Emmy dan Anak-anaknya

Surat untuk Putraku (Part 16): Another Story about Gender oleh Emmy Herlina

Surat Keenam Belas: Another Story about Gender

Sebelumnya di https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-15-episode-keuntungan-mempunyai-anak-laki-laki-oleh-emmy-herlina/

“Dan mereka menetapkan bagi Allah, anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl: 57-59)

Aku terdiam memandangi wajahmu yang sedang tertidur lelap. Kedua mata yang tertutup disertai bulu mata panjang yang indah. Kedua alis yang tebal. Anak rambut agak ikal jatuh sempurna menutupi telinga. Serta poni rambutmu yang menutupi dahi.

Aku menghela napas, entah untuk yang ke berapa kali aku mengagumi parasmu. Benarkah anak lelaki tampan ini terlahir dari rahimku?

Rasanya seperti mimpi. Melahirkan seorang anak lelaki saja sudah menakjubkan. Kau tahu, Nak, begitu sulit hidup di kalangan patriarki yang begitu mengagungkan anak lelaki. Ingin rasanya meneriakkan pernyataan, “hoi, yang penting anakku sehat dan tidak cacat! Laki-laki maupun perempuan, tetap saja tak mengurangi kebahagiaanku! Yang terpenting ketika dia terlahir sebagai anak lelaki, maka dia akan benar-benar sesuai dengan fitrah seorang lelaki, dan ketika dia terlahir sebagai perempuan, dia akan bertingkah sesuai naluri seorang perempuan. Itu yang terpenting, Kawan!”

Jadi teringat, sejarah pernah menceritakan bahwa di zaman jahiliyah, kala itu semua anak perempuan yang terlahir akan dibunuh. Berbeda sekali di zaman Firaun, di mana anak lelaki yang akan dibunuh karena ketakutan Sang Raja akan ramalan bahwa dia akan dibunuh seorang anak lelaki.

Kau tahu, Nak. Sesungguhnya memang laki-laki dan perempuan sama saja. Maksudku, sama dalam perbedaannya, beda dalam kesamaannya. Tentu saja, secara fisik jelas berbeda. Itu yang dinamakan perbedaan jenis kelamin.

Namun, secara kesempatan haruslah disamaratakan, baik kesempatan mengenyam pendidikan tertinggi, mendapatkan pekerjaan, bahkan yang paling simple, memakai baju warna apa saja. Hai, bukankah memang warna tak memiliki jenis kelamin. Kesempatan yang sama ini adalah persamaan gender.

Ummi jadi teringat, sebuah seminar yang pernah kuikuti bersama dengan teman-teman sesama blogger dari Lampung. Pada seminar tersebut dijelaskan bahwa ada perbedaan antara jenis kelamin dan gender. Jenis kelamin mengacu pada organ biologis laki-laki dan perempuan. Perbedaan jenis kelamin ini, kurasa sudah diketahui secara umum. Misalnya dikatakan anak laki-laki karena mempunyai penis dan dikatakan anak perempuan karena mempunyai vagina. Contoh lainnya, biasanya anak perempuan akan mengalami masa puber lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki.

Sedangkan gender adalah perilaku yang dianggap layak bagi laki-laki maupun perempuan. Jika jenis kelamin antara anak laki-laki dan perempuan pasti berbeda, namun gender harus setara.

Ummi juga pernah menceritakan hal ini dalam sebuah tulisan yang tercantum di buku Trik Jitu Atasi Problematika Anak Jilid 3, sebuah event Nubar dari Area Jawa Barat. Yaitu poin-poin beserta trik kesetaraan gender yang harus diterapkan orangtua dalam pengasuhan

  1. Posisi di masyarakat sama, tidak ada yang spesial. Jangan lagi ada kata-kata, “kamu bisa jadi presiden jika kamu laki-laki atau kamu bisa menjadi seorang fashion designer jika kamu seorang perempuan.” Ada baiknya, orangtua mengajarkan bahwa menjadi laki-laki dan perempuan itu sama-sama baik, tidak ada hak yang istimewa.
  2. Baik anak laki-laki maupun perempuan hendaklah mendapatkan kesempatan yang sama. Bebaskan anak untuk memilih. Tidak hanya warna, tapi usahakan untuk membebaskan anak memilih sendiri mainan atau benda-benda pribadinya.
  3. Tidak membedakan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan. Contoh: kita sering mendengar anak laki-laki dilarang menangis oleh orangtuanya. Katanya, “malu, kan kamu laki-laki.” Padahal anak usia dini masih berproses dalam memahami emosinya sendiri.
  4. Anak laki-laki boleh bermain dengan anak perempuan. Ketika anak dibiasakan untuk bermain dengan anak yang berbeda gender atau lawan jenis, maka mereka akan terbiasa dan cenderung jadi lebih percaya diri. Asal selalu ingatkan batasan anak yang wajib diketahui, seperti tidak boleh melihat aurat, dsb.
  5. Berikan contoh melalui pekerjaan rumah. Biasakan agar anak melihat bahwa pekerjaan rumah bisa dikerjakan siapa saja. Contoh: ayah bisa memasak dan ibu juga bisa mencuci mobil.

(Anak Laki-Laki, Anak Perempuan, Apakah Berbeda? oleh Emmy Herlina)

Pada akhirnya, cintaku pada kalian berdua, Sophia dan Farris, tak ada bedanya. Kalian berdua sama-sama terlahir dari rahimku. Kalian berdua memiliki kisah dan riwayat hidup yang berbeda dengan ujiannya masing-masing.

Ah, bukankah itu alasan yang sangat tepat, makanya surat untuk putraku ini harus lekas kuselesaikan. Seiring dengan buku untuk kakakmu yang sesaat lagi akan sampai di tangan, begitu pula harus segera kukhatamkan buku spesial untuk putraku tersayang, yaitu Farris. Ya, anak lelaki kesayanganku.

Sumber: Materi dalam acara “Sosialisasi Partisipasi Masyarakat dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung” yang diadakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung, bersama Tapis Blogger, pada tanggal 30 Juli 2018.

Bandar Lampung, 9 Mei 2020 (16 Ramadan 1441 H)

Nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan