Saat Senja Datang oleh Nopiranti

Saat Senja Datang

(Nopiranti)

Kali ini saya menyimak puisi karya founder Rumedia, Pak Ilham Alfafa. Puisinya berjudul Memburu Ketakutan dan dibacakan oleh Kang Aan. Bukan hanya dibaca, tapi juga dikupas makna di balik setiap bait puisi itu.

Intinya puisi ini bercerita tentang ketakutan seorang hamba dalam menghadapi kematian. Bayangan tentang bagaimana kelak dia meninggal, di mana, sedang melakukan apa, semuanya membuat dia ketakutan. Memikirkan saat jasad telah berada di liang lahat, apa pula yang akan terjadi kelak. Siksa kuburkah? Atau nikmat kubur yang akan dirasakan? Sungguh semuanya membuat dia sangat ketakutan.

Takut menghadapi kematian tentu saja harus. Karena kematian adalah awal menuju kehidupan abadi yang harus sungguh-sungguh dipersiapkan. Baik dan cukup bekal kita di dunia, baik dan tenang pula hidup kita kelak di akhirat. Sebaliknya, jika hidup kita penuh dengan keburukan, bersiaplah menghadapi hidup abadi yang penuh siksa.

Jika kondisi terakhir yang kita hadapi nanti, tak akan ada waktu sedetikpun untuk minta kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan kita. maka, selagi kita diberi waktu, pergunakanlah kesempatan sebaik-baiknya. Jadikanlah kematian sebagai sebaik-baik nasihat. Jadilah orang yang pandai, yang mempersiapkan dengan baik bekalnya menuju kampung akhirat kelak.

Puisi “Memburu Ketakutan”

Terinspirasi dari puisi Memburu Ketakutan karya Pak Ilham Alfafa, saya coba menulis puisi bertema senada. Pengingat untuk diri sendiri agar sebaik mungkin mempersiapkan diri sebelum akhir menjelang.

Saat Senja Datang

Pagi-pagi yang lalu
Kurasakan takkan pernah sang waktu mengenal akhir
Begitu indah mentari menyongsong secercah senyum kehidupan
Begitu sejuk sang embun basuh rona merah wajah keceriaan
Begitu merdu sang burung kirimkan senandung tentang cinta dan kerinduan
Begitu syahdu semilir sang bayu mengantar langkah-langkah pasti raih cita
Ah, mengapa seja itu begitu cepat datang

Siang-siang yang lalu
Kukira detik-detik ini masih akan lama bersua batas
Masih kurasakan sengatan raja siang bakar semangatku
Masih kuingat pesona biru yang torehkan kenangan indah tentang kedamaian
Masih terekam jelas di mataku sentuhan peluh dan lelehan air mata yang jadikan aku mengerti bahwa hidup adalah perjuangan
Masih tertanam di hatiku bahwa siang-siang ini sejuta benderang harus mampu kuperoleh untuk terangi jalan-jalan yang akan ku tempuh di depan
Ah, terlalu dini senja menjemput

Belum kenyang kurasakan indah sang mentari
Belum kenyang kurasakan sejuk sang embun
Belum kenyang kunikmati merdu suara burung
Belum kenyang kunikmati syahdu sang bayu
Pintaku pada sang waktu jangan dulu bawa aku ke gerbang senja

Semangatku masih menyala membara
Kedamaian belum lagi utuh aku rengkuh
Buah perjuangan belum lagi berlimpah aku tuai
Masa depan belum pula kunikmati sepenuhnya
Pintaku pada sang waktu berdetaklah terus hingga semua puas kureguk

Namun senja tak bisa menunda datangnya
Ia hadir dan membawa serta siapapun yang dikehendakinya
Ia tunduk dan patuh pada titah pencipta-Nya
Tak pandang apakah jiwa itu tersenyum siap menyongsongnya dengan ceria
Atau jiwa itu meringis menangis ketakutan berharap diberi waktu sedetik saja untuk bertahan

Sekali senja datang, sekejap semua berakhir
Terang atau gelapkah yang menyambut?
Damai atau mencekamkah yang mendekap?
Nikmat atau azabkah yang menemani?
Sungguh hanya pada Allah Rabbul Izzati saja jiwa yang lemah ini memohon ampunan dan pertolongan
Semoga saat kelak senja datang ia menyapa dengan ramah dan indah

Senin, 7 Desember

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan