Buku Recehan Bahasa

Seni Belajar Bahasa (Review Recehan Bahasa karya Ivan Lanin)

Judul: Recehan Bahasa (Baku Tak Mesti Kaku)
Penulis: Ivan Lanin
Penerbit: Qanita, PT. Mizan Pustaka
Cetakan: Juli 2020
ISBN: 978-602-402-179-5

Sinopsis:

Bahasa tidak muncul dari ketiadaan. Kata muncul dari interaksi sehari-hari antarmanusia yang membentuk sebuah sistem komunikasi yang disepakati bersama. Inilah yang disebut bahasa.

Tak jarang, istilah-istilah receh yang kita sepelekan menjadi salah satu tonggal perkembangan bahasa. Misalnya, kata segede gaban, alay, dan ambyar memunculkan citra yang melambangkan sebuah generasi tertentu.

Ivan Lanin mengumpulkan recehan bahasa yang berserakan di lini masa media sosial untuk kita nikmati bersama dalam buku ini, sebagai hiburan sekaligus penambah pengetahuan yang penuh cita rasa.

***

Awal mula aku memutuskan membeli buku ini, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengikuti webinar literasi bersama Uda Ivan. Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, bahwa bulan Juli lalu, aku benar-benar mengalami fly in July. Dalam artian keranjingan belajar. Kuikuti banyak webinar, mulai webinar yang berfungsi untuk menambah SKP (barangkali teman-teman sejawat paham), webinar hanya sekadar pengetahuan, hingga webinar yang benar-benar memuaskan rasa ingin tahuku di bidang literasi.

Setelah mendalami ilmu yang diberikan, mengerjakan tugas dan mendapatkan banyak koreksian, barulah kemudian buku ini akhirnya tiba. Lama belum juga kubuka dari segelnya, akhirnya kuikutkan dalam waiting list buku yang harus kubaca minggu ini. Hmm, are you sure, Em? Sementara telah lama kunikmati tirah baring dikarenakan sakit yang menjadi parah dua hari terakhir. Baru kemudian pada hari Sabtu, 22 Agustus 2020, kuniatkan membuka segelnya (finally), and you know what?

Gila! Penjabarannya ketjeh abis! Beda banget sama buku pelajaran Bahasa Indonesia. Yang ada, hatiku malah bertanya-tanya, ini buku komedi apa bukan, sih? Baru beberapa halaman saja sudah berhasil membuatku terkekeh. Namun tetap mendapatkan ilmu mengenai penggunaan bahasa.

Contoh saja pada halaman ke-2, pada buku ini. Kalau kita menggunakan bahasa Inggris, betapa panjangnya kalimat yang harus diucapkan, sementara pada bahasa Indonesia, cukup satu kata, “kan!” Haha. Bagaimana aku jadi tidak tertawa membacanya!

Buku Recehan Bahasa
Sumber: dokumen pribadi

Dari buku ini, aku bisa mendapatkan pengetahuan baru, misalnya asal mula beberapa kata alay, pengulangan huruf cukup tiga kali, kata dasar “mengerti” adalah “erti”, dan lain sebagainya.

Aku pajang satu halaman lagi, yang juga membuatku tertawa.

“Mengganti” adalah “mengubah”. Sementara “merubah” artinya menjadi rubah.
Percis! Baru-baru ini masih juga kutemukan kesalahan penulisan saat mengedit tulisan di beberapa judul antologi.

Buku Recehan Bahasa
Sumber: dokumen pribadi

Okay, fix! Yang pasti, buku ini sangat pantas menjadi panduan, umumnya bagi seluruh pengguna bahasa Indonesia, khususnya bagi kita yang mengaku penulis.

Kukira singkat saja review-nya, karena selebihnya harus teman-teman pelajari secara langsung. Please, forgive me, karena belum banyak mempraktikkan penulisan sesuai kaidah bahasa seperti pada review buku kali ini.

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan