Kuburan

Sssuuuttt, Jangan BERISIK oleh Nopiranti

Sssuuuttt, Jangan Berisik

(Nopiranti)

Mari kita simak Kang Aan NH membacakan puisi Sssuuuttt, Jangan Berisik karya Pak Ilham Alfafa, founder Rumedia. Klik tautan channel youtube Nubar Pro berikut ini https://youtu.be/YjhnZEvbG4s untuk mendengarkan syairnya secara lengkap ya.

Intinya, puisi ini menceritakan tentang harapan penulis untuk berjumpa maut dalam kondisi yang terbaik: tersenyum menyambut kedatangan malaikat Izrail. Jika boleh memilih, tidak harus merasakan sakitnya ruh terlepas dari raga. Entah itu keluar lewat hidung atau melalui bahu.

Penulis membayangkan tentu akan menjadi hal yang sangat indah jika sepeninggalnya kelak, orang hanya akan mengenang kebaikannya saja. Mengambil pelajaran dari karya yang pernah dia torehkan semasa hidup.

Penulis mengingatkan jika kebaikan yang kita contohkan diikuti oleh orang lain, insyaallah pahala pun akan mengalir untuk kita. Begitupun sebaliknya. Jika keburukan akhlak kita ternyata diikuti oleh banyak orang, maka dosa keburukan juga akan menimpa kita. Maka, lewat puisi ini penulis menegaskan cita-citanya untuk berusaha hanya menorehkan karya-karya yang bermanfaat.

Sejatinya menulis bukan hanya bersenang-senang dengan untaian kata. Tak hanya keindahan yang harus diperhatikan. Namun, ada makna dan tanggung jawab sosial juga yang harus kita pertimbangkan. Apakah kata-kata yang ditulis itu membuat pembaca tercerahkan dan semakin dengat dengan Sang Pencipta?

Siapa tahu justru kebalikannya. Karya itu hanya membuat orang semakin terlena dengan kehidupan dunia dan sedikit sekali mengingat kehidupan akhirat. Jika hal ini terjadi, selain pembaca yang merugi, sudah pasti sebagai penulis akan lebih besar lagi kesalahannya.

Selagi napas masih bisa kita hirup dengan bebas dan jemari masih bisa lentur digerakkan, mari kita berlomba-lomba mengukir karya terbaik. Karya yang memberi andil pada kemajuan umat dan zaman. Karya yang mengantarkan langkah pembaca semakin dekat pada Allah Ta’ala.

Yang membuat puisi Sssuuuttt, Jangan Berisik ini lebih istimewa buat saya karena mengingatkan pada almarhumah Mamah. Sosok perempuan yang selalu saya kenang karena kebaikannya semasa hidup.

Bukan tidak ada salah dan khilaf beliau. Namun, setelah beliau tiada, rasanya yang nampak, teringat, dan terngiang itu hanya keindahan akhlaknya saja. Melulu tentang kebaikannya.

Saya sungguh berharap bisa mencontoh beliau. Banyak orang yang jauh lebih baik akhlaknya di luar sana. Tapi, Mamah itu sosok nyata yang saya kenal dekat. Yang saya tahu gerak geriknya. Yang saya hapal tutur katanya.

Saya saksi keindahan akhlak beliau yang bertahan hingga hembusan napas terakhir. Saat kalimat takbir mengalir lancar dari lisannya. Padahal mata sudah terpejam lama dan denyut nadi sudah sulit teraba. Barakallah , Mah. Semoga rida Allah mengantarkanmu pada keabadian yang damai. Tempat kita berkumpul lagi kelak dalam pelukan senyum dan bahagia. Aamiin ya Rabb.

Maut itu pasti. Hanya waktu datangnya kapan, tak ada yang tahu. Sebab itulah Allah perintahkan kita mempersiapkan bekal sebaik-baiknya. Hingga kapanpun maut menjemput, kita sudah siap.

Ya Rabbana, perkenankan diri ini menjemput ajal kala hati ini terpaut padaMu, lisan ini sedang menyebut namaMu, dan raga ini tengah beribadah khusyuk menyembahMu.

Perkenankan pula sepeninggal diri ini kelak tak ada aib yang tersebar dan menjadi bahan pergunjingan. Jadikanlah kemuliaan akhlak diri menjadi sebaik-baik warisan untuk generasi penerus. Aamiin ya Rabb.

Sebuah puisi terangkai sebagai pengingat diri.

Bila Aku Pergi

Bila aku pergi
Kumau hatiku penuh mengingatMu
Kumau bibirku ranum menyebut indah asmaMu
Kumau ragaku harum tebarkan wangi keluhuran akhlak

Bila aku pergi
Kuharap doa kebaikan yang kan panjang teruntai dalam sujud panjangmu
Kuharap senyum tulus memaafkan yang kan lama tersungging di wajahmu
Kuharap mimpi merindukan kebaikan yang kan selalu merajai rindumu untukku

Bila aku pergi
Kupinta hapuskanlah semua salah dari catatan persahabatan kita
Kupinta lukislah hati penuh cinta jika terlintas namaku dalam benakmu
Kupinta patrilah jejak kebaikanku di hatimu meski itu hanya setipis debu

Bila aku pergi
Kuingin jalanku halus menujuMu
Kuingin ampunanMu membentang luas menyapu khilaf dan dosaku
Kuingin Kau rida dan merangkulku dalam kasihMu yang agung

Terima kasih banyak untuk puisi indahnya, Pak Ilham Alfafa.

Senin, 28 Desember 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan