Surat untuk Putraku (Part 14): Memaafkan, Bukan Melupakan oleh Emmy Herlina

Surat Keempat Belas: Memaafkan, Bukan Melupakan

Pada surat sebelumnya, yaitu di https://parapecintaliterasi.com/surat-ketiga-belas-kasih-sayang-yang-sama-untuk-kalian-berdua-oleh-emmy-herlina/ Ummi menceritakan tentang kebahagiaan Ummi dikarenakan buku Teruntuk Putriku, Sophia, akhirnya keluar covernya. Buku yang Ummi buat dari kumpulan surat untuk kakakmu, yang kutuliskan tepat Ramadan setahun lalu, dalam rangka mengikuti sebuah challenge menulis. Namun, kamu tahu apa yang mendasari Ummi membuat surat untuk kakakmu itu?

Ummi masih ingat, beberapa hari sebelum Ramadan tahun lalu, ada seorang wali murid di sekolah kakakmu yang tiba-tiba mengatakan hal-hal buruk tentang kakak Sophia, Nak. Bukan hanya itu, ibu itu juga mengatakan hal buruk tentangmu. Ummi menerima perkataan itu ketika Ummi sedang bekerja, tiba-tiba saja dia mengirimkan chat via whatsapp bertubi-tubi.

Detilnya sudah Ummi ceritakan dalam sebuat event Nubar (Nulis Bareng) bertemakan Mindfulness Parenting, sebuah event spesial yang menyertakan alumni pelatihan saja sebagai kontributornya.

***

“Tolong ya, Bu. Anaknya diajari, jangan suka mukul temannya.”

Deg. Jantungku serasa berhenti berdetak saat membaca Whatsapp yang dikirimkan oleh salah satu orang tua murid. Masalahnya saat itu aku sedang bekerja, tak bisa fokus meladeni ibu itu. Teleponnya saja tak sempat kuangkat.

“Maaf, Bu. Saat ini saya sedang bekerja, saya izin konfirmasi dulu dengan gurunya ya, Bu.” Kuketikkan balasan untuknya. Tidak banyak hal yang bisa kulakukan saat ini.

Tak urung aku tak bisa berkonsentrasi. Rasanya ingin lekas pulang dan menanyakan kebenarannya pada anakku. Masih kuingat tidak ada yang aneh dengan perangainya saat pulang ke rumah tadi siang. Tadi aku masih ada di rumah karena hari ini jadwalku shift sore.

Kutanyakan kejadian sebenarnya pada wali kelasnya. Tak puas kuhubungi pula orang tua murid lainnya yang kukenal. Apa betul Sophia anakku, sering memukul temannya di kelas?

“Ya kalau yang mukul itu-itu aja, berarti orang tuanya yang salah mendidik.” Judgement yang kuterima saat itu begitu menyakitkan. Semua bersumber dari satu orang yang sama. (Not A Perfect Mom, But a Happy Mom oleh Emmy Herlina)

***

Kalau boleh jujur, saat itu Ummi merasa sangat malu. Ummi takut. Ummi kesal dan marah. Bagaimana bisa seorang seperti Ummi yang sudah mengikuti pelatihan parenting sana-sini, online maupun offline, sudah mati-matian berusaha mengubah diri, namun ternyata masih tidak becus sebagai orang tua, seperti yang dikatakan ibu itu.

Dia menasihati tentang pengalamannya melahirkan tanpa dia ketahui bahwa Ummi bahkan sudah mengamati (juga menolong persalinan) sejak Ummi belum menikah. Tak usah ingatkan soal luar biasanya melahirkan bayi mulai dari kepala dan sebagainya. Ketahuilah, akupun pernah menyaksikan seorang ibu yang meninggal dunia segera setelah dia melahirkan anaknya, hanya berselang beberapa detik saja.

Belakangan Ummi ketahui ternyata pengalaman-pengalaman itu telah tertanam di alam bawah sadar sehingga menimbulkan ketakutan tersendiri bagi Ummi saat melahirkan kakakmu. Lanjutannya bisa dibaca lengkap di buku Teruntuk Putriku, Sophia. Tulisan berikut ini yang tertulis di halaman belakang covernya.

***

“Seorang ibu melabrak saya, meski secara tidak langsung (melalui ponsel), mengatakan banyak hal tidak mengenakkan mengenai anak-anak saya yang menurutnya bersikap mengganggu anaknya di sekolah. Sementara sebelumnya tidak pernah ada laporan apapun dari gurunya.

Hal yang mengejutkan terjadi, ketika saya keesokan harinya datang menghadap, justru guru beserta kepala sekolahnya langsung meminta maaf pada saya, dan ibu tersebut tidak hadir memenuhi permintaan saya untuk bertemu. Nah, semua kejadian termasuk makian ibu itu, menjadikan ide terbersit untuk menuliskan tema ini.”

***

Writing is healing. Ummi mengenal istilah itu sejak duduk di bangku SD dulu. Sebagai seorang yang sering merasa tak punya teman bicara, Ummi menuliskan segalanya melalui buku harian. Ummi menulis untuk dikonsumsi sendiri, bukan untuk dibaca orang lain. Tak usahlah peduli soal tanda baca dan sebagainya, yang penting bagiku adalah meluapkan isi hati. Itu semua berhasil bagi Ummi. Ummi merasa kelegaan luar biasa setelah menuliskan pengalaman keseharian Ummi.

Sejak meniatkan untuk menjadi seorang penulis, akhirnya Ummi berhadapan dengan keharusan belajar penggunaan tanda baca, aturan kepenulisan sesuai KBBI dan EBI. Ummi belajar banyak hal. Bahkan termasuk saat seorang editor mengatakan tulisanku tak layak dimuat dalam sebuah buku antologi keroyokan. What? Iya, betul. Event tersebut tak seperti Nubar (Nulis Bareng, salah satu komunitas di mana Ummi sebagai manajer yang memegang area Sumatera) yang tidak pernah menolak naskah. Makanya kalau baru mulai belajar menulis dan belum menyiapkan mental, baiknya nulis di event Nubar saja. (Hehe, ngiklan sejenak)

Tapi Ummi sadar satu hal, mau menjadi penulis pun juga harus menyiapkan mental. Begitu pula sebelum menjadi orang tua, bahkan sebelum kita menikah. Kita harus mempunyai bekal sehat secara jiwa maupun raga. Karena jalan ke depan tak selamanya mulus.

Sama halnya pengalaman menjadi orang tua ini. Tiba-tiba ada gertakan yang harus Ummi hadapi, di saat keriwehan pekerjaan pula. Walau sempat merasa malu, tapi Ummi bersyukur telah memperoleh pembelajaran bagaimana mengelola emosi, bagaimana bersikap acceptance, menerima sesuatu sebagai bagian masa lalu kita, tapi bukannya membolehkan hal itu terjadi.

Dengarkanlah, Nak. Kamu berhak mengklarifikasi dan berusaha membela diri. Ya. Dengan tegas kukatakan, kamu berhak melakukan hal itu. Jangan sepertiku dulu yang cenderung membiarkan diri sebagai korban, pasrah saja dengan perkataan dan perlakuan atasan, membiarkan teman menjelek-jelekkan di belakang dan memfitnah, lalu pasrah menerima dipindahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Itu semua karena dulu, aku masih terkena Victim Mentality Syndrome.

Tapi ada hal yang harus kau lakukan yang tak kalah penting dari semuanya, yaitu memaafkan. Maafkanlah semua masa lalumu. Maafkanlah dirimu sendiri. Maafkanlah semua kejadian buruk yang menimpamu. Bukan berarti kamu membolehkan orang lain memperlakukan dengan buruk. Melainkan kamu memaafkan kejadiannya, bukan orangnya. Kamu memaafkan sebagai bukti bahwa kamu mencintai diri sendiri. Memaafkan untuk kelegaan hatimu. Pelan-pelan baru mulailah memaafkan orangnya, karena bagaimanapun menyimpan dendam tidak baik untuk kesehatanmu, baik jiwa maupun raga.

Dalam suatu pelatihan “Woman in Rainbow” yang diselenggarakan oleh Bapak Eko Chrismiyanto, seorang pakar analisis sidik jari, konsultan parenting dan rumahtangga, Ummi memperoleh ilmu sebagai berikut:

“Pikiran manusia memberikan kekuatan elektrik sebesar 6.270.000 setiap harinya. Lebih kuat lagi detak jantung kita, memberikan medan elektrik sebesar 6000 kali lebih besar daripada pikiran. Sementara emosi berpengaruh sebanyak 5000 kali lebih besar daripada pikiran manusia. Itulah pentingnya kita menjaga kestabilan emosi dan juga detak jantung kita, salah satunya dengan belajar untuk memaafkan masa lalu kita.”

Ah, lebih lengkapnya silakan baca lebih lanjut di sini: https://emm.my.id/2019/04/27/pentingnya-seorang-ibu-memahami-hukum-alam-semesta/

Memaafkan adalah satu hal dan melupakan adalah hal lain. Bagaimanapun kejadian itu sudah telanjur menjadi ide kepenulisan buku ini. Meski berawal secara menyakitkan namun harus mempunyai ending membahagiakan dan sarat hikmah. Walaupun nama beliau tidak secara gamblang Ummi sebutkan karena memang tidak perlu, bukan berarti Ummi melupakannya. Ummi bukanlah seorang yang mudah lupa.

Anggap saja buku ini tercipta karena “balas dendam”. Bukan dendam yang merusak kesehatan, melainkan sebuah dendam yang positif, untuk membuktikan bahwa aku jauh lebih baik dari judgement yang seseemak itu katakan tentangku. Buku ini lebih dari sekadar klarifikasi dan pengabadian pengalamanku bersama kakakmu, Sophia. Justru buku ini katakanlah tercipta sebagai alarm pengingat, bahwa jangan sekali-sekali mencoba berbuat macam-macam terhadap seorang penulis.

Bandar Lampung, 7 Mei 2020 (14 Ramadan 1441 H)

Nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan