Sepeda Oh Sepeda oleh Denok Muktiari

Sepeda Oh Sepeda

Oleh: Denok Muktiari

Masih di rumah saja? Nggak bosan, nih? Dari dapur ke kamar mandi, ke ruang tamu, halaman, lihat TV, balik lagi dapur. Belum lagi anak-anak ribut soal pelajaran daring dari sekolah. Yang ada, kepala pusing, penat, dan pengaruh banget sama yang namanya imun. Padahal di new normal ini kita dituntut untuk adaptasi dengan kondisi baru. Tetapi sepertinya nggak segera connect karena riwehnya pekerjaan yang bertambah di rumah. Hampir semua aktivitas dilakukan di rumah. Pusiiing.

            Kalau ada sepeda kenapa nggak bersepeda keliling kampung. Itung-itung olahraga, lumayan buat ngecilin perut, cuci mata, pingin lihat yang seger-seger alis hijaunya pemandangan luar yang bisa bikin otak jadi fresh. Ditambah udara segar kebebasan keluar dari rumah. Ya, meskipun pandemik masih juga belum berakhir.

            Kira-kira di antara sahabat literasi ada nggak yang sudah merasakan trennya bersepeda? Kenapa disebut tren? Karena hampir semua daerah lagi senang-senangnya bersepeda. Kalau biasanya di jalan raya yang kita jumpai sepeda motor, mobil, truk, bus, mikrolet, nah, kini sepeda ikut jadi bagian pengguna jalan. Rata-rata di setiap daerah banyak banget yang lagi suka keliling kota atau pun kampung menggunakan sepeda. Ada yang bergerombol ada pula yang sendirian.

            Seperti tak mau kalah dengan yang muda, perkumpulan emak-emak pun ikut meramaikan tren bersepeda ini. Baju olahraga dan helm sepeda tak kalah kerennya dengan anak-anak. Seru banget.

            Memang sih beraktivitas di rumah saja bisa membuat stress. Semua aktivitas masih belum aktif sekali seperti dahulu sebelum pandemic. Masih banyak kantor yang mengharusnya karyawannya bekerja dari rumah. Anak sekolah pun masih belum diijinkan masuk sekolah. Sehingga rasa penat di rumah serempak dirasakan di seluruh penjuru. Padahal jika pikiran tak sehat akan mempengaruhi kesehatan badan. Sehingga bersepeda merupakan pilihan paling banyak diminati masyarakat kita.

            Positifnya, pola pikir masyarakat akan pentingnya olahraga semakin meningkat. Demi menjaga kesehatan tubuh. Daripada mengikuti tren rebahan lebih baik berolahraga. Di samping itu dengan bersepeda tentu kadar polusi yang biasanya dihasilkan dari asap kendaraan bermotor otomatis berkurang. Tinggal bagaimana ke depannya, apakah bersepeda ini hanya sebatas tren saja, atau adanya kesadaran masyarakat pentingnya menjaga kelestarian bumi untuk keberlangsungan anak cucu kita? Qodarullah, hanya waktu yang mampu menjawab.

            Segi positif yang tak kalah hebohnya, yaitu meningkatnya permintaan sepeda di pada penjual sepeda. Direktur Polygon William Gozali mengatakan ada peningkatan sekitar 50 persen akan sepeda Polygon pada Juni-Juli 2020. Beliau juga meramalkan permintaan pasar sepeda domestik akan melandai secara industri sekitar Oktober-November 2020. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh terbatasnya komponen sepeda untuk melanjutkan produksi. Padahal selama ini, industri sepeda memiliki dua musim puncak yang membuat permintaan sepeda naik maksimum dua kali lipat, yakni musim lebaran, dan musim masuk sekolah.

            Kesimpulannya selalu ada hal positif di setiap peristiwa, tinggal bagaimana kita sebagai manusia menyikapi secara bijak tanpa mengedepankan nafsu dalam berpikir dan bertindak. Namun demikian kita tetap waspada karena pandemi masih dinyatakan belum berakhir. Tetap jaga kesehatan rohani dan jasmani.

Malang, 12 Oktober 2020

Sumber referensi:

Arief, Andi M. 2020. Polygon Ramal Tren Kenaikan Permintaan Sepeda Tidak Akan Bertahan Lama. https://ekonomi.bisnis.com/read/20200802/257/1273891/polygon-ramal-tren-kenaikan-permintaan-sepeda-tidak-akan-bertahan-lama. Diakses 11 Oktober 2020 (23.00 wib)

Nulisbareng/DenokMuktiari

0Shares

Tinggalkan Balasan