Window View

Sahabat baik (Tentang menyayangi diri sendiri) oleh Ade Tauhid

Sahabat baik
(Tentang menyayangi diri sendiri)

By Ade Tauhid

“Sahabat adalah dia yang mengetahui apa saja tentang dirimu, seburuk apapun kamu. Tapi dia tetap menyayangimu.”

Nindi namaku, aku berbobot 80 kilo dengan tinggi badan 150 cm. Mirip buntelan kentut, begitu aku sering di-bully.

Sakit hatiku rasanya. Body shaming yang sering kuterima membuat aku kadang patah arang, kecil hati dan tidak percaya diri.

Tapi aku mempunyai seorang sahabat, Sarah namnaya, bobotnya dan tingginya proporsional. Bodynya keren.

Aku ngiri , tapi kami tetap bersahabat baik. Karena Sarah tidak seperti yang lain, dia tidak pernah membullyku.

Kalaupun pernah, dia cuma main main. Seperti sore ini, ketika aku sedang duduk duduk dikantin sambil menikmati keripik kentang.

“Dor!”Sarah mengagetkanku dengan suaranya yang lumayan cempreng.

Lalu duduk di sampingku dan mencomot kripik kentangku yang sedang kupegang.

“Makan terus ni, nanti tambah …”kata Sarah tak meneruskan kalimatnya.

“Gendut!”sambungku.

“Haha.

Sarah tertawa, aku pura pura cemberut. Ya cuma Sarah saja yang kuperbolehkan bilang aku gendut. Cuma Sarah yang tidak membuatku sakit hati.

Meski body nya bikin aku ngiri, tapi dia tetap sahabatku.
Dia yang selalu mengajakku untuk lari pagi, olahraga sepeda, mengatur pola makan biar bodyku yahud.

Tapi akunya yang selalu malas dan selalu belum siap.

Diet? Itu artinya menahan diri untuk tidak makan. Sedang aku hobinya makan. Manalah bisa.

“Ayolah! Kita mulai besok ya programnya. Biar kamu langsing!” Kata Sarah suatu pagi.

Dia rela pagi pagi sudah samperi aku lagi mengajakku berolahraga lari pagi.

Tapi karena hari ini aku belum siap, aku tidak jadi ikut Sarah.

“Kalau begitu besok oke?”kata Sarah.

Aku mengangguk.
“Kalau gue enggak malas ya.”jawabku.

“Mau kapan lagi ndi? Biar sehat aja dulu, soal langsing mah bonus.”kata Sarah lagi.

“Iya iya.”kataku.

“Hari ini jadi mulai diet ya!”kata Sarah lagi.

“Jangan sekarang sar.”kataku.

“Mau kapan lagi ndi. Badan lu makin melar. Katanya lu mau kayak gue.”

Aku tersenyum kecut.

Terus terang aku iri dengan body yang dimiliki sarah.

Aku malah sering berpikir kenapa Tuhan tidak adil padaku? Sarah diberi body yang sempurna plus wajah yang cantik, sedang aku gendut wajahku juga enggak secantik sarah.

“Sayang, lu tuh cantik ndi. Coba deh lu ngaca. Kalau lu kurus dikit aja, pipi lu akan langsung tirus, mata lu yang belo itu makin terlihat indah.”kata sarah dulu.

Iya cuma Sarah yang selalu menyemangati ku agar aku mau diet. Diet itu sehat.

Terus terang dengan body yang delapan puluh kilo ini membuat dadaku sering “engap” , nafasku sering tersengal, apalagi kalau harus turun tangga kampus. Aku cepet sekali capek.

Padahal sih aku sengaja turun naik tangga kampus sering sering, biar sekalian berolahraga.

“Mana bisa!”kata Sarah memarahiku.
“Turun naik tangga begitu yang ada badan lu jadi lemes, sudah begitu lu laper. Trus makan. Gendut lagi deh.”kata Sarah sebal.

Aku cuma bisa nyengir. Bagaimana ini rasanya manabisa aku diet, ngurang ngurangin makan. Bisa kelaparan aku.

Rasanya biar aja deh gendut.
Tapi kupingku juga enggak ikhlas kalau dibully terus. Bagaimana dong? Mana gara gara body melar begini, tak satupun cowok dikampus yang melirik aku.

Aku memang terlihat kontras banget sama Sarah, seperti angka sepuluh.

Tapi kalau membayangkan harus diet, tidak makan dan diatur atur dengan pola makan. Mana aku sanggup.

“Please, aku tadi sudah mendaftarkan mu ditempat program kebugaran.”tulis Sarah diwasap.

“Lihat nanti.”jawabku

“NINDI!!!”tulis Sarah dengan huruf kapital dan tanda seru yang banyak.

“Love yourself!”tulisnya lagi.

“Sayangi diri lu!’tambahnya lagi

“Maksud lu Sar?”tanyaku

“Nindi, kalau ada orang yang cinta sama elu. Dia bakalan melakukan apapun buat orang itu. Begitu juga kalau lu cinta sama diri lu. Lu pasti mau melakukan apapun untuk diri lu. Iya enggak?”

Sarah sepertinya gusar. Akunya memang enggak tau diri.

“Selama body lu gede. Apa yang lu rasain ndi? Lu engap Khan? Lu cepet capek, jantung lu berdetak cepat, lu bisa sakit jantung. Belum lagi lu bisa kena kolesterol tinggi, karena lemak lu ada dimana mana, nyumbat jalan darah elu! Lu bakal sakit. Gue enggak mau lu sakit NINDI!”tulis Sarah dengan nada marah.

“Pokoknya gue gak mau elu nolak lagi. Besok gue jemput, gue anter sampe tempat kebugaran.”tulisnya lagi sebelum sempat kujawab.

“Iya SAR. “Jawabku dengan emoji love.
Sarah enggak bales lagi wasapku.

Kutaruh handphone ku disisi tempat tidur.
Betul kata Sarah, aku selama ini memang tidak mencintai diriku sendiri.

Aku tidak memperhatikan kesehatanku, aku cuek dengan bodyku yang setiap harinya melar se ons dua ons, kalau sebulan aku bisa bertambah lima kilo bahkan lebih.

Mungkin karena seringnya dibully membuat aku cuek dan tidak peduli.

Aku cuma selalu ngiri dengan tubuh Sarah, tanpa mau berusaha seperti dia. Aku malah sering menyalahkan Tuhan dengan keadaanku ini.

Ampuni aku ya Tuhan.
Aku berjanji besok aku akan mulai diet, aku akan ikut program kebugaran seperti yang disarankan Sarah.

Semoga berhasil.
Dan aku yakin berhasil.

Karena kata Sarah, mulailah dengan meencintai diri sendiri.

Bandarlampung, Kamis 24 Des 2020
Ade Tauhid/Nubar

0Shares

Tinggalkan Balasan