Bola Api

Surat untuk Putraku (Part 10)-Episode Kita Semua Pemenang oleh Emmy Herlina

Surat untuk Putraku (Part 10): Episode Kita Semua Pemenang

Masih ingatkah, tahapan penciptaan manusia yang pernah Ummi ceritakan dalam surat sebelumnya? Bisa baca kembali di https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-8-episode-perkembangan-janin-oleh-emmy-herlina/

Di situ dikatakan bahwa tahapan pertama manusia adalah diciptakan dari sulalah.Yang dimaksud Sulalah, atau saripati mani, artinya satu sperma saja, bukannya mani secara keseluruhan. Itu jumlah yang sangat sedikit sekali bila dibanding dengan sperma yang keluar dari laki-laki yang mencapai jutaan sperma.

Artinya: peranan laki-laki pun begitu penting dalam proses penciptaanmu, Sayang. Tanpa kehadiran papa, Ummi tidak akan bisa memperolehmu begitu saja dan mengandungmu dalam perut (rahim) Ummi. Kau patut bangga menjadi seorang laki-laki, Nak. Terutama karena laki-laki adalah seorang pemimpin. (Baca lagi ciri pemimpin yang baik di https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-9-bulanmu-bulan-pendidikan-oleh-emmy-herlina/ )

Hal yang menakjubkan adalah hanya ada satu sperma yang bisa membuahi sel telur (ovum). Hanya satu dari jutaan sperma yang bergerak menuju ke rahim untuk membuahi ovum dari wanita.

Pastinya, bukan hal yang mudah bagi satu sperma itu, bersaing dengan lainnya, demi menemui sel telur dan menjadi benih manusia. Hanya yang terbaik yang bisa, Nak.

Lihat, kan, dari awal, manusia memang diciptakan sebagai pemenang. Dalam persaingan ketat, satu terbaik yang akan berhasil.

Kamu adalah pemenang, Nak. Kita semua adalah pemenang. Sudah Allah yang menentukannya demikian. Jadi, kenapa mesti ada alasan untuk tidak percaya diri? Sejak awal diciptakan, kamu adalah spesial. Unik.

Setiap manusia mempunyai keunikannya masing-masing. Kita sama sekaligus berbeda. Kita berbeda tapi juga sama. Mendidikmu dan kakakmu memberikan pengalaman tersendiri buatku. Begitu juga saat mengandungmu dan kakakmu, ada cerita yang berbeda dari keduanya.

Ummi bersyukur, di kehamilan kedua ini, Ummi merasa lebih tenang. Sudah tidak lagi merasakan kerja shift, jadwal kerja teratur, dari pagi sampai dengan sore hari, di kantor. Meski tetap berjuang sendirian, saat berangkat dan pulang bekerja, karena memang papamu masih bekerja di luar kabupaten dan tidak ada yang mengantar-jemput Ummi.

Tidak perlu mengalami fluktuasi rasa hati seperti yang Ummi rasakan saat kehilangan almarhum kakekmu, di tengah usia kehamilan 4 bulan (Baca surat untuk kakakmu di: Teruntuk Putriku, Sophia). Maka saat menjalani empat bulanan, atau membagi nasi kotak sambil berdoa di musala untuk mengharapkan keselamatanmu, juga bisa lebih nyaman. Ummi tak perlu merasakan itu di tengah kesedihan. Justru hidup Ummi jauh terasa lebih lengkap. Ada kakak Sophia dan kamu dalam rahim Ummi. Kedua anak kesayangan Ummi. Keduanya adalah pemenang.

Bandar Lampung, 3 Mei 2020 (10 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan