Sepenggal Kisah di Marrakesh oleh Nopiranti

Sepenggal Kisah di Marrakesh

(Nopiranti)

Minggu yang berat. Berseliweran kisah masa lalu memenuhi benak. Mengetuk-ngetuk palung hati. Meminta untuk sejenak membuka jendela. Mengajak bernostalgia dengan kenangan.

Ada alunan tembang manis You Took My Heart Away milik grup lawas Michael Learn To Rock yang terus terngiang di telingaku. Kamu masih ingat tidak, Mas? Lagu inilah yang menjadi jalan pembuka perkenalan kita. 20 tahun yang lalu. Saat kita masih semester awal kuliah di Bandung.

Kita satu tempat kos. Aku di lantai atas, tempat penghuni perempuan. Sementara kamu di lantai bawah, khusus mahasiswa laki-laki.

Hampir setiap hari aku dengar lagu itu bergema dari kamarmu. Diputar berulang-ulang. Sampai seisi rumah kos hapal. Minimal bagian refrainnya pas kalimat, “You took my heart away .”

Kalimat yang di akhir masa kuliah kamu jadikan senjata untuk menyatakan perasaan padaku. Setelah 4 tahun kebersamaan kita di tempat kos itu. Kebersamaan yang bisa dibilang datar. Hanya sebatas teman ngobrol dan saling bantu masalah perkuliahan.

Dua tahun kemudian, kita resmi bersanding di pelaminan. Sejak hari itu aku menapaki dunia indah penuh warna. Aku bersuka cita dengan segala macam kesibukan sebagai ibu rumah tangga yang kau izinkan juga untuk mengamalkan ilmu, mengajar di sebuah sekolah menengah.

Kaupun bergembira dengan pekerjaan di departeman perdagangan. Tempat kerja yang mengantarkanmu untuk sering bolak-balik ke luar negeri untuk menjajaki kemungkinan kerja sama perdagangan.

Akupun mendapat berkah dari pekerjaanmu itu. Sesekali jika situasi dan kondisi memungkinkan, kau ajak aku serta menjelajahi tempat-tempat indah di negeri tetangga. Tentu saja akomodasiku menggunakan biaya yang dikeluarkan dari tabungan kita.

“Hitung-hitung libur tahunan ya, Sayang,” ucapmu selalu penuh keceriaan.

Sesaat lamunanku terhenti. Gawaiku berbunyi. Kau mengirim sebuah pesan.

Bawakan sandal jepit ya.

Bergegas kubuka rak sepatu. Tanganku sibuk mencari sesuatu. Lalu mataku menangkap sebuah bungkusan plastik hijau di pojok bawah rak. Lekas kuambil dan kubuka ikatannya. Nampak sepasang sandal jepit berwarna putih yang kontras dengan talinya yang berwarna biru.

Seketika ingatan itu datang menyergap. Kenangan yang kita lalui bersama menyusuri indahnya musim semi di jalan protokol kota Marrakesh, Maroko. Lima tahun yang lalu saat kau mendapat tugas satu minggu di sana. Karena mendengar kabar jika di negara yang hampir 90 % penduduknya Muslim ini sedang musim semi, kau memaksaku untuk ikut.

“Aku ingin mengajakmu melihat pemandangan ini,” ucapmu seraya memperlihatkan foto bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang jalan yang terlihat kontras dengan balutan salju di puncak gunung Oukaimeden, Marrakesh.

Pertengahan April kala itu. Suhu yang hangat dan menyenangkan sekitar 23-26° menyambut kedatangan kami. Terhampar di hadapan kami ladang hijau dan perkebunan zaitun. Bunga-bunga liar kecil yang tumbuh di sekitarnya semakin menambah pesona kota yang namanya berasal dari kata Mur Akush atau Land of God alias Tanah Para Dewa.

Di sela waktu menyelesaikan pekerjaan, kau sempatkan menemaniku berjalan-jalan. Di bawah langit yang berwarna biru cerah dengan angin yang berembus sejuk. Santai saja kita berkeliling kota memakai sandal jepit yang sengaja kita bawa dari rumah. Alas kaki kebesaran kita berdua saat di rumah maupun saat sedang berjalan-jalan santai di tempat wisata.

Seminggu menikmati indahnya musim semi di Marrakesh, membuatmu jatuh cinta dengan keindahan kota terbesar ketiga di Maroko ini. Setelah Casablanca dan Rabat.

“Kamu mau enggak, kalau nanti kita habiskan masa tua di kota ini?” Sambil menyeruput teh hijau dengan mint dan gula batu, minuman populer di Maroko, kau berucap padaku kala itu.

Sambil mengunyah sepotong makaouda yang gurih, aku tersenyum dan mengaminkan perkataanmu. Akupun jatuh cinta dengan tempat ini. Sungguh suatu anugerah jika bisa sering-sering berkunjung ke kota yang terletak di lereng pegunungan Atlas yang berpuncak salju. Dekat dengan gurun Sahara yang gersang.

Bunyi gawai kembali menghentikan lamunanku. Masih pesan darimu yang masuk.

Cepat ke sini. Sita harus segera pergi. Dia ada jadwal kuliah jam 1.

Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, aku bergegas keluar. Mengunci pintu dan berlalu bersama ojek online yang kupesan menuju rumah sakit tempatmu berada sekarang. Lima hari sudah kau menjalani isolasi karena tes swabmu reaktif.

Panik sempat melandaku. Rasa khawatir yang berlebih pun menyergap. Membayangkan hal-hal yang negatif akan keadaanmu. Namun justru kau yang menguatkanku. Dengan guyonan hangat dan tawa renyah khas dirimu yang selalu membuatku jatuh cinta kembali padamu.

Bantu aku untuk kuat melawan penyakit ini dan bisa sembuh sehat kembali dengan doa, cinta, senyum, dan pelukanmu dari jauh.

Pesanmu mengalir setiap waktu. Sama seperti doaku yang terus menguntai melangit jauh. Mengetuk pintu arsy-Nya. Memohon pertolongan untuk kesembuhanmu.

Aku harus sembuh. Karena April nanti aku mau kita bersama lagi menikmati indahnya musim semi di Marrakesh. Aku sudah siapkan cukup tabungan untuk perjalanan kita nanti.

Pesan terbaru darimu kubaca sambil menatapmu penuh cinta dari balik kaca jendela ruang isolasi.

Sembuhlah, Sayang.

Jumat, 20 November 2020

NulisBareng/Nopiranti

Sumber referensi:
travel.detik.com
www.tutysaca.com
tourguidemaroko.blogspot.com

0Shares

Tinggalkan Balasan