Secangkir Kopi CINTA oleh Nopiranti

Secangkir Kopi Cinta

(Nopiranti)

Entah dari mana harus mengurai benang kusut ini. Dalam benak Fery, semua kekacauan ini istrinyalah penyebabnya. Karena Wita ceroboh. Tidak telaten merawat anak. Sampai buah hati pertama mereka jatuh sakit. Panas tinggi. Kejang berkali-kali. Mengganggu syaraf otak. Pendengaran dan pita suaranya ikut terganggu. Putri kecil mereka terancam tak bisa mendengar dan sulit berbicara.

Sementara di pikiran Wita, justru akar permasalahannya ada pada diri Fery yang arogan. Laki-laki yang hanya mau menang sendiri. Hanya bisa berdalih sibuk mencari nafkah demi keluarga. Sementara saat keluarga yang dia bela itu membutuhkan uluran tangan hangat di kala resah dan gundah, dia tak pernah ada mendampingi. Wita merasa lelah berjibaku sendiri dengan keadaan yang menimpa.

Jadilah rumah tangga mereka dilanda badai. Tak ada hari tanpa pertengkaran. Tak ada usaha untuk meredam ego masing-masing. Tinggallah Kasih, putri kecil mereka yang menjadi korban. Dalam keheningan pendengaran dan kebisuan lisan, bening mata dan lembut rasa hatinya bisa menyimak dengan baik. Ada penolakan keras atas kehadiran dirinya.
Ibu nampak semakin enggan mengurus segala keperluannya. Ayah seperti jijik melihat keberadaan sosoknya.

Namun kemudian Kasih merasa bersyukur saat pertengkaran ayah dan ibu semakin berkurang. Bahkan tak pernah terjadi lagi sejak adik laki-lakinya lahir dengan segala kesempurnaan bentuk dan fungsi tubuh. Ayah dan ibu terlihat begitu gembira. Mereka sangat menyayangi adik yang begitu tampan dan menggemaskan dengan celotehan riangnya yang selama ini tak pernah ayah dan ibu dengar dari mulut kasih. Kedua orang tuanya seperti melupakan kehadiran Kasih. Dia semakin tersisih dalam sunyi di rumahnya sendiri.

Namun hati Kasih begitu lembut. Dia tak marah. Kasih justru merasa dia harus tahu diri. Dia lebih memilih banyak diam di pojok kamarnya. Menyibukkan diri dengan kertas dan pensil warna. Menggambar aneka bentuk indah benda-benda yang nampak di sekelilingnya. Hiburan yang mampu menghangatkan jiwa raganya.

Kasih menciptakan dunia indahnya sendiri. Dengan cerita bergambar yang dia susun, Kasih mengusir sepinya dengan imajinasi yang terus dia bangun. Ada gambar sosok ayah yang selalu menggendongnya dengan hangat. Ada gambar sosok ibu yang setia menceritakannya dongeng-dongeng indah. Ada gambar rumah kecil nan indah berseri dengan taburan warna-warni bunga yang mekar di pelataran, tempat Kasih bermain riang mengejar kupu-kupu atau berguling-guling senang di atas rumput hijau.

Dalam gambarnya, ada sosok Kasih, anak kecil yang ceria dan bahagia bisa mendengar segala bunyi dan mengutarakan segenap rasa dengan bebas. Bukan kasih yang tuna rungu dan tuna wicara seperti nyata adanya. Nyata yang sulit sekali diterima oleh ayah dan ibunya.

Neneknyalah yang kemudian hadir menjadi peri penyelamat. Kasih dibawa pindah ke rumahnya. Rumah yang menyambut Kasih dengan hangat. Berdua dengan nenek dari pihak ibu, Kasih melukis kisah indahnya di atas tapak kaki yang nyata terjejak di bumi. Bukan sekedar gambar indah di buku gambarnya saja.

Nenek memperlakukan kasih dengan penuh cinta. Kekurangan Kasih tak pernah menjadi beban dan menimbulkan rasa malu. Nenek selalu dengan bangga menggandeng Kasih ke tempat umum. Diperkenalkannya Kasih pada tetangga dan teman-teman pengajian nenek.

Kasih bahagia. Dunia tak lagi terasa sempit. Apalagi sejak Nenek mendaftarkan Kasih bersekolah di sebuah SLB. Meski Nenek harus banyak berkorban uang untuk biaya pendidikan Kasih yang tidak murah. Terutama untuk ongkos transport. Jarak sekolah yang jauh membuat Kasih harus diantar jemput oleh ojeg langganan.

Semua pengorbanan Nenek tidak Kasih sia-siakan. Dia belajar dengan rajin dan tekun. Semua ringan saja kasih lakukan karena Kasih merasa begitu beruntung bisa bertemu dengan teman senasib. Berjumpa dengan guru-guru hebat yang mengajarinya banyak pengetahuan dan keterampilan yang selama ini tidak pernah Kasih bayangkan akan bisa dia lakukan.

Selama ini di benaknya lebih banyak jejalan kata pesimis dari ayah, ibu, dan orang-orang yang tidak memahami kondisinya. Mereka menanggap Kasih lemah, tak berdaya guna, tak bisa diajari, dan tak akan mampu sejajar dengan teman-temannya yang tidak memiliki keterbatasan fisik.

Kasih bertekad ingin membuktikan pada semuanya bahwa hadirnya juga bisa memberi arti. Bisa memendarkan pelangi indah bagi alam sekitarnya. Tekad itu Kasih buktikan dengan belajar dan terus belajar.

Dengan mengikuti bimbingan dari guru-gurunya, Kasih menemukan apa yang menjadi minatnya. Dia suka menggambar dan membuat aneka prakarya terutama kerajinan gerabah. Sampai sekarang Kasih kelas 10, dia dan beberapa teman yang memiliki minat yang sama terus tekun mengasah kemampuan mereka pada dua bidang itu.

Usaha Kasih dan teman-temannya berlatih dari tahun ke tahun membuahkan hasil. Kemampuan menggambar mereka mendapatkan apresiasi. Cerita bergambar yang selama ini mereka buat ternyata dibukukan oleh pihak sekolah.

Saat buku mereka dipromosikan di akun media sosial milik sekolah, Kasih dan teman-temannya kebanjiran pujian dan apresiasi. Banyak yang berminat memiliki buku komik hasil karya mereka.

Begitupun dengan karya gerabah yang mereka buat. Beraneka bentuk piring, gelas, teko, hiasan dinding, pot bunga, dan perkakas lain yang dipromosikan melalui media sosial juga mendapat respon luar biasa dari masyarakat. Pesanan demi pesanan pun berdatangan. Membuat lukisan senyum abadi menghias wajah-wajah ceria Kasih dan teman-temannya.

Dengan kerja keras, semangat, keyakinan, dan pendampingan segenap cinta yang para guru berikan, Kasih dan teman-temannya telah memulai jalan terang mereka merajut masa depan yang indah. Masa depan yang oleh sebagian orang dikira akan suram dan mendung untuk orang-orang seperti Kasih yang ditakdirkan hidup dengan keterbatasan fisik.

Mereka lupa. Fisik boleh terbatas. Namun hati yang tetap lapang, pikiran yang selalu tenang dan berbaik sangka akan semua ketetapan Allah, akan mengantarkan langkah pada kemudahan dan keberkahan.

Allah yang menjamin rezeki semua makhluk. Jika Allah berkehendak menjadikan mereka terbatas secara fisik, Allah pasti telah melebihkan fungsi yang lain.

Kasih telah merasakan kasih sayang Allah Yang Maha Indah itu. Meski semesta tetap sunyi di pendengarannya, namun hati dan benaknya tak pernah sepi, selalu riuh oleh rasa bahagia dan rasa syukur yang tak henti terlantun pada Yang Maha Kuasa.

Kebahagiaan Kasih terasa semakin sempurna saat melihat ayah dan ibu mulai berubah sikap. Mereka semakin rajin datang menemuinya di rumah nenek. Membawakan aneka oleh-oleh. Tersenyum, menyapa, bercerita, duduk berdekatan, bahkan tak canggung lagi memeluk dan mencium Kasih.

Ayah dan Ibu telah menyesali perbuatan mereka yang selama ini tidak bisa menerima kondisi Kasih. Mereka baru menyadari bahwa merekalah sebetulnya yang memiliki keterbatasan. Keterbatasan iman, ilmu, dan kesabaran dalam menerima ketetapan Allah.

Kasih merasa begitu berlimpah berkah. Hatinya penuh dengan cinta. Cinta yang kemudian dia abadikan pada sebuah hasil karya yang indah. Tiga buah cangkir gerabah berbentuk hati Kasih buat sepenuh rasa. Dia persembahkan untuk ayah, ibu, dan nenek tercinta.

Minggu pagi yang cerah menjadi saksi keindahan itu. Saat Kasih membuatkan secangkir kopi cinta yang dia seduh dengan segenap cinta dalam cangkir gerabah berbentuk cinta yang dia buat dengan limpahan cinta.

Senyum yang terkembang dari semua wajah yang berbinar ceria pagi itu telah menunjukkan bahwa hati-hati yang selama ini terpisah oleh keegoisan, sudah menyatu kembali dalam ikatan cinta yang semoga kekal abadi selamanya. Ikatan keluarga.

Kamis, 3 Desember 2020.

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan