Saatnya Bertamasya dengan Imajinasi (Review Fruit Salad karya Meyda Sultan Darusman)

Judul: Fruit Salad
Penulis: Meyda Sultan Darusman
Penerbit: Rumah Media
Jenis: Antologi Cerpen
Cetakan: Maret 2020
ISBN: 978-623-7809-22-7

“Pernah tidak? Kita membayangkan saat kita membaca sebuah cerita lalu tanpa sadar kita ikut terhanyut di dalam alur ceritanya, bahkan seakan ikut berada di dalam tempat cerita tersebut? Pastinya pernah dong, ya?

Nah, kali ini penulis ingin mengajak Anda semua berkeliling Nusantara bahkan sampai keluar negeri. Melalui latar belakang tempat dari tiga puluh cerita yang penulis sajikan, semoga saja mampu membawa angan kita melayang jauh. Dan pada akhirnya setelah membacanya ada pendar rasa yang indah di dalam hati, semoga!”

***

Berisi kumpulan cerita pendek, buku ini menyajikan berbagai genre cerita yang berbeda. Sebut saja genre drama, roman, serta horror. Meskipun tetap saja drama-lah yang paling dominan. Membacanya akan menjadikanmu tenggelam dalam berbagai sensasi emosi berubah-ubah. Dikarenakan teknik showing-nya yang pas dan tidak muluk-muluk, berbagai adegan yang digambarkan mudah untuk dibayangkan. Ada juga cerita yang menggunakan ending terbuka, sehingga pembaca bebas membayangkan kelanjutannya seperti apa.

Ini salah satu contoh cerita yang bisa mengaduk emosi:

“Malam ini aku sedang menunggu suamiku pulang dari rumah istri keduanya. Sudah setahun ini dia menikah lagi. Tentu saja semua atas izinku. Bahkan aku yang menyuruhnya menikah lagi. Tidak mudah memang. Tapi inilah kami sekarang.” (Istri untuk Suamiku halaman 91)

Ada lagi cerita seru yang mengingatkan pada satu judul lagu:

“Senja mulai berganti malam. Tejo dan Surti yang sedang dimabuk rindu sudah tak menghiraukan apapun. Tak ingat lagi pesan emak bapak kalau magrib harus pulang karena di luar banyak setan.” (Ti dan Jo halaman 57)

Tapi, kalau mau ditanya yang mana menjadi cerita favoritku sendiri adalah ….

“Setiap hari aku hanya mampu memandangnya. Tanpa bisa menyapanya, apalagi menyentuhnya. Sekali waktu pernah aku menyentuh rambutnya di kantin. Alih-alih tersenyum padaku Rey malah tersenyum pada Alena yang duduk di belakangnya.” (Aku di Sini, Rey halaman 81)

Selebihnya, bisa teman-teman langsung baca sendiri ya. Akhirnya, untuk teman-teman yang menyukai bacaan ringan, tidak suka buku tebal-tebal, atau baru mau belajar menyukai buku, buku ini akan menjadi pilihan yang tepat.

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan