Emmy dan Putranya

Surat untuk Putraku (Part 15): Episode Keuntungan mempunyai anak Laki-laki oleh Emmy Herlina

Surat untuk Putraku Kelima Belas

Episode: Keuntungan Mempunyai Anak Laki-Laki

Part sebelumnya https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-14-memaafkan-bukan-melupakan-oleh-emmy-herlina/

“Kalau macam Emmy, kayaknya enggak bakal, deh, dapetin anak laki-laki. Lihat saja, kakak kandungnya saja kebanyakan perempuan. Di keluarga besarnya, kebanyakan perempuan.”

Deg. Seseorang pernah mengatakan hal itu di hadapanku dan kalimatnya begitu tepat menghunus jantungku. Itu benar. Bahwa di keluarga besarku memang lebih banyak perempuan. Aku sendiri anak bungsu dari lima bersaudara, di mana ketiga kakakku adalah perempuan, dan hanya satu orang kakak laki-laki. Sementara di keluarga sepupuku, terdiri dari tujuh bersaudara, enam orang perempuan, dan hanya satu orang lelaki. Jadi, pas banget, bukan, judgement yang kuterima barusan. (Tapi, kok, sakit, ya?)

Wajar sekali kebanyakan orang tua menginginkan anak laki-laki. Coba tanya suku asli di daerah asalku. Bohong banget kalau enggak kepingin punya anak laki. Hihi.

Dilansir dari sebuah artikel di Kompas, keinginan mempunyai anak laki-laki umumnya didasari keinginan agar tidak mendapatkan resiko berlebih untuk pernik-pernik dan sebagainya. Apalagi di Indonesia yang mayoritas menganut sistem patriarki (termasuk di provinsi Lampung, tempat tinggalku), di mana sistem ini menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan, hak sosial serta penguasaan properti. Salah satu contohnya, setelah menikah, biasanya menantu perempuan harus ikut boyongan ke tempat keluarga sang suami. Istilahnya, “ngunduh mantu”. Jadi, kalau punya anak perempuan, sudah cantik, sudah besar, diboyong orang, mempunyai anak laki-laki berarti kebalikannya. (Meskipun tidak semuanya seperti ini, sih.)

Hal ini didukung juga oleh hadist Rasulullah SAW sebagai berikut: “’Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?’ Rasulullah menjawab: ‘Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: ‘Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?’ Rasulullah menjawab: ‘Ibunya’.” (HR. Muslim)

Menurut psikoterapis Dr. Nancy B. Irwin, pengasuhan yang sehat melibatkan keinginan untuk membesarkan seorang anak, apapun jenis kelaminnya. Hanya karena Anda belum pernah menjadi laki-laki, tidak berarti Anda tidak bisa membesarkan anak laki-laki yang hebat. Yang perlu dilakukan orang tua saat memiliki anak adalah mengasuhnya menjadi orang yang paling menyenangkan.

Jadi, menurut artikel di Kompas tersebut, ini dia beberapa keuntungan memiliki anak laki-laki:

  1. Bayi laki-laki cenderung lebih mudah dibersihkan saat berganti popok. Karena kebanyakan ibu, terlebih new mom, takut-takut untuk melukai bayinya. Padahal tidak perlu khawatir, ya. Semua ada tekniknya sendiri.
  2. Anak laki-laki memiliki kepercayaan diri secara fisik. Anak laki-laki umumnya memainkan permainan yang membutuhkan kemampuan motorik kasarnya, seperti berlari, bermain bola, berebut ayunan, bahkan berkelahi. Sekalipun dia lebih menonjol kemampuan motorik halusnya, seperti melukis, tapi tetaplah anak laki-laki akan tumbuh menjadi anak yang pede dengan tubuhnya.
  3. Mereka lebih terdorong untuk mengeksplorasi dunianya. “Sejak awal, kebanyakan anak laki-laki lebih banyak bergerak daripada anak perempuan,” kata Goldberg. :Dan mereka butuh lebih banyak ruang untuk melakukannya. Hal ini tidak akan berubah meskipun usianya sudah bertambah, dan dia akan merasa sangat nyaman mengeksplorasi dunianya, sehingga mengganggu zona kenyamanan Anda.”
  4. Mereka memiliki emosi yang lebih kuat. “Anak laki-laki yang masih sangat kecil cenderung memiliki emosi yang lebih kuat,” ujar Parker. Jadi, salah bila mengira anak perempuan lebih emosional dibandingkan laki-laki. Justru kebalikannya. Hanya saja, ketika usianya bertambah, anak laki-laki semakin sulit mengekspresikan perasaannya. Hal ini dipengaruhi juga, nih, kalau orang tua sering bilang, “hayo, anak laki-laki, kok, cengeng.” Padahal mengekspresikan emosi itu kebutuhan semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, betul, enggak?
  5. Anak laki-laki akan melindungi. Meskipun anak laki-laki sulit mengekspresikan perasaannya melalui kata-kata, namun mereka pintar mengungkapkan sayangnya pada orang tua maupun saudaranya kelak. Luar biasa sekali, ya.

Kira-kira betul, tidak, yang dikatakan dalam artikel tersebut, ya? Yang pasti, meskipun hasil USG menunjukkan adalah seorang anak laki-laki dalam kandungan Ummi yang berusia 6 bulan ketika itu, tetap saja Ummi memutuskan untuk tidak memberitahukannya selain pada papamu seorang. Yang ditakutkan, bagaimana kalau omongan orang-orang itu akan menjadi nyata? Apalagi judgement yang tadi Ummi sampaikan di awal. Biar sajalah, yang penting janin di rahimku bertumbuh dengan sempurna dan sehat selalu, itu pikiran Ummi saat itu, Nak.

Bandar Lampung, 8 Mei 2020 (15 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

5 comments

  1. Yess.. bener banget mbak Emmy..

    Hal lucu yg terjadi wkt aq hamil anak kedua (cowok) adl bbrp tmn q blg aq keliatan lbh cantik.

    Ada tmn yg nebak pasti ni cewek lg. Aq ga blg jg sih hasil USG nya. Bbrp uda mastiin, uda lah pasti cewek ini.

    Begitu lahir.. eh, ternyata cowok.. wkwkwk.

    Btw, segitunya amat yak org² ni. Ibu hamil dibikin tebak²an. 🤭 pdhl saat kita hamil kan sometime kita butuh support mental ya.

    Hikmahnya, skrg kalo ada tmn yg hamil, aq berusaha bgt buat nggak main tebak² manggis lagi. Huhuy.

  2. Alhamdulillah ternyata pada akhirnya memiliki anak laki-laki ya mbak. Setuju banget dengan adanya sedikit perbedaan yang terjadi di masyarakat patriarki dan juga agama, namun alhamdulillah saat ini wanita juga berhak memiliki pendidikan yang setara jadi komunikasi jadi lebih bagus untuk rumah tangga dikemudian hari:)

Tinggalkan Balasan