Nyeri Perut

Surat untuk Putraku (Part 11): Makhluk Unik Bernama Perempuan oleh Emmy Herlina

Surat Kesebelas: Makhluk Unik yang Bernama Perempuan

Part sebelumnya https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-10-episode-kita-semua-pemenang-oleh-emmy-herlina/

Seharusnya Ummi senang sudah memasuki hari kesepuluh Ramadan. Tapi sayang sekali, hari ini Ummi terpaksa tidak menjalankan ibadah puasa. Iya, Nak. Untuk perempuan selalu ada cuti bulanan yang meringankan kami untuk tidak wajib beribadah, seperti salat dan berpuasa. Sebab dalam kondisi ini kami juga dinyatakan tidak suci.

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan Aisyah RA, “dahulu kami mengalaminya (haid), maka kami diperintah untuk mengqada puasa tapi tak diperintah untuk mengqada salat.” (HR. Muslim)

Haid atau menstruasi merupakan hal wajar dialami setiap perempuan setelah baligh (dewasa). Menstruasi terjadi ketika lapisan dinding rahim (endometrium) yang menebal luruh karena tidak adanya pembuahan sel telur. (Sumber: Alodokter) Begitulah dikarenakan perempuan memiliki rahim dan memproduksi satu ovum (sel telur) setiap bulannya, lalu dikarenakan sel telur tidak terpakai maka akan meluruh bersama dengan dinding sel rahim.

Tapi, tunggu dulu, kenapa hari ini terasa sakit sekali? Duuh …. Sekarang tiap kali Ummi mendapatkan giliran “tamu bulanan” pasti Ummi sekaligus merasakan dysmenorrhea.  Sebenarnya dysmenorrhea atau nyeri haid merupakan hal yang wajar karena disebabkan oleh kontraksi otot rahim yang dipicu hormon prostaglandin yang kadarnya meningkat tepat sebelum menstruasi dimulai.

Nyeri haid ini semakin menjadi sejak Ummi menggunakan IUD (intrauterine device, merupakan alat pencegah kehamilan yang dipasang di dalam rahim) sebagai alat kontrasepsi. Tepat ketika melahirkan dirimu Ummi langsung meminta untuk dipasangkan IUD, sebab hanya ini cara yang bisa dilakukan.

Ummi bahkan pernah memeriksakan diri beberapa kali ke dokter kandungan yang berbeda, demi meyakinkan diri bahwa baik-baik saja. Sebab nyeri yang ada sudah tidak tertahankan, Ummi takut ada apa-apa.

Tapi ternyata tidak, Nak. Kata dokter mungkin ini pengaruh dari psikologis. Ah, seorang perempuan yang sedang menjalani “tamu bulanan” memang mengalami kondisi fluktuasi emosi. Hal ini disebabkan oleh perubahan hormon yang terjadi pada tubuh perempuan saat menjalani menstruasi.

Penelitian mengatakan bahwa produksi hormon serotonin menurun ketika sedang menstruasi dan hal inilah yang menyebabkan naik turunnya hormon pada tubuh. Di awal datangnya haid, proses ovulasi mengakibatkan turun drastisnya hormon estrogen yang memiliki peran penting dalam reproduksi dan efek endorfin tubuh (kita tahu kan, endorfin adalah salah satu hormon yang memberikan efek kebahagiaan). Selain itu, pada saat mensturasi, hormon progesteron menjadi sangat bergejolak, ketika dia naik maka akan menyebabkan suasana hati menjadi suram dan putus asa. (Sumber: Kumparan).

Selain dikarenakan haid, perempuan juga mendapatkan keringanan boleh tidak berpuasa selama hamil dan menyusui, meski ada kondisinya sendiri.

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla meringankan setengah salat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.” (HR. An-Nasai No 2275, Ibnu Majah No.. 1667 dan Ahmad 4/347)

Ummi teringat beberapa hari setelah melahirkanmu, lalu tiba bulan Ramadan. Tapi Ummi seperti tidak merasakan karena tidak ada perubahan dalam keseharian Ummi. Ummi tetap makan tiga kali sehari dengan banyak sayuran supaya dirimu bisa mendapatkan cukup asupan ASI, Nak. Ummi merasa puas melihatmu menyusu dengan lahap dan tumbuh semakin sehat.

Seorang ibu menyusui tentu harus menjaga kondisi hati agar tetap bahagia. Seperti halnya ibu hamil bahkan juga perempuan yang sedang haid. Inilah sebuah tantangan, karena pengaruh hormon akan mempengaruhi emosi.

Kadang Ummi temukan tidak semua laki-laki mau memahami hal ini. Jika kami, perempuan, menjadi mudah marah atau menangis, kami akan dianggap lebay dan mengada-ada. Setidaknya itu yang seringkali Ummi terima dari papamu.

Seandainya kaum lelaki merasakan kerisihan dan kesakitan yang kami rasakan, belum tentu akan tahan, Nak. Bagaimana kondisi perut seperti diremas-remas, yang sempat Ummi gambarkan seperti ini:

Bagaimana jika kalian, lelaki, merasakan ini setiap bulannya? Bagaimana jika kalian, lelaki, merasakan perut membesar dalam sembilan bulan, membawanya ke mana-mana. Ada sebuah cerita tentang sahabat nabi yang bernama Umar bin Khattab, seorang yang kita kenali betapa ketegasannya membuat takut para musuhnya. Namun sekalipun Umar tak pernah memarahi istrinya. Umar bin Khattab berkata, “aku cukup tenteram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu, aku menerimanya sekalipun dimarahi.” (Sumber: Detiknews). Makanya itu dia tidak pernah marah kepada istrinya sekalipun. Namun tidak banyak lelaki yang bisa berempati, Nak.

Bahkan Nabi Muhammad SAW bersabda, “sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik bagi istrinya, dan aku adalah orang yang terbaik terhadap istriku.” (HR. At-Thirmidzi)

Jika dapat Ummi memilih, lebih baik Ummi menjalani lapar dan hausnya beribadah puasa, dibandingkan rasa sakit yang menjadi-jadi seperti yang kini Ummi alami. Bagaimana kesakitan itu sangat nyata, sementara Ummi tidak bisa bebas makan dan minum karena menjaga teman-teman di kantor yang sedang berpuasa.

Tidak perlu berusaha dan membayangkan mengalami yang kami alami, sedikit pemakluman saja akan sangat berarti. Minimal jangan memperburuk keadaan jika tidak bisa membantu memperbaiki. Karena sekali lidah melukai, tidak akan bisa kembali seperti semula lagi.

Bandar Lampung, 4 Mei 2020 (11 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan