Senja

Senja, Ikhlas Itu Apa? (Part 3) oleh Athena Hulya

Senja, Ikhlas Itu Apa?

Part 3

Baca part sebelumnya https://parapecintaliterasi.com/senja-ikhlas-itu-apa-lanjutan-part-2-oleh-athena-hulya/

            Abi pergi meninggalkan luka yang amat mendalam, tak ada lagi tawa dan semangat untuk menjalani hari di hidupku. Berbulan-bulan setelah kepergiannya, aku hanya berdiam diri. Walaupun melakukan aktivitas seperti biasa tapi aku agak lebih menjauh dari orang-orang sekitarku dan berbicarapun hanya seperlunya saja tidak seperti dahulu. Ponsel selalu dipenuhi notifikasi dari teman-teman yang menyemangati, entah berapa ratus kali kubaca pesan dari teman-teman, “kau harus sabar, kau harus ikhlas. Ikhlas.”

Setiap kali menerima pesan seperti itu kuhanya berucap dalam hati, “ikhlas itu apa? sungguh mereka mudah sekali bicara seperti itu, aku yang menjalankannya sangat sulit.”

***

Hampir dua tahun lamanya pula aku menyalahkan diriku sendiri karena banyak kata yang belum sempat kukatakan pada Abi, banyak hal yang belum kulakukan bersamanya. Sangat menyesal karenaku ia meninggal. Kata seandainya, selalu menjadi kata favoritku saat mengingat Abi. Seandainya saja aku tak menyuruhnya berangkat lebih awal mungkin tak akan terjadi seperti itu. Seandainya dulu saat Abi masih di sini bersamaku, aku akan mengatakan kalau aku sangat mencintainya.

Aku bukanlah orang yang dengan mudah mengekspresikan rasa sayang dengan mudah, saat Abi mengatakan kalau ia sangat mencintaiku, aku tak pernah meresponnya. Aku sangat menyesali hal itu. Dan juga aku lagi-lagi masih saja menyalahkan Tuhan karena merasa hidupku sangat tidak adil, hidupku tak seindah hidup orang lain.

***

Dddrrrttt, ponselku berbunyi, tertanda ada pesan masuk.

“Athena Mayla Schatziany, lo lagi apa? Are you okay?”

Terpampang nama Reihan di layar ponsel. Reihan, sahabatku. Kami berdua berteman sejak memasuki Sekolah Dasar, tiada hari yang kulalui tanpanya. Ia satu-satunya orang yang paling tahu diriku dibandingkan dengan keluargaku bahkan diriku sediri. Di saat-saat Abi kritis dan akhirnya meninggalpun Reihan selalau berada di sampingku, tidak pernah meninggalkanku sendirian.

“Na, are you okay? Besok gue mau dinas ke Jogja. Lo harus ikut! Kayaknya lo butuh udara segar, deh, Na. Ikut ya? Gue udah pesanin tiket pesawat buat lo! Sekarang lo rapihin barang lo, ya. Besok gue jemput. See you!” Begitu isi pesan dari Rei.

Awalnya aku ragu, kalau aku ke sana aku akan semakin mengingat Abi. Karena tiap sudut kota Jogja kulewati bersamanya. Jogja penuh dengan kenanganku dan Abi. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang semalaman, pesan dari Rei pun kubalas, “oke, see yaa!

***

Sesampainya di Jogja, ada rasa sesak di hati ini. Ingatan-ingatan perlahan terbawa kembali pada ceritaku bersama Abi. Sepanjang jalan menuju hotel aku hanya melamun.

“Na, are you okay?” tanya Reihan sembari memegang pundakku.

I’m okay,” Jawabku singkat dan kembali melamun mengingat kebersamaan bersama Abi dulu.

“Nanti sore setelah gue meeting, gue mau ajak lo ke suatu tempat! Pokoknya lo harus mau, karena ini tempat favorit lo,” ucap Rei.

Rei akan membawaku kemana, pikirku. Dengan nada agak malas aku mengiyakannya.

***

Sambil menunggu Rei aku berjalan-jalan berkeliling sekitar hotel tempat kami menginap. Karena hotel kami dekat dengan toko alat lukis Potentiarte, aku bermaksud ke sana untuk membeli pena. Saat melihat-lihat, seorang pria menyenggolku sampai pena yang kupegang terjatuh.

“Maaf, ya,” ucapnya sambil mengambilkan pena yang jatuh. Belum sempat kuberterima kasih, pria itu sudah bergegas pergi. Ia nampak sedang terburu-buru, sekelebat tercium aroma parfum cokelat dari dirinya yang sudah berjalan semakin jauh dariku.

            Dari dalam tas terdengar bunyi musik River Flow In You, nada dering jika ada telepon masuk di ponselku. Ternyata Rei yang menelepon.

“Di mana, Na?” tanya Reihan di seberang.

“Gue di Pontetiarte, nih. Lo udah selesai?” tanyaku.

“Udah, gue jemput lo sekarang, ya!” jelasnya.

“Oke,” jawabku.

***

            Di perjalanan aku menyadari kalau Reihan akan membawaku ke pantai parangtritis. Tempat yang tidak akan aku datangi lagi jika kuberkunjung ke Jogja, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan hal itu.

            “Rei, lo mau bawa gue ke parangtritis, ya?” tanyaku menyecar.

            “Lo bilang oke kan tadi, ya udah! Lo diam aja,” jawab Rei sambil tersenyum.

            “Lo gila, Rei. Lo tau kan kalau gue enggak akan pernah mau ke sana lagi,” jawabku dengan nada bicara yang meninggi dan wajah kesal.

Pantai parangtritis kini sudah di depan mata, Rei keluar dari mobil dan ia pun membuakakan pintu untukku. “Ayo turun, Na,” ucapnya.

            Aku hanya diam dengan masih memasang wajah kesal.

            “Ayo turun, nanti senjanya keburu hilang, Na!” ucap Rei sambil menarik tanganku.

“Jangan paksa gue. Rei, senja gue emang udah hilang. Dia udah meninggal. Gue mau pulang, Rei,” ucapku membentak.

“Na, please, sekali ini aja. Gue pengin lo keluar dan ke pantai itu. Lo enggak kasihan apa, Na, sama gue. Lo tau gue enggak bisa nyetir jauh-jauh, kan? Demi lo gue bela-belain nyetir dari hotel ke sini, Na,” ucap Rei memelas.

Aku sedikit melunak dan mengikuti kemauan Rei. Berjalan dengan kaki beregetar dan pikiran jadi tidak karuan, dada pun terasa sesak. Semakin mendekat dengan bibir pantai, tiba-tiba air mata menggenangi mataku. Belum sempat menetes, sudah kuseka. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menangis, ucapku dalam hati.

“Akhirnya gue bisa lihat lo nangis, Na. Enggak usah diseka, Na, nangis, ya, nangis aja. Keluarin semua air mata lo,” ucap Rei. “Lo harus lupain Abi, Na. Abi udah enggak ada, lo harus lanjutin hidup! Jangan terus-terusan hidup di dalam rasa bersalah lo. Karena lo enggak salah. Abi meninggal ya, karena memang udah takdirnya dia begitu. Udah dua tahun, Na, lo harus move on! Harus ikhlas, ikhlas, Na,” ucap Rei lagi.

“Ikhlas itu apa?” tanyaku yang kini menangis sesenggukan.

Rei terdiam sejenak. ”Hhhmmmm… menerima segala ketentuan-Nya, Na. Lo pernah mengumpamakan kalo Abi itu senja kan? Kenapa lo bisa berpikir gitu?” cecar Rei.

“Karena gue suka banget sama senja, senja itu salah satu ciptaan Allah paling epik. Abi dan senja sama, sama-sama bikin gue jatuh hati!,” jawabku.

“Ya tapi lo gak paham kan, kalo senja itu cuma datang sebentar terus hilang gitu aja kebawa gelap! Nah, sama kek Abi, Allah cuma ngasih hidup dia sebentar aja. Terus diambil lagi, dan lo enggak berhak, Na, nyalahin dan marah sama Allah.Toh, Allah kan, emang mengambil apa yang dimilikinya. Coba deh, lo tanya sama senja, ikhlas itu apa?!” ucap Rei sambil menunjuk ke langit yang sudah berubah menjadi jingga keunguan itu.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Reihan barusan. Ya, memang benar yang dikatakannya.  Senja hanya datang sekejap, setelahnya hilang dan pergi tanpa pamit. Aku tersadar, aku akan berusaha untuk berdamai dengan takdir. Berjanji tak akan menyalahkan Allah atas apa yang sudah Dia gariskan unntukku. Menutup segala kenangan tentang Abi, kutahu sangat sulit dan butuh waktu untuk benar-benar ikhlas, tapi tetap akan kuupayakan.

***.

 Parangtritislah saksi dari ceritaku bersama Abi. Segala sedih, duka dan luka kucoba menguburnya di pantai ini. Kelak, saat datang kembali ke sini, segala kenangan tentang Abi sudah menjadi kenangan indah. Ketika mengingatnya kembali aku tersenyum dengan hati yang baik-baik saja dan tentunya dengan rasa yang baru.

Bersambung…

Bekasi, 17 Mei 2020

nulisbareng/Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan