Sisir Serit

Surat Untuk Putraku (Part 12): Hamil Kok, Kutuan? oleh Emmy Herlina

Surat Kedua Belas: Hamil Kok, Kutuan?

Menjalani dua kali proses kehamilan, ternyata Ummi punya pengalaman yang sangat berbeda. Masih teringat saat menuliskan surat untuk putriku, yang akhirnya menjadi satu buku utuh spesial hadiah kakakmu, Sophia. Di dalam buku tersebut, Ummi menceritakan banyak kenangan buruk yang Ummi alami saat kehamilan. Dimulai dari tetap bekerja melayani pasien, termasuk pasien kritis hingga meninggal. Juga mengurus ayah kandung Ummi yang mulai sakit-sakitan, hingga di hari-hari terakhir kepergiannya, yang Ummi jalani selama kakakmu dalam kandungan Ummi.

Baca pengalamanku di: https://parapecintaliterasi.com/kisah-ramadan-yang-tak-terlupakan-oleh-emmy-herlina/

Ummi akui, saat proses kehamilan kedua ini, kondisi Ummi jauh lebih stabil dari sebelumnya, Nak. Ummi tidak lagi ke pelayanan pasien, jadwal kerja sudah teratur, bekerja dari pagi sampai sore hari, bisa beristirahat nyenyak malam harinya, dan libur setiap hari Minggu dan tanggal merah.

Ummi juga tak perlu mencuri-curi waktu makan, di bulan Ramadan, karena memang kau hadir dalam rahimku setelah melewati lebaran, Nak. Ummi bisa menjalani puasa dengan tenang sebelum kehamilan.

Untuk mual-mual kehamilan masih Ummi alami, sampai-sampai Ummi tidak bisa mengkonsumsi air putih. Seperti yang Ummi ceritakan sebelumnya di sini: https://parapecintaliterasi.com/surat-untuk-putraku-part-4-oleh-emmy-herlina/

Tapi Ummi tidak sampai harus diopname, seperti dalam kehamilan pertama lalu. Ummi ingat, Ummi sampai harus menginap di rumah sakit untuk diinfus dan menerima obat injeksi, karena obat mual-muntah yang Ummi konsumsi tidak mempan. Berbeda saat kamu yang ada di dalam rahim Ummi, Nak. Walaupun mual enggak ketahanan sampai harus mengkonsumsi air oxy, namun Ummi tidak pernah sampai muntah sama sekali.

Hal lain yang Ummi rasakan dalam kehamilan kedua ini adalah: Ummi jadi malas mandi, malas berdandan, dan satu lagi: rambut Ummi jadi kutuan! Oh, my God. Bisa-bisanya lagi hamil kok, kutuan. Hadeuh. Jujur saja, seumur hidup mana pernah Ummi mengalami ini. Rambutku memang tipe kering dan sering rontok, kadang-kadang ada ketombe, namun mana pernah sampai ada kutu!

Bermula dari suatu hari, Ummi merasakan gatal di kulit kepala. Ummi paksakan diri untuk bangkit ke kamar mandi, mandi dengan sabun dan sampo yang wangi hingga bersih. Tapi yang Ummi rasakan beberapa jam setelah mandi, kenapa rambut ini masih terasa gatal.

Hmm, kok kayak ada yang jalan-jalan di kepalaku ya. Ummi garuk kepala, lalu saat melihat tangan … hmm, ini apa sih, item-item kecil, ada kakinya. Omagaahh, ada KUTU!! Ummi taruh di lantai rumah yang putih untuk melihat lebih jelas. Seketika aku jadi merinding.

Waduh, ini beneran nyata? Ada kutu di rambutku!! Langsung saja Ummi searching mbah Google untuk mencari tahu bagaimana cara penanganan kutu rambut. Ini dia hasil yang Ummi dapatkan:

  1. Menggunakan sisir serit. Sisir serit adalah sisir yang rapat dengan jarak antar gigi sekitar 0,2 mm. Tujuannya untuk mengangkat lebih banyak kutu dan telur kutu, bahkan hingga yang berada di dekat kulit kepala. Disarankan menggunakan sisir serit ini dalam keadaan rambut basah.
  2. Menggunakan minyak zaitun Yaitu dengan cara mengoleskan minyak zaitun ke rambut secara merata, gunakan shower cap dan diamkan selama semalaman. Keesokan paginya, sisir rambut agar telur kutu yang menempel dapat terangkat. Bisa juga menggunakan baby oil atau juga minyak kelapa.
  3. Menggunakan petroleum jelly. Caranya sama seperti mengoleskan minyak zaitun.

Jika cara-cara di atas tidak efektif bisa juga menggunakan obat kutu rambut yang dijual bebas atau dengan resep dokter. (Sumber: Alodokter) Namun obat kutu rambut ini umumnya mengandung permethrin, benzyl alcohol, ivermectin, atau malathion, yang tidak disarankan untuk ibu hamil. Yah, berarti Ummi cuma bisa mencoba cara alami saja.

Ummi beli baby oil khusus untuk Ummi gunakan di rambut. Selain juga mencari sisir serit untuk rambutku. Saat ada Nyai, ibu kandung Ummi, datang berkunjung ke rumah, Ummi mengatakan semuanya.

Akhirnya Nyai yang menyisiri rambut Ummi dengan sisir serit. Hasilnya begitu mengerikan karena kutu di rambut sudah berjumlah puluhan. Huhu, ada apa ini? Kenapa hamilku jadi seperti ini?

Hingga usia kehamilan mencapai 9 bulan, Ummi masih berusaha segenap tenaga menghilangkan kutu yang mengganggu dari kulit kepala. Ya, kalau kutu buku sih, seperti papamu, tidak mengganggu. Malahan di hamil kedua ini, Ummi jadi pengen dekat-dekat papamu terus, beda banget waktu kehamilan pertama, Ummi biasa saja menjalani LDM (Long Distance Marriage) dengan papamu. Deu ….

Akhirnya masa-masa menyusui kakakmu selesai (karena Ummi menjalani kehamilan kedua sembari menyusui kakakmu hingga menjelang persalinan), surat cuti lahiran sudah beres, kemudian tiba saatnya Ummi menjalani operasi sesar kedua kalinya untuk melahirkanmu. Bismillah ….

Pada hari-hari setelah melahirkan anak kedua, Ummi akhirnya menyadari satu hal: kutu di rambutku sudah hilang sepenuhnya!

Bandar Lampung, 5 Mei 2020 (12 Ramadan 1441 H)

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan