Senja

Senja, Ikhlas Itu Apa? (Lanjutan Part 2) oleh Athena Hulya

Senja, Ikhlas Itu Apa?
(Lanjutan Part 2)

Baca sebelumnya di: https://parapecintaliterasi.com/senja-ikhlas-itu-apa-oleh-athena-hulya/

Di rumah duka di mana jenazah Abi terbaring, terdengar isak tangis di sana-sini. Sedangkan aku, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan berdiri di depan pintu depan rumah, kaki terasa berat untuk mendekat, mata terasa ingin menangis namun air mata tak dapat keluar, pun bibir terasa kelu tak dapat berbicara. Teman-teman yang datang melayatpun tak henti berkata, “sabar, Na, kau harus ikhlas.”

Mereka tak tahu kalau saat itu diriku sedang hancur sehancur-hancurnya, bagai ketiban langit runtuh, hancur seketika. Ingin marah pada Tuhan karena merasa Tuhan sangat tidak adil pada hidupku, menyalahkan diri sendiri sebab akulah yang menyuruhnya berangkat kerja lebih awal karena di hari itu ia sedang berada di Manado dan di siang harinya pula ia harus bertugas ke Jeddah, karena Jeddah adalah salah satu kota yang sangat ingin ia datangi makanya aku menyuruhnya berangkat lebih awal ke bandara agar tidak terlambat.

Kalau saja aku tak menyuruhnya, selepas Subuh tak menelponya untuk cepat-cepat kembali ke Jakarta agar bisa, mungkin saja kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Aku amat sangat merasa bersalah.

“Na, kalau mau nangis, ya, nangis aja. Jangan ditahan, nanti nyesek! Yuk, ke sana. Lo harus ada di sampingnya,” ucap Reihan sambil merangkulku dan berjalan pelan menuju jenazah Abi.

Aku hanya terdiam menatap jenazah Abi yang kini berada tepat di sampingku, “Bi, kamu udah enggak sakit lagi, kan? Kamu yang tenang, ya, di sana. Selamat tinggal!” ucapku dalam hati.


Pemakaman Abi dihadiri banyak sekali orang, masih diiringi isakan-isakan tangis. Abi adalah orang paling baik dan positif yang pernah kukenal, ia selalu baik pada semua orang dan tak pernah merendahkannya. Baginya, semua orang itu sama di mata Tuhan dan kita sebagai sesama manusia harus saling mengasihi. Maka dari itu saat ia meninggal banyak yang merasa kehilangan.

Saat jenazah perlahan tertutup oleh tanah, tubuhku tiba-tiba sangat lemas dan hampir terjatuh. Untung saja ada Reihan di sampingku yang berusaha menopangku, kalau tidak aku akan terjatuh. Semakin lama jenazah sudah tak terlihat lagi, sepenuhnya sudah tertutup gundukan tanah.

Itulah kali terakhir aku melihat Abi. Sedih, sesak, merasa sangat bersalah. Perasaanku yang campur aduk itu mengiringi kepergian Abi.


Bersambung…

Bekasi, 10 Mei 2020
nulisbareng/Athena Hulya

NovelPerjalananSetelahSenja

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan