Edelweis

Seperti Edelweis (Athena Hulya)

Seperti Edelweis

            “Saat kau tiada orang-orang akan mengenangmu seperti apa?” tanya seseorang.

            “Hmmm, Edelweis!”

            “Kenapa? Ada banyak hal di dunia ini, kenapa kau pilih edelweis?”

            “Kau tahu edelweis melambangkan apa?”

            “Keabadian. Nah! Aku ingin abadi bak edelweis.”

            “Apa bagusnya dikenang seperti edelweis?”

            “Ia memang tak secantik dan semenarik mawar, tak semerbak melati atau seanggun anggrek. Ia punya karisma tersendiri yang tak dipunya oleh bunga-bunga lain. Ia mengintip syahdu di sela-sela perbukitan nan tinggi. Memang tak banyak yang tahu tentangnya, tapi keharumannya menyebar dihati yang mengenalnya yaitu para penapak alam. Aku ingin seperti itu! Ketika aku mati, aku ingin segala kebaikan-kebaikan yang kutorehkan selama hidup akan tergambar jelas dan keharuman dari kebaikan itu terkenang dalam ingat oleh mereka yang dengan setulus hati menyayangiku.”

            “Edelweis, kan, hanya terlihat oleh para petualang alam saja?”   

            “Memang, lebih baik dikenal oleh segelintir orang tapi kau membawa pengaruh baik ountuk orang-orang yang mengenalmu itu, ketimbang dikenal banyak orang tapi segala tindak tandukmu membuat orang lain terluka. Seperti mawar yang dipuja banyak hati, terlihat cantik dengan warna-warna yang memanjakan mata tapi ia berduri, membuat orang terluka saat menggenggamnya. Buat apa cantik dan terkenal namun membuat luka pada orang lain?”

            Orang itu terdiam mendengar penjelasanku, ia hanya mengangguk pelan dengan sesekali menyeruput kopi hitam panas yang tersaji di depannya.

            “Hidup bukanlah tentang seberapa banyak orang yang mengenalmu, bukan juga seberapa besar orang-orang mencintaimu. Tapi seberapa manfaatkah kau untuk orang-orang sekitarmu, berapa banyak kebaikan yang kau lakukan untuk mereka! Saat orang-orang terbantu dengan kehadiranmu saat itulah kau dicintai oleh mereka, karena kau telah menebar cinta pada mereka yang kau kasihi. Seperti edelweis yang hanya butuh cinta sekaligus dicintai, diingat dan dikenang oleh mereka penapak-penapak alam saja,” Tegasku, ‘Kopinya segera dihabiskan, lalu kita pulang. Malam sudah mulai larut.’

~Percakapan di sebuah kedai kopi di sudut jalan Kota Yogyakata.

25 July 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya      

0Shares

Tinggalkan Balasan