Surat

SURAT UNTUK AWAN oleh Putri Zaza

SURAT UNTUK AWAN

Hai, sudah baca buku yang kuberi? Itu hadiah ulang tahunmu, ya, semoga bermanfaat. Aku cuma ingin beri tahu kamu tentang hal baru. Ingat, kan? Aku pernah bilang akan memberimu hadiah di tanggal lahirmu. Gara-gara kamu iri dan merajuk saat kuberi hadiah untuk si kecil yang tampan.

Sengaja kutulis surat ini. Sejujurnya ingin sekali menghubungimu dan bilang aku rindu, haha. Tapi, saat ini aku sedang membatasi diri dan tak ingin ber-khalwat. Bukan hanya denganmu tapi dengan semua kaummu.

Setiap kali memimpikanmu rasa ingin menghubungi lebih kuat. Ya, namanya juga godaan. Apa kamu juga sama? Jangan gengsi, mengakulah!

Ada yang ingin kubicarakan kali ini serius. Tapi, sayangnya si corona belum pulang. Kalau tanya lewat WhatsApp pasti dialihin ke mana-mana. Bingung, deh, sebenarnya kamu, tuh, ingin kita bersama enggak, sih?

Tahu, enggak? Berulang kali ingin ikhlaskan kamu berdoa agar hati ini bisa lebih netral. Namun, berulang kali juga kamu berhasil membuatku ingin bertahan untuk menunggu. Ya, menunggu hal yang tak pernah pasti. Aku mulai lelah.

Saat kondisi tak netral rasanya sulit menerima orang lain. Beberapa bulan lalu ada seseorang dari kaummu yang mengatakan keseriusannya ia bilang ingin memiliki hubungan halal denganku. Tapi, tak kunjung kuberi jawaban sampai saat ini kukira jika kuabaikan dia akan pergi seperti yang lain. Namun, sayangnya tidak. Dia gigih katanya ingin menunggu sampai aku bisa menjawab dengan pasti.

Hei, Awan. Kita sama-sama sudah dewasa. Aku yakin kamu tahu maksud dan tujuan surat ini, tolong, beri kejelasan agar aku bisa dengan mudah dan ikhlas untuk mengucapkan “Good bye!” atau “Wellcome!”

Salam rindu,

Cibitung, 8 Mei 2020
Nulisbareng/putrizaza

Jumlah kata: 253

0Shares

Tinggalkan Balasan