Rumah Sakit

Seandainya Para Pekerja WFH (Work From Hospital) Kelelahan oleh Emmy Herlina

Seandainya Para Pekerja WFH (Work From Hospital)

Aku boleh jujur, enggak? Saat ini aku lelah. Ada aturan baru yang berlaku di tempat kerjaku. Mulai dari posisi jalan masuk yang harus memutar dikarenakan lokasi screening penderita penyakit paling ditakuti abad ini dipindahkan tempat di bawah tempat kerjaku. Haha. Apa harus kusebut nama penyakitnya apaan? Aku saja kalau bisa menghindari membahasnya selain untuk keperluan pekerjaan dan kuliah.

Kemudian ada sedikit perubahan pada alur kerjaku. Yang ini sebenarnya tidak terlalu masalah. Karena perubahan atau inovasi baru di tempat kerja merupakan hal yang biasa aku jalani.

Tapi yang jelas di titik ini, aku merasa butuh break. Aku butuh beristirahat. Di saat pekerja yang lain bisa menikmati di rumah saja karena WFH. Kalau aku WFH-nya lain. Work From Hospital.

Hospital, rumah sakit, tempat orang sakit berkumpul. Betapa banyak masyarakat menghindari rumah sakit di masa sekarang. Bahkan tukang ojek online sangat waspada kalau menerima pesanan dari dan menuju tempat kerjaku. Banyak orang menjadi paranoid, enggak mau dekat-dekat. Walaupun ada juga sih yang bersikap masa bodoh.

Kadang mungkin terlupakan, bahwa pekerja rumah sakit pun manusia. Bisa saja kelelahan. Bisa saja jenuh. Butuh istirahat, makan, minum. Butuh selalu untuk menjaga kesehatan diri karena hal utama yang wajib kami lakukan sebelum melakukan pelayanan adalah: aman diri. Bekerja menggunakan APD (Alat Pengaman Diri) sesuai standar yang berlaku.

Biasanya ketika aku mulai merasa jenuh seperti ini, hiburanku adalah memanjakan diri di salon dan spa. Tapi tentu saja, hal itu tidak bisa kulakukan sekarang. Bahkan sebisa mungkin kuhindari keluar rumah, kalau bukan urusan pekerjaan. Sebisa mungkin, jika membeli sesuatupun secara online atau memanfaatkan jasa ojek online.

Kalau lagi kumat halunya, bisa saja aku berandai-andai. Seperti, bolehkah aku yang menggantikan posisimu, bekerja dari rumah saja, seandainya diperbolehkan?

Di saat seperti ini, anak-anakku juga tetap di rumah. Keduanya menjalani belajar di rumah, ditemani tontonan TVRI, dan tugas-tugas lainnya dari guru masing-masing. Apakah belajarnya perlu dibimbing? Tentu saja. Anakku yang satu masih kelas 1 SD, sementara adiknya duduk di bangku TK. Keduanya belum kuberikan gawai, dan akulah yang mengawasi tugas mereka di rumah, melalui HP-ku.

Kadang terbayang, betapa nyamannya orang tua yang bisa bekerja dari rumah dan bisa mengawasi penuh anak-anaknya belajar di rumah. Hmm.

Setiap pulang bekerja aku selalu mawas diri. Khawatir membawa kuman dari luar. Kulakukan prosedur pembersihan diri sebaik-baiknya, sebelum bertemu dengan keluargaku, terutama anak-anakku.

Apalagi bagi teman-teman yang langsung berhadapan dengan pasien. Kupastikan lebih mawas diri lagi dari yang kulakukan. Aku tahu teman-teman lainnya juga sama sepertiku, punya keluarga yang harus dilindungi. Aku tahu teman-teman juga sama seperti manusia pada umumnya, bisa saja merasa bosan atau lelah.

Tak perlulah ditambah lagi dengan attitude buruk dari pasien dan keluarga yang kadang kami terima selama bekerja. Tak perlulah ditambah dengan kesulitan mendapatkan APD terutama yang ditempatkan di zona merah.

Baca juga https://parapecintaliterasi.com/catatan-hati-seorang-suami-oleh-siti-rachmawati-m/

Tak perlulah ditambah dengan sakit hati bagi kami, khususnya kaum perempuan, karena mendapatkan sindiran bahwa perempuan itu baiknya di rumah saja. Well, you can’t see anything just from one side saja. Memang kalian, para ibu rela, anak perempuannya diperiksa fisiknya secara komprehensif oleh lelaki, dikarenakan tidak ada perawat perempuan yang bisa melayani? Memang kalian, para suami rela, istrinya ditolong melahirkan oleh lelaki, tanpa adanya indikasi, dikarenakan tidak ada bidan perempuan yang bisa melayani? Relakah yang perempuan berada di ruang isolasi, berdua saja dengan lelaki dalam ruangan, dikarenakan tidak adanya Cleaning Service perempuan?

Lantas, seandainya Para Pekerja WFH merasa kelelahan, apakah masyarakat mampu menggantikan? Tidak perlu. Tapi diharapkan untuk semua ikuti semua aturan prosedur yang berlaku. Minimal pedulilah pada kesehatan diri sendiri. Itu akan sangat memudahkan kami.

Bandar Lampung, 23 April 2020

Jumlah kata: 593 kata

nulisbareng/Emmy Herlina

0Shares

5 comments

Tinggalkan Balasan