Mengikat Janji

Suami Impian oleh Putri Zaza

Suami Impian

“Gimana, Sayang, seneng, enggak?” tanya Isa.

Dengan semangat aku menganggukkan kepala dan bersandar di dada bidangnya. Siapa yang tak senang dapat kejutan bulan madu ke Lombok. melihat hamparan pasir putih dan pantai luas nan biru dengan angin yang sejuk, kupeluk lelaki yang sudah sah menjadi suamiku.

Penatnya pekerjaan membuatku lupa siapa diriku, hampir setiap hari menjalankan rutinitas yang sama dan Isa tau betapa sibuknya calon istrinya ini.

“Terima kasih ya, Sayang,” ucapku dan melayangkan kecupan di pipinya. 

“Ini hadiah karena telah menerimaku menjadi suamimu.” Kecupnya di dahiku.

Kami berdua tak saling kenal sebelumnya. Apalagi pacaran, Isa yang menyukaiku terlebih dahulu ia mendekat dengan perlahan tak seperti lelaki lain yang ingin buru-buru mendapatkan hatiku. Ia teman satu tempatku bekerja namun kami berdua berbeda bagian.

Liburan berdua pasangan halal memang menyenangkan, tak ada keraguan atau ketakutan saat menggandeng tangannya atau rasa tak nyaman ketika ia merangkul pundakku. Sepertinya aku tahu rasanya menjadi Dinda Hauw tersipu dengan tindakan atau kata-kata yang dilontarkan sang suami.

Rasanya ingin sepeti ini selamanya,  bahagia karena Allah takdirkan dia sebagai suamiku. Jika ini mimpi, aku tak ingin dibangunkan, ingin terus melanjutkan kisah romantis nan membahagiakan ini.

Setelah memutuskan untuk tidak berpacaran aku jadi memahami mengapa orang tua melarang untuk berpacaran karena selain menimbulkan banyak fitnah juga banyak celah setan untuk menggoda menjerumuskan ke dalam dosa.

Kalau sudah menikah setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan berdua akan hitung sebagai ibadah, jadi bisa nambah-nambah pahala. Hehe….

“Sayang bangun, dong, kita salat subuh, yuk!” Kudengar suara merdu suamiku sambil mengguncang lembut tanganku dan aku pun tersadar.

“Bangun, salat udah siang. Matahari udah mau naik itu. Kamu mau salat di ujung tanduk setan. Mau dibelit sama ular di kuburan!” omel ibuku.

Aku terduduk dan melihat sekelilingku dan mendengus kesal. Cuma mimpi, toh. Kulangkahkan kaki ke kamar mandi untuk mengambil wudu dan menunaikan salat Subuh.

‘Mana bisa ke Lombok, ini kan masih pandemi’.

Cibitung, 22 Agustus 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

Tinggalkan Balasan