehidupan dengan hati ikhlas dan berlapang dada, sehingga kita akan lebih bahagia menjalaninya.

Bandar Lampung, 12 Mei 2020 (19 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan