Sumber: Juproni

Selembar Surat Lusuh oleh Nopiranti

Selembar Surat Lusuh

(Nopiranti)

Wati bergegas menyelesaikan doanya selepas dua rakaat Duha. Bukan tak mau berlama-lama bermanja pada Sang Khaliq di pagi yang mulai menghangat itu. Namun ingatan akan dua ember cucian yang dia simpan di teras depan telah membuatnya risau. Wati tak mau jika Ibu mendahuluinya menjemur baju-baju basah itu.

Setengah berlari Wati memburu ke luar rumah. Telat 5 menit saja, mungkin Ibulah yang akan mengerjakan semuanya. Ibu yang badannya semakin ringkih dari hari ke hari. Kaki kanannya yang sering sakit yang membuat Wati selalu khawatir. Rematik dan keropos tulang menyerang lutut Ibu sejak tiga tahun lalu.

“Ibu bantu ya, Neng,” kata Ibu sambil tangannya terulur hendak mengambil jemuran.

Dengan halus Wati menolak tawaran Ibu. Cepat-cepat ember cucian itu dia angkat dan dijauhkan dari jangkauan Ibu.

“Ibu duduk saja ya. Berjemur, biar badan Ibu hangat,” ucap Wati sambil membimbing Ibu menuju kursi.

Sambil melanjutkan lagi menjemur baju, benak Wati berkelana, mengembara pada masa lima tahun ke belakang. Saat Bapak masih ada bersama mereka di rumah ini. Ibu juga masih sehat saat itu. Masih bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman keluarga Pak Bagja, pegawai kejaksaan yang ramah dan baik hati.

Rumah mereka berlainan desa. Setiap subuh Ibu berangkat naik angkot menuju rumah majikannya. Sampai Asar saja Ibu diwajibkan membantu di sana. Bersih-bersih, mencuci, menyetrika, dan masak. Setelah semua selesai Ibu boleh pulang. Dari hasil bekerja itulah setiap bulan Ibu bisa ada pemasukan untuk membantu biaya sekolah Wati di SMP dan Iwan, adik bungsunya yang masih duduk di bangku SD.

Dari upah kerja di rumah Pak Bagja jugalah Ibu membiayai keperluan hidup sehari-hari yang jarang Ibu peroleh dari Bapak. Bukan karena Bapak pelit. Namun kondisi fisiknya yang lemah akibat penyakit paru-paru yang menggerogotinya menyebabkan Bapak tidak bisa bekerja mencari nafkah.

Ibu tidak pernah mengeluh dengan kondisi itu sebenarnya. Jikapun sesekali terdengar Ibu menggerutu, Wati anggap itu wajar saja. Sekadar mengeluarkan rasa penat dan lelah setelah seharian bekerja di luar rumah. Dilanjutkan dengan menyelesaikan pekerjaan di rumah sendiri.

Wati tahu Ibu ikhlas menjalani semua perannya.
Namun pikiran Bapak ternyata tidak sama. Bagaimanapun naluri laki-lakinya sebagai pemimpin rumah tangga tetaplah menyala. Bapak merasa tidak enak hati telah menyusahkan dan tidak bisa menafkahi istri dan anak-anaknya.

Hari itu, selepas Ibu berangkat ke rumah Pak Bagja, Bapak pun pamit pada Wati dan Iwan yang sedang bersiap-siap berangkat sekolah.

“Bapak pergi dulu ya. Doakan Bapak bisa dapat pekerjaan,” ucap Bapak sambil mengelus kepala Wati dan Iwan dengan lembut. Wati pun mencium tangan Bapak penuh takzim seraya melantunkan doa terbaik di dalam hatinya.

Wati tak menyangka jika itulah ciuman tangan terakhirnya pada Bapak. Karena sejak hari itu Bapak tidak pernah pulang lagi ke rumah. Sejak hari itu pula kesehatan fisik Ibu mulai terganggu. Ibu jadi jarang makan dan sulit tidur nyenyak. Benaknya tak henti menyalahkan dirinya sendiri yang merasa telah gagal menjadi seorang istri hingga suaminya pergi begitu saja meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

Rasa kesal dan marah juga sama besarnya menggelayut di hati Ibu. Tanya tak henti menguntai tapi tak satupun menemui jawab. Hanya kenapa, kenapa, dan kenapa saja yang setiap hari Ibu gumamkan pada dirinya sendiri. Tumpukan resah itu Ibu pendam sendiri. Ibu membenamkan diri pada pekerjaan. Selepas pulang dari rumah pak Bagja, Ibu lalu menyibukkan diri di dapur membuat rempeyek kacang dan ikan asin untuk dititip jual ke warung-warung tetangga.

Sampai larut malam biasanya Ibu baru selesai. Istirahat sebentar sebelum dini hari Ibu terbangun lagi. Selepas tahajud dan tilawah, Ibu sibuk lagi beres-beres rumah dan masak untuk untuk bekal Wati dan Iwan seharian di tinggal kerja.

Wati sering minta supaya Ibu tidak terlalu cape bekerja di rumah. Wati sendiri sudah bisa mengerjakan semuanya. Namun Ibu selalu berkata bahwa tugas Wati dan Iwan adalah fokus belajar saja agar mereka mendapat ilmu yang banyak dan berkah.

Wati pun mengalah. Wati tahu jika kesibukan itu Ibu lakukan untuk mengisi waktu agar tak ada celah bagi Ibu untuk melamun dan menyiksa diri dengan membiarkan prasangka buruk menguasai benaknya.

Setiap doa pasti akan mewujud nyata jika waktunya telah tiba. Begitupun dengan harapan yang tak pernah henti dipanjatkan Ibu, Wati, dan Iwan agar Bapak bisa pulang kembali berkumpul bersama mereka lagi di rumah. Dua bulan yang lalu Allah mewujudkan fisik Bapak pulang kembali ke rumah. Namun ruh Bapak sudah tenang di alam yang lain.

Bagai disengat petir, kedatangan ambulan siang hari itu, sontak membuat Ibu limbung. Sesaat setelah melihat sejenak jenazah Bapak, Ibu kehilangan kesadaran. Tubuh lemahnya tak mampu langsung mencerna duka nestapa itu.

Berjam-jam kemudian, saat proses penguburan Bapak telah selesai, Ibu baru sadarkan diri. Air mata kembali deras mengalir. Lisannya terus memanggil-manggil Bapak. Suara parau Ibu baru senyap setelah seorang kerabat memberikan sebuah bingkisan yang dititipkan oleh petugas pengantar jenazah dari salah satu rumah sakit di kota Bogor. Satu kresek uang berjumlah 10 juta rupiah dan selembar surat yang kertasnya sedikit lusuh.

Nining, hampura Akang nya. Ieu artos 10 juta hasil Akang damel di Bogor salami ieu. Anggo kanggo Nining jeung barudak. Hatur nuhun kanggo sagala rupi kasaean Nining. Sakali deui hampura Akang nya. (Nining, maafkan Akang ya. Ini uang 10 juta hasil Akang kerja di Bogor selama ini. Pakai uang ini untuk keperluan Nining dan anak-anak. Terima kasih untuk semua kebaikan nining. Sekali lagi maaffkan Akang ya).

Hari ini, dua bulan berlalu sejak kejadian mengharu biru itu. Ibu sudah tidak bekerja lagi di rumah pak Bagja. Dengan uang yang Bapak tinggalkan, Ibu membuka warung kecil-kecilan di depan rumah. Dibantu Wati dan Iwan, Ibu jualan nasi uduk, bubur ayam, aneka gorengan, gado-gado,dan berbagai makanan kecil. Cukuplah untuk membantu keperluan sehari-hari mereka.

Dengan segenap ketegaran yang tersisa, Ibu jalani hari-hari dengan pikiran yang lebih ringan dan hati yang lebih ikhlas. Karena Ibu yakin, semua yang terjadi ada dalam izin Allah, Rabb semesta alam, sebaik-baik pengatur kehidupan.

Sabtu, 14 November 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan